Sosial Distancing and Home Activity, IMM Bisa Apa?

Opini – Ditengah carut marutnya Indonesia yang dihadapkan dengan berbagai masalah yang belum selesai, sekarang Indonesia dihadapkan dengan Virus Corona. Covid-19 kini dianggap sebagai permasalahan baru yang mampu membawa dampak besar bagi setiap lini kehidupan, baik ekonomi maupun pendidikan.

Virus yang sudah dinyatakan sebagai pandemi ini memang begitu menyita perhatian. Hingga pada Ahad, 15 Maret 2020, setelah dijejalkan dengan berbagai wacana dan berita mengenai jumlah positif corona, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan agar warga melakukan social distancing dan home ativity (aktivitas dirumah).

Social distancing atau pembatasan sosial merupakan bagian dari usaha yang dapat dilakukan untuk memutus penyebaran wabah. Caranya, dengan mencegah interaksi skala besar dari orang-orang disuatu wilayah. Hal yang minimal dilakukan pemerintah saat ini adalah meliburkan kantor dan sekolah, melakukan penutupan toko, tempat hiburan dan tempat-tempat lain, serta membatasi acara keagamaan yang mengharuskan terjadinya banyak interaksi dengan tujuan mencegah orang banyak untuk berkumpul dan berada dikerumunan.

Namun, orang-orang masih bisa bepergian dan meninggalkan rumah dengan memperhatikan pembatasan interaksi sosial dengan orang lain seperti menghindari transportasi umum dan menjaga jarak dengan oranglain setidaknya 1 meter. Sudah seharusnya, seiring dengan masifnya penyebaran virus corona dan bertambahnya pasien positif hampir setiap harinya, kita melakukan upaya demi pencegahan dan memutus rantai penyebaran wabah virus ini.

Sekilas, kebijakan ini memang tidak memberatkan. Akan tetapi, karakter warga +62 yang terkesan menyebalkan dan menjengkelkan membuat kebijakan ini sulit dilakukan. Pemerintah sudah memberikan kebijakan terbaik, akan tetapi masih ada beberapa kelompok yang tidak mengindahkan instruksi tersebut, mereka malah sibuk mengkritisi dan menonjolkan slogan sembari berkoar-koar bahwa mereka hanya takut pada Tuhan.

Lantas, bagaimana peran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ( IMM ) dalam menghadapi pandemi virus ini?

Sebagai organisasi yang erat kaitannya dengan rapat, diskusi, kajian, seminar dan agenda-agenda kemahasiswaan serta kemasyarakatan yang mengharuskan adanya kerumunan dan interaksi satu dengan lainnya, dalam situasi dan kondisi seperti ini, penting bagi seluruh kader IMM untuk mentaati pemerintah dan tidak banyak mengomentari kebijakan pemerintah disaat genting seperti ini.

Progam kerja IMM harus diganti yaitu ikut serta menyukseskan progam pemerintah. Sudah seyogyanya, kader IMM taat pada kebijakan yang membawa kemaslahatan. IMM dan organisasi lainnya terkesan menjadi garda terdepan dalam mengkritik kebijakan pemerintah yang menindas kaum marjinal, namun untuk kebijakan yang satu ini, peran IMM adalah mengindahkan kebijakan pemerintah mengenai social distancing.

Selain itu, kader IMM harus ikut serta memberikan edukasi kepada masyarakat terkait bahaya corona dan pentingnya #dirumahaja melalui media online. Bukankah, kehadiran IMM adalah untuk amar ma’ruf nahi mungkar, maka, situasi seperti ini harus tetap mampu menjadikan kader IMM sebagai pelopor menyampaikan kebaikan. Bukan berarti dengan adanya social distancing dan diliburkan instansi pendidikan menjadikan IMM harus menghentikan pergerakan, sebab, IMM bisa menggantikan diskusi dan kajian yang biasa dijalankan dengan berbasis online. Tidak hanya itu, kader IMM juga tetap harus mengkaji ilmu, menambah referensi bacaan meski dilakukan sembari rebahan. Karena, permasalahan semacam ini tidak menjadikan IMM menghentikan pergerakan.

Pergerakan yang kerap dilakukan di dunia kampus dan masyarakat, kini harus dilakukan menyesuaikan kondisi. Kader IMM bisa mengupayakan untuk tetap berdiam diri dirumah, akan tetapi keberadaannya harus tetap bisa dirasakan. (africanarguments.org) Melalui tulisan yang disebarkan dan menjadi informan untuk memfasilitasi masyarakat mengetahui informasi terkini mengenai corona dan hiruk-pikuk lainnya.

Selain itu, di daerahnya masing-masing, setiap kader IMM harus tetap berperan sebagai social control ditengah-tengah masyarakat, melalui edukasi dan memberi pengertian kepada masyarakat akan pentingnya budaya hidup sehat serta pembiasaan cuci tangan. Dimulai dari lini terkecil, diri sendiri, keluarga, tetangga dan sekitarnya. Tidak hanya itu, dalam kegiatan sehari-hari, bisa melakukan aktifitas menggunakan tangan yang tidak dominan yaitu tangan kiri atau siku untuk mengetok pintu, transportasi, turun dari tangga dan kegiatan lainnya. Melalui iktiyar seperti itu, kita bisa sama-sama mengalahkan pandemi corona.

 

Penulis: Renci (Mahasiswa Pendidikan Agama Islam UM Metro)



Tinggalkan Balasan