Ustadz Firadi Nashrudin, Lc., M.Sy. Sebut Tiga Hal dalam Menyikapi Momen Idul Fitri
- 25 Juni 2018
- Posted by: Humas UM Metro
- Category: Uncategorized @id
UM Metro – Momen Idul Fitri 1439 H menjadi ajang untuk melebur dosa yang terukir selama ini dengan saling bermaaf-maafan antara satu sama lain, tak terkecuali di lingkungan Universitas Muhammadiyah Metro. Dengan digelarnya acara Silaturahmi dan Halal Bi Halal di kediaman Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Drs. Partono, M.Pd. menjadikan Civitas Akademika UM Metro memiliki kesempatan yang tepat untuk bersilaturahmi dan saling meminta dan memberi maaf.
Kesempatan ini semakin menarik dengan dihadirkannya salah seorang ustadz yang cukup terkenal di Kota Metro, Ustadz Fir’adi Nashrudin, Lc., M.Sy. untuk memberikan tausyiah mengenai cara menyikapi momen Idul Fitri 1439H tersebut, Sabtu (23/6/18).
Alumni Universitas Madinah ini menyebut ada tiga hal yang dapat dijadikan amalan dalam menyikapi momen Idul Fitri 1439 H yang menjadi hari kemenangan umat Muslim dunia ini. Menurutnya sikap yang pertama yang dapat dilakukan adalah mendasarkan ucapan Tahniah saat bersalaman sesuai dengan yang diucapkan Rasulullah S.A.W. kepada para sahabat.
“Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan, [Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apabila bertemu di hari raya, mereka mengucapkan kepada sebagian lainnya: Taqobbalallahu Minna wa Minka]. Karena diucapkan para sahabat dan Rasulullah tidak melarangnya, maka ini termasuk hadits taqriri. Yakni suatu perbuatan yang disetujui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga menjadi sunnah untuk umatnya,” ucapnya.
Dalam Fiqih Sunnah, sambungnya Sayyid Sabiq juga menjelaskan hal serupa. Bahkan ucapan ini tidak hanya untuk Idul Fitri, namun juga untuk Idul Adha. Hal ini didasarkan pada riwayat dari Jubair bin Nafir, ia mengatakan, “Apabila sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu pada hari raya, mereka saling mengucapkan taqabbalallahu minna wa minkum.”
“Lalu yang kedua, sikap kita terhadap momen idul fitri ini adalah berpuasa 6 hari di bulan syawal. Kita tahu bersama bahwa berpuasa 6 hari di bulan syawal memiliki keutamaan yang luar biasa sebagaimana yang termaktub dalam Hadits Riwayat Muslim no.1164 [Dari sahabat Abu Ayyub Al Anshoriy, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.],” jelasnya.
Sementara cara mempraktikkan puasa syawal ini dapat dimulai sehari setelah idul fitri atau pada syawal kedua secara berturut-turut hingga 6 hari. Atau bisa juga di pertengahan syawal atau diakhir syawal. Atau dengan cara mekombinasinya dengan puasa sunnah yang lain misalnya dengan puasa senin-kamis.
“Kemudian yang ketiga, menjaga hati agar selalu bersih. Ada lima cara yang harus kita lakukan dalam menjaga hati agar selalu bersih. Yang pertama hati kita harus senantiasa dibuka. Terbuka untuk mengetahui kebenaran. Karena hati yang tertutup senantiasa mendekat pada kekufuran,” paparnya.
Lalu yang kedua, hati kita selalu dibersihkan. Bukan dibersihkan dari kotoran debu, tapi hati kita senantiasa dibersihkan dari kotoran perbuatan maksiat. Karena hati yang kotor akan membekaskan titik hitam di hati yang itu akan berefek pada wajah pemiliknya yang hitam juga yang tentu akan berefek kepada lingkungan sekitar.
“Untuk menyikapi hal ini, kita dapat mempraktikkan do’anya nabi Ibarahim ‘Alaihi Salam [Ya Allah jangan jadikan hati ini kotor pada saat Engkau bangkitkan di mana pada saat itu tidak ada manfaat memiliki anak yang banyak kecuali orang yang menghadap dengan hati yang bersih],” ajaknya.
Sementara yang ketiga, sambungnya lagi, Hati kita harus selalu dilembutkan. Tidak ada bencana yang lebih besar dibandingkan orang yang memiliki hati yang kasar dan keras. Dan inilah yang dilakukan orang-orang bani Israil saat mereka diperintahkan untuk menyembelih sapi sebagaimana yang diperintahkan oleh nabi Musa. Tapi karena hati mereka yang keras, maka mereka memperolok-olok perintah Allah melalui lisannya nabi Musa. Sehingga Allah jadikan hati mereka bertambah keras.
“Lalu bagaimana cara melembutkan hati: sebagaimana yang ditanyakan oleh sahabat kepada Rasulullah, maka apa kata Rasulullah: Sering-seringlah mengelus kepala anak-anak yatim, dan sering-seringlah dekat dengan orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan,” himbaunya.
Lalu apa yang menyebabkan hati keras? Sebagaimana yang diriwayatkan Imam Tirmidzi,”Hati yang keras disebabkan karena lisannya kurang banyak berdzikir. Dan juga disebabkan oleh orang yang banyak berbicara yang tidak bermanfaat, berbicara yang jauh dari kata memuji Allah Subhanahu Wata’ala.
“Yang keempat, harus senantiasa menjaga hati yang sehat agar selalu berbaik sangka dan mudah menerima takdir. Orang yang tubuhnya sakit tidak akan mampu menikmati nikmatnya berbagai makanan yang lezat, begitu juga dengan orang yang memiliki hati yang sakit, maka mereka tidak akan bisa menikmati nikmatnya ibadah yang mereka lakukan,” katanya.
Dan hati yang sakit ini senantiasa dimiliki oleh orang-orang yang munafik. Sebagaimana yang terjadi di zaman Rasulullah, ada sahabat yang mensedekahkan kurma yang banyak di depan sebagian orang, lalu orang-orang munafik tersebut mengatakan, mereka ini hendak menyombongkan sedekahnya mentang-mentang mereka kaya. Sedangkan ketika ada sahabat lainnya yang bersedekah dengan hal sedikit, ia malah mencemoohnya, masa mau membeli syurga hanya dengan bersedekah seperti itu. Itulah sifat-sifat orang munafik.
“Dan yang terakhir, Hati harus ditajamkan. Sebagaimana mata pisau yang tajam maka ia mampu membelah apapun yang ditebasnya, begitu juga dengan hati yang tajam, maka ia mampu merasakan di mana posisi imannya sekarang sehingga ia senantiasa mendekatkan diri kepada Allah. Dengan hati yang tajam akan mudah menerima kebenaran dan sensitif terhadap keburukan. Maka apabila ada orang yang senantiasa hatinya condong kepada kemaksiatan maka hatinya saat itu sedang tumpul,” tukasnya. (AL-Bayurie¦Hum)
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.