Sejarah Publik dan Urgensi Peradaban Industrialis

LamanOpini – Menyoal Kian Amboro, Sejarah Publik dan Pendidikan Sejarah Bagi Masyarakat yang terbit akhir Juni 2020, dalam sebuah jurnal Historis: Jurnal Kajian, Penelitian & Pengembangan Pendidikan Sejarah, seolah ingin memberitahu kita bahwa kajian sejarah dewasa ini mengalami pergeseran yang positif di muka publik.

Ia beranggapan, memasuki dua dasawarsa peradaban abad 21, yang ditandai dengan kemajuan teknologi tidak membuat sejarah sebagai suatu disiplin ilmu yang sebelumnya mendapat stigma kuno dan membosankan hilang dari pergulatan masyarakat modern. Justeru seiring dengan keadaan yang serba digital seperti sekarang, menurut Kian, minat masyarakat terhadap sejarah mengalami peningkatan.

Hal itu ia tandai dengan mencuatnya kepermukaan beragam diskusi bertema sejarah, peminat sejarah dari kalangan umum dan dari luar disiplin ilmu sejarah. Begitu juga dengan publikasi ilmiah dan tulisan bertema sejarah yang dibalut kedalam kerangka tulisan populer, hingga terbentuknya beragam komunitas pegiat sejarah di berbagai kota atau daerah di Indonesia.

Kian Amboro membuktikan kebenaran pendapatnya itu melalui studi literatur dan analisis deskriptif, lengkap dengan dukungan berbagai teori para pendahulunya yang memiliki minat dalam studi yang sama. Selebihnya ia mengakui dalam tulisannya ingin mengetengahkan sejarah publik -dengan ciri-cirinya seperti yang disebutkan di atas- sebagai metode untuk menjadikan sejarah hidup di tengah masyarakat luas.

“Sejarah publik adalah usaha melibatkan masyarakat atau publik dalam rangka merekonstruksi peristiwa masa lalu dan mengkomunikasikannya kembali kepada publik, atau sejarah dari, oleh-, dan ke- publik,” ungkap Kian, seperti yang tertuang dalam artikel tersebut.

Sampai sebatas ini saya mengira Kian Amboro menemukan sebuah kegairahan baru setelah melihat sejarah sebagai disiplin ilmu mulai banyak diminati masyarakat luas, berbanding terbalik dengan beberapa periode sebelumnya, sejarah hanya terlihat sebatas bahan kajian di lingkar mahasiswa, akademisi atau para peneliti yang bernaung di institusi atau departemen sejarah.

Tuduhan saya terhadapnya mungkin tanpa alasan, tapi setidaknya kita ingat ungkapan “apa yang kita lihat, kita dengar, kita baca dan apa yang kita alami” sedikitnya akan mempengaruhi pola pemikiran dan perbuatan kita sendiri.

Tak terkecuali Kian Amboro, sejak berstatus mahasiswa strata 1 hingga saat ini menjadi dosen pendidikan sejarah, pun sedang menempuh studi doktoral pada program pendidikan sejarah bisa dipastikan bila ia memiliki ambisi bahwa sejarah harus kembali hidup di hati masyarakat yang ia sebut-sebut sebagai pemilik dari sejarah itu sendiri.

Dan Sejarah Publik sebagai kajianya itu, saya kira sebagai perjumpaan yang tepat, istilah lainnya, gayung besambut antara ambisiusnya dengan situasi atau kondisi zaman yang memihak kepada sejarah sebagai kajian yang memberikan peluang kepada siapa saja yang ingin kembali mencari identitas.

Lebih jauh saya mencoba keluar dari kolam pemikiran Kian Amboro, selain untuk menghindari subjektifitas, saya rasa akan ada pandangan lain dikancah pemikiran masyarakat modern dalam memproyeksikan masa depan, apalagi menjelang masyarakat industri 5.0.

Pertanyaan mendasarnya adalah apakah masih relevan antara kesadaran sejarah dengan era digital seperti sekarang ini? Lalu apa manfaat dan kegunaannya setelah seseorang memiliki kesadaran sejarah? Bukankah di era digital ini, manusia hanya akan dituntut hidup berdampingan dengan teknologi?

Dalam arti, menjelang revolusi industri 5.0, yang dibutuhkan manusia adalah peningkatan kemampuan dibidang teknologi untuk mengisi segala sektor kehidupan yang semuanya akan mengadopsi teknologi itu sendiri. Atau minimal manusia harus melek teknologi supaya mampu mengambil peluang di dalam keadaan revolusi industri 5.0.

Apabila society 5.0 merupakan jawaban atas tantangan yang muncul akibat era revolusi industri 4.0 yang dicirikan dengan Internet on Things (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data dan robot untuk meningkatkan kualitas hidup manusia (Kurniawan Adi Santoso dalam alenia.id), maka menurut pendapat saya untuk memasuki revolusi industri 5.0, minimal manusia saat ini harus terlebih dahulu menggenggam empat ciri dari revolusi 4.0.

“Society 5.0 adalah era dimana semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri. Internet bukan hanya sebagai informasi melainkan untuk menjalani kehidupan,” kata Siti Mahfudzoh seperti dilansir republika.com

Lantas bisakah kita padu-padankan antara pendapat Kian Amboro yang menilai saat ini sejarah perlu terus dikomunikasikan kepada publik, supaya identitas dan budayanya tetap terlestarikan, dengan kebutuhan yang mendesak terhadap kemampuan seseorang dibidang teknologi? Memang rasa-rasanya dua hal ini berbeda.

Namun sebelum menjawab itu, saya rasa perlu juga dicari tahu dimana titik tolak munculnya “Sejarah Publik” yang ditandai dengan mencuatnya kepermukaan beragam diskusi bertema sejarah, peminat sejarah dari kalangan umum dan dari luar disiplin ilmu sejarah. Begitu juga dengan publikasi ilmiah dan tulisan bertema sejarah yang dibalut kedalam kerangka tulisan populer, hingga terbentuknya beragam komunitas pegiat sejarah di berbagai kota atau daerah di Indonesia.

Karena bisa saja beberapa ciri dari Sejarah Publik yang Kian Amboro sebutkan bukan bersumber dari meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap sejarah, tetapi mungkin saja beragam diskusi bertema sejarah, peminat sejarah dari kalangan umum dan dari luar disiplin ilmu sejarah “Sejarah Publik” sudah ada dari dulu, hanya saja belum terekspos secara masif oleh beragam media seperti saat ini.

Jika iya, berarti tidak perlu lagi ada upaya dari kalangan akademisi untuk memahamkan pentingnya sejarah kepada masyarakat, karena sejatinya masyarakat sudah mampu dan terbiasa menjaga ingatan masa lalunya, kearifan yang ada di sekitarnya, budaya dari warisan nenek moyangnya secara mandiri dan berkesinambungan.

Terlepas dari itu, saya yang juga memiliki minat terhadap sejarah sebenarnya tidak akan bisa terima jika sejarah dikerdilkan oleh peradaban yang mengacu pada industrialisasi seperti saat ini. Apalagi A.L. Rowse dalam bukunya Apa Guna Sejarah? Menyebut bahwa untuk mengurus urusan manusia, seseorang memerlukan ilmu pengetahuan sosial dan sejarah menyediakan latar belakang dan pelatihan yang sesuai dengan itu.

Artinya selama manusia masih hidup dalam suatu kelompok masyarakat ia akan membutuhkan sejarah sebagai alat untuk menyelesaikan masalah kehidupan yang sering datang secara keroyokan.

Rasanya ungkapan saya kali ini juga sejalan dengan apa yang ditulis Kian Amboro, diakhir-akhir karangannya, ia menjelaskan bahwa pendidikan sejarah bisa membentuk seorang pribadi yang berfikir dan berbuat bijaksana dalam menyelesaikan persoalan.

“Dilihat dari fungsinya secara aksiologis pendidikan sejarah akan membuat individu memahami siapa diri mereka, hal ini adalah tentang kesadaran identitas. Selain itu kedewasaan berpikir dan bertindak akan selalu menjadikan individu bijak dalam menjalani kehidupan,” Kian dalam Sejarah Publik dan Pendidikan Sejarah Bagi Masyarakat (2020:37).

Sebagai pembaca tentu kita memiliki kedaulatan berpendapat terhadap gagasan yang dibangun orang lain. Bukan berarti harus memposisikan sebagai pendukung atau pun oposisi dari sebuah teori dan gagasan. Kembali menukil A.L. Rowse, bukankah seorang sejarawan hebat adalah ia yang lebih banyak memiliki hal untuk disuguhkan dari pada penulis biasa. Misalnya saja kekuatan imajinasi, anugerah literatur yang memungkinkan mereka menciptakan fakta baru.

Lalu kemudian bila melihat latar belakang profesi Kian Amboro, yaitu sebagai seorang dosen di Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Metro, pun saat ini sedang menempuh studi doktoral di pendidikan sejarah Universitas Negeri Surakarta, tentunya ia memiliki tanggung jawab untuk mendaratkan konsep pemikirannya ini dalam sebuah wujud nyata, misal secara berkesinambungan mengadakan diskusi bertema sejarah bersama kalangan umum dari luar disiplin ilmu sejarah, meningkatkan publikasi ilmiah dan tulisan bertema sejarah dalam kerangka tulisan populer, hingga membentuk komunitas pegiat sejarah di Lampung.

Penulis: Barnas Rasmana



Tinggalkan Balasan