Profetika Kurban: Keteladan Melahirkan Kepercayaan dan Ketaatan

Profetika Kurban: Keteladan Melahirkan Kepercayaan dan Ketaatan

Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar” (Shaffat ayat 102).

Ayat di atas sering dijadikan dasar historis syariat kurban dalam Islam. Akan tetapi kita mencoba memahami dalam konteks profetika. Pesan apa sebenarnya yang dapat diambil dan tersampaikan dalam syariat tersebut?

Ayat sebelumnya telah dibahas bagaimana doa Nabi Ibrahim telah diijabahi, Allah berikan kabar gembira (Busyro) dengan lahirnya Ismail as sebagai anak yang Sholih lagi Halim.

Setiap kebaikan tentu tidak berdiri sendiri, pasti Allah SWT akan datangkan ujian, kesolihan dan kesabaran Ismail di uji dengan hadirnya Ibrahim setelah lama meninggalkan dirinya dan ibunya sampai usia baligh.

Kedatangan Nabi Ibrahim as dari palestina ternyata membawa kabar yang mengejutkan, karena nabi Ibrahim as bermimpi, dan mimpinya adalah perintah untuk menyembelih Ismail as. Di sinilah ujian Sholih dan Halim Ismail, apakah dia percaya dan apakah dia akan mentaatinya?

Yang pertama, pesan mimpi dalam Islam.

Mimpi dalam Islam memiliki satu posisi yang sangat penting, karena dia salah satu sumber pengetahuan yang sangat luar biasa. Hal ini berbeda dengan sumber pengetahuan dalam standar ilmiah hari ini, yang sama sekali tidak memberikan ruang sumber pengetahuan lain selain, akal dan inderawi. Semua diukur dengan yang empiris, sedangkan mimpi adalah suatu kejadian metafisik yang tidak dapat difahami.

Akan tetapi keilmuan dalam Islam sangat tegas memahami bahwa mimpi, firasat masuk dalam kerangka keilmuan, hal ini dapat dibuktikan dengan kisah Nabi Yusuf as sebagai penakwil mimpi kerajaan, kisah Musa as, kisah Nabi Ibrahim as, sehingga dengan mimpi dapat dijadikan sumber dalam menentukan sebuah kebijakan. Akan tetapi islam memberikan klasifikasi mimpi itu sendiri, sebagaimana dalam hadits:

Nabi Muhammad mengelompokkan jenis mimpi menjadi tiga bagian. Hal ini berdasarkan dalam salah satu hadits, beliau bersabda:

وَالرُّؤْيَا ثَلَاثٌ، الحَسَنَةُ بُشْرَى مِنَ اللَّهِ، وَالرُّؤْيَا يُحَدِّثُ الرَّجُلُ بِهَا نَفْسَهُ، وَالرُّؤْيَا تَحْزِينٌ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ رُؤْيَا يَكْرَهُهَا فَلَا يُحَدِّثْ بِهَا أَحَدًا وَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ

Artinya: “Mimpi itu ada tiga. Mimpi baik yang merupakan kabar gembira dari Allah, mimpi karena bawaan pikiran seseorang (ketika terjaga), dan mimpi menyedihkan yang datang dari setan. Jika kalian mimpi sesuatu yang tak kalian senangi, maka jangan kalian ceritakan pada siapa pun, berdirilah dan shalatlah!.” (HR Muslim).

Ibnu al-Jauzi juga menjelaskan bahwa mimpi yang benar dapat diklasifikasikan waktunya:

وَأَصْدَقُ الرُّؤْيَا: رُؤْيَا الْأَسْحَارِ، فَإِنَّهُ وَقْتُ النُّزُولِ الْإِلَهِيِّ، وَاقْتِرَابِ الرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ، وَسُكُونِ الشَّيَاطِينِ، وَعَكْسُهُ رُؤْيَا الْعَتْمَةِ، عِنْدَ انْتِشَارِ الشَّيَاطِينِ وَالْأَرْوَاحِ الشَّيْطَانِيَّةِ

“Mimpi yang paling benar adalah di waktu sahur, sebab waktu tersebut adalah waktu turunnya (isyarat) ketuhanan, dekat dengan rahmat dan ampunan, serta waktu diamnya setan. Kebalikannya adalah mimpi di waktu petang (awal waktu malam).” (Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Madarij as-Salikin, juz 1, hal. 76).

Ibnu Khaldun juga sebagai ilmuwan muslim, sosiolog muslim yang sangat rasional memberikan komentar “Ilmu Tafsir Mimpi. Ilmu ini merupakan bagian dari ilmu syariat dan merupakan ilmu yang baru dalam agama tatkala ilmu-ilmu dijadikan sebuah pekerjaan dan manusia menuliskan tentang ilmu. Sedangkan mimpi dan tafsir mimpi sebenarnya telah wujud di zaman salaf (terdahulu) seperti halnya juga wujud di zaman khalaf (masa kini).” (Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, hal. 288).

Hendaknya dalam mempelajari ilmu tafsir mimpi terlebih dahulu menguasai ilmu-ilmu syariat yang bersifat fardlu ‘ain, seperti ilmu tauhid, ilmu fiqih, dan ilmu-ilmu syariat lainnya. Hal ini supaya memiliki fondasi ilmu agama yang mumpuni serta tidak mudah tertipu dengan hal-hal gaib yang ternyata bisikan setan atau khayalan pribadi semata.

Sehingga sebagaimana kisah mimpi nabi Ibrahim as adalah mimpi yang benar, bahkan menjadi Wahyu Allah SWT, yang harus dilakukan oleh nya.

Yang kedua, komunikasi efektif orang tua kepada anak

Dalam ayat tersebut Nabi Ibrahim sangat luar biasa, seberat apapun perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya yang berdasarkan mimpi, tidak serta Merta dilaksanakan. Akan tetapi Nabi Ibrahim as mengajak komunikasi yang sangat elok.

Bagaimana Ibrahim as memanggil putranya dengan sebutan ya bunayya artinya adalah anak yang tersayang. Demikianlah seharusnya seorang ayah kepada anaknya, memanggil dengan panggilan sayang, keakraban dan penuh adab. Ini sangat berbeda dengan realita orang tua saat ini yang kurang beradab dengan anaknya, memanggil dengan panggilan tak bernilai sama sekali.

Panggilan sayang inilah untuk membuka pembicaraan yang teramat berat, yaitu wahai anaku, aku bermimpi menyembelihmu, apa pendapat mu? sebuah komunikasi dua arah yang sangat luar biasa, ketika nabi Ibrahim meminta pendapat anaknya, mengapa? Karena Ismail sudah berada pada usia baligh. Sehingga dia sudah memiliki pemikiran mandiri, bertanggung jawab akan dirinya sendiri. Di sinilah ujian anak Sholih yang Halim, apakah akan mempertaruhkan nafsunya atau keyakinannya?

Tetapi jawaban Ismail diluar logika, wahai ayah (abati), lakukanlah apa yang engkau di perintah Allah, insha Allah engkau akan menemui ku sebagai orang yang sabar.

Mengapa Ismail mampu menjawab sedemikian indah?

Karena Ismail memiliki kepercayaan yang tinggi kepada ayahnya. Karena ayahnya adalah teladan luar biasa, yang tidak akan mungkin berbohong kepada anaknya.

Keteladanan membawa kepercayaan, inilah yang hendaknya dibangun dalam ruang keluarga, orang tua yang menjadi teladan bagi anak-anak nya, sehingga anak akan percaya dan taat kepada orang tuanya. Bukan orang tua yang hanya berkata, tetapi tidak memberikan keteladanan sama sekali. Kepercayaan anak mutlak dari Keteladan orang tua, ketaatan anak juga sangat berkaitan dengan keteladanan.

Mungkin ada yang bertanya, bagaiamana mungkin Ismail memahami Ibrahim sebagai orang penuh teladan, sedangkan Ibrahim tidak pernah mengasuhnya?

Hal ini dapat dijawab, dengan logika pendidikan ibu. Disinilah peran seorang ibu, ketika mampu mendeskripsikan ayah teladan, hajar yang mengasuh Ismail, selalu menceritakan bahwa Ibrahim adalah nabi yang penuh teladan, dia pergi dalam rangka berdakwah, bukan tidak bertanggung jawab akan keluarganya. Sehingga memori keteladanan ada dalam benak Ismail akan ayahnya.

Konsep inilah yang harus dibangun dalam keluarga, bagaiman seorang ibu mendeskripsikan ayah sebagai keteladanan, dan sebaliknya. Dalam institusi pendidikan bagaimana dosen satu dengan yang lain, harus saling memuji didepan mahasiswa, agar mahasiswa mempercayai dosen tersebut, bukan saling melemahkan.

Ayat peradaban inilah sebagai inti kaderisasi, bagaiamana melahirkan generasi profetis, generasi nubuwah, yang senantiasa mengikuti jejak nabi.

Butuh orang tua hebat, butuh pendidik hebat, penuh keteladanan untuk kelahiran generasi sabar, generasi Sholih dan halim.

Juga butuh wanita wanita hebat, yang mampu mendeskripsikan kebaikan ayah, sehingga anak akan benar-benar taat kepada ayahnya. Bukan orang tua yang mencari hati masing-masing dalam diri anaknya, tetapi orang tua yang kolaborasi dan menjaga aib serta mampu menampakan kebaikan, demi generasi terbaik.

Insan profetis selalu bervisi menghadirkan generasi terbaik, sholih dan sabar dalam setiap ruang gerak bidang hidupnya, berkomunikasi yang efektif dan penuh adab, bukan orang yang hanya asal berbicara tanpa etika dan adab.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an, Edisi Spesial Dzulhijjah
Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)