Profetika Kurban: Syi’ar Tauhid Pencerah Kehidupan

Profetika Kurban: Syi’ar Tauhid Pencerah Kehidupan

Profetik UM Metro – Allah S.W.T. berfirman: Dan unta-unta itu Kami jadikan untuk-mu bagian dari syiar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan kaki-kaki telah terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makanlah orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami tundukkan (unta-unta itu) untukmu, agar kamu bersyukur (Al hajj ayat 36).

Kurban adalah syi’ar Allah SWT. Syiar dalam kamus ma’ani di definisikan sebagai gambar, tanda, atau istilah yang mudah difahami, diingat dan diucapkan, yang menunjukkan keistimewaan sesuatu baik itu negara atau kelompok sebagai simbol yang memiliki makna.
Dalam ayat di atas Allah SWT menggunakan sya’airillah yang bermakna segala sesuatu yang dianjurkan oleh syari’at untuk diamalkan.

Hakikatnya dua kata syiar yang lebih familiar di telinga bangsa Indonesia dan sya’air dapat dimaknai syariat Allah SWT yang hendaknya ditampakan, menjadi simbol kebaikan dan kemuliaan Islam. Sehingga prosesi penyembelihan kurban adalah syi’ar, haji adalah syi’ar, sholat Jumat adalah syi’ar dan banyak lagi, sesuatu yang menunjukan syi’ar Islam.
Kurban adalah wilayah Syi’ar, sehingga semua orang harus merayakannya, sebagai simbol bagaimana Islam itu agama tauhid, simbol agama kemanusiaan. Mengapa?

Yang pertama, karena yang diterima Allah SWT bukan darah dan daging kurban, tetapi ketaqwaan.

Alasan pertama ini adalah simbol tauhid, bahwa kurban untuk Allah SWT, bukan berarti Allah SWT membutuhkan sesaji daging kurban, sebagaimana keyakinan dinamisme animisme. Karena pada masa dahulu, manusia mempersembahkan daging, susu, buah kepada berhala dan dewa-dewa mereka. Bahkan mungkin hari ini masih banyak ditemui akan hal itu.
Syi’ar kurban menjadi social critic kritik sosial bagi masyarakat, bahwa Tuhan yang sebenarnya adalah Tuhan yang tidak membutuhkan apapun dari hamba Nya. Tapi Tuhan yang selalu memberi kepada hamba Nya.

Syi’ar Tauhid inilah yang dimemorikan oleh nabi Ibrahim as sebagai bapak tauhid, penghancur berhala, dan penghancur ideologi animisme dinamisme.

Kurban menjadi simbol ketaatan paripurna hamba kepada Tuahanya tanpa reserve, tanpa tapi, walaupun logika fitrahnya harus dia kalahkan dengan logika imannya. Syi’ar kurban juga menjadi simbol pengorbanan totalitas hamba ketika Allah SWT meminta apa yang paling dicintainya.

Yang kedua, karena kurban untuk manusia.

Alasan kedua inilah indikasi bahwa Islam agama kemanusiaan (insaniah). Agama yang mengangkan nilai-nilai humanisme, hak asasi manusia, agama yang melawan keras tidakan tak berperikemanusiaan dan merendahkan hak manusia.

Hal ini disimbolkan dengan penggantian objek kurban dari Ismail menjadi kambing domba. Ini adalah syi’ar yang menjadi kritik sosial bagi kehidupan manusia. Karena saat itu manusia sangat merendahkan kehidupan manusia. Betapa tidak, mereka mengorbankan nyawa manusia untuk dewa dewa mereka, kadang dari bujang, gadis, anak anak. Sehingga kehadiran syariat kurban menjadi kritik bahwa nyawa manusia adalah begitu mahal, berharga. Sehingga Allah SWT menyebut, bahwa harga satu nyawa sama dengan semua manusia di dunia.
Disinilah alasan mengapa harus ada proses penggantian, karena memori peradaban saat itu, pengorbanan adalah manusia. Sehingga ada dialektika logika manusia saat itu, akan pengorbanan yang benar.

Nilai kemanusiaan selanjutnya adalah daging kurban yang dibagi rata untuk hak kemanusiaan. Bagi pengkurban, hadiah dan fakir miskin. Ini simbol bahwa islam adalah agama yang sangat memperhatikan nilai kemanusiaan, nilai kesejahteraan, nilai pemerataan, dan keadilan.
Bahkan disinilah peran terpenting, bagaimana orang beriman mampu memberikan yang paling dia cintai untuk kebersamaan.

Syi’ar ini meruntuhkan peradaban jahiliah saat itu, bahkan jahiliah modern.

Nilai profetika kurban yang hendaknya dibangun adalah bagaimana pesan tauhid dan kemanusiaan dapat tersampaikan ke dalam ruang kehidupan manusia, jangan sampai menjadi peradaban yang penuh simbol tetapi tidak memahami makna, sedangkan logika yang benar adalah syi’ar sebagai wujud makna, hadirnya syi’ar karena sebuah pesan makna.
Sekarang umat Islam harus mampu melakukan gerakan pencerahan dalam konteks syi’ar Islam ini, syi’ar yang benar-benar mengandung pesan iman dan kemanusiaan. Karena saat ini zaman penuh simbol, semua harus ditampakan, tetapi hanya untuk sebuah kepentingan pribadi, bisnis, politik dan trend.

Simbol iman dan kemanusiaan seakan tergerus oleh masivnya simbol keduniaan tersebut, sehingga manusia tidak tertarik oleh simbol simbol iman. Masjid sepi, majlis sepi, suara salam sepi, pernikahan sudah jauh dari syi’ar Islam, dan sebagainya.

Insan profetis hendaknya mulai memikirkan konsep syi’ar ini, menjadi formula mendakwahkan Islam ke dalam ruang publik, bagaiaman menghadirkan kampus yang penuh nilai tauhid dan kemanusiaan, dalam ruang penelitian bagaiamana membangun simbol tauhid dan kemanusiaan serta bagaiamana membangun masyarakat berbasis nilai tauhid dan kemanusiaan tersebut pada keragka pengabdian.

Sudah waktunya melakukan perubahan, karena logika iman menuntut perubahan menjadi lebih baik.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an, Edisi Spesial Dzulhijjah

Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)