Sebelum Terima Beasiswa Bidikmisi, Rifa’i Sempat Jadi Kuli Bangunan di Jakarta Timur

UM Metro – Nama Muhammad Rifa’i tengah menjadi perbicangan saat ini setelah ia berhasil menjadi wisudawan terbaik kedua tingkat sarjana. Usahanya ingin peroleh gelar sarjana dengan segala keterbatasan tak membuat dirinya menyerah. Meski ia dibantu dengan beasiswa Bidikmisi, Rifa’i sempat kesulitan membayar kos tempat ia tinggal. Terlebih saat ayahnya yang bernama Saifulloh tengah sakit kala itu.

Kisah ini seakan menjadi inspirasi bagi civitas akademika UM Metro. Namun kisah dirinya setelah lulus dari SMK Muhammadiyah 2 Rawabening jurusan Administrasi Perkantoran sebelum kuliah di UM Metro tak kalah menyedihkan.

Meski sejak SD hingga SMK anak pasangan dari Saifulloh dab Nurhibah ini selalu berhasil memegang peringkat 1, faktanya setelah lulus SMK, nasib baik belum berpihak kepada Rifa’i. Sempat punya keinginan untuk kuliah di Perguruan Tinggi, namun dengan keterbatasan biaya dari orang tua, Rifa’i akhirnya merantau ke Bogor pada tahun 2014 lalu.

“Setelah lulus SMK, ada keinginan untuk kuliah. Sempat bilang ke orang tua sampe nangis, namun apa daya orang tua juga tidak punya biaya. Akhirnya saya merantau ke Bogor tepatnya pada 02 Mei 2014. Saya ikut bekerja sebagai kuli bangunan selama 2 bulan di daerah Jakarta Timur,” terang Rifa’i kepada Medium News, Rabu (21/11/2018).

Setelah merasakan akan penatnya sebagai kuli bangunan di kota metropolitan tersebut, Rifa’i akhirnya mendapatkan angin segar dari PCM Belitang dan Kepala SMK tempat ia sekolah dulu.

“Suatu malam, saya mendapat telephone dari PCM daerah Belitang sama Kepala SMK. Mereka mengajak saya untuk melanjutkan kuliah. Beliau menawarkan bahwa ada beasiswa Bidikmisi di UM Metro. Beasiswa Full gratis sampai wisuda selama 8 semester bahkan diberi uang saku setiap bulannya, yang kebetulan di FKIP hanya ada di jurusan BK sama Pendidikan Ekonomi kala itu. Setelah mendapat info, saya langsung pulang ke Belitang untuk mengurus berkas-berkas persyaratan. Uang yang saya dapat selama bekerja sebagai kuli bangunan dipake untuk ongkos dan wara-wiri melengkapi berkas. Setelah sampai di Metro, akhirnya saya mengambil jurusan Pendidikan Ekonomi,” paparnya.

Menurut informasi yang didapat kedua orang tua Rifa’i bekerja sebagai buruh tani di Belitang untuk membesarkan keempat anaknya. Adik Rifa’i yang pertama saat ini sedang duduk di bangku SMA kelas 2, sementara adiknya yang kedua saat ini sedang duduk di bangku SMP tingkat akhir dan adiknya yang terakhir sedang duduk di bangku SD kelas 4.

Besar dalam keluarga yang serba kekurangan membuat Rifa’i memiliki semangat hidup yang tinggi. Ia juga dikenal gigih dan baik oleh dosen dan teman-temannya. Kemampuan komunikasinya juga tak kalah baik dengan prestasi akademik yang berhasil ia peroleh.

Saat ini Rifa’i telah menjadi pahlawan bagi keluarganya. Setelah dirinya bekerja di perusahaan Industri tekstil di Kota Bogor sebagai HRD Recruitment &Training, kini Rifa’i dapat membantu perekonomian kedua orang tuanya dan membantu biaya sekolah ketiga adiknya.

Rifa’i telah membuktikan kepada civitas akademika UM Metro bahwa kekurangan biaya bukanlah sebuah kendala untuk meniti kesuksesan di masa depan. Melalui kegigihan dan keinginan yang kuat, semua rintangan pasti bisa dilewati dan terasa indah pada waktunya. (Bi/Hum)



Tinggalkan Balasan