Puasa Kontekstual Petani Sayur

Puasa Kontekstual Petani Sayur

Laman Opini UM Metro – Mereka, para petani telah mengajari kita untuk pandai merasa cukup. Pukul 11.00 siang di tengah terik matahari yang begitu menyengat tubuh, mereka tetap bertanam dan memanen sayur, tentu tetap berpuasa. Sedangkan kami pamit pulang duluan karena kerongkongan sudah terasa kering. Kata mereka, “jika tidak ke ladang malah terasa lemas dan lama puasanya”.

Lalu, sayur yang mereka panen, baik sawi, pakcoi, selada, bayam, kangkung, dan kemangi, per ikat dijual Rp. 1000 ke pedagang. Benar, hanya Rp. 1000 dan itu harga yang menggembirakan bagi mereka. Di sinilah kadang saya bingung mengkalkulasi secara ekonomi jerih payah dan keringat mereka, para petani. Di sisi lain, hal itu semakin menyadarkan kita, bahwa sulit mengukur kecukupan dan kesyukuran seseorang dari aspek ekonomi semata.

Karena, di tempat lain, banyak orang yang begitu mudah mendapatkan uang, tapi sulit merasa cukup. Kerja di ruang ber AC dan mewah, kadang hadir hanya untuk tidur di ruang rapat atau kantor, tapi tiap tahun menuntut naik gaji terus. Dan tetap tidak bisa bersyukur. Merekalah para petani yang luar biasa dan bukan kita.

Yang jelas puasa hadir dan mendidik kita untuk menahan banyak keinginan dan pandai merasa cukup. Dan mereka, para petani telah mengajarkan kepada kita puasa yang lebih kontekstual dari puasa kebanyakan orang yang hanya ritual.

Penulis : Dr. Achyani, M.Si.

Lokasi : Karangrejo, Metro Utara (Mitra PPUPIK UM Metro)