Profetika Kurban: Keseimbangan Peradaban Manusia

Profetika Kurban: Keseimbangan Peradaban Manusia

Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus,” (Al-Kautsar: 1-3).

Dalam kajian profetika kurban hari ini saya akan mentadaburi surat Al-Kautsar ayat 2 dan 3 dengan tetap membangun relevansi (munasabah) dengan ayat selanjutnya.

Ayat pertama, Allah SWT membangun sensor syukur dan layanan kepada nabi Muhammad SAW, yang secara otomatis berlaku kepada umatnya. Dengan sensor syukur dan layanan akan melahirkan kesadaran diri (self-awareness) yang sangat tinggi secara spiritual, bahwa manusia sungguh telah mendapatkan karunia yang tak terhingga, bahkan tak terhitung dari Allah SWT. Tidak ada ungkapan terimakasih atas karunia selain taat kepada yang memberikan karunia tersebut, sungguh dosa dan kesombongan besar ketika melawan atau ingkar kepada-Nya.

Ayat pertama tersebut mengaktifkan nalar syukur manusia, untuk menerima perintah yang selanjutnya. Demikianlah pola komunikasi dalam Al-Qur’an, yang begitu sering Allah SWT menggunakan pola kesadaran tersebut. Akan tetapi yang mampu membaca adalah mereka yang aktif akal fikiranya yang dihiasi dengan logika imaniah.

Setelah kesadaran itu muncul maka Allah SWT memberikan titah yang sangat luar biasa. Fasolli lirabbika wanhar maka sholatlah dan berkorbanlah.

Huruf fa dalam  fasholli lirabbika merupakan huruf fa sababiyah, fungsinya menyatakan sebab. Sebelum huruf fa adalah sebab terjadinya sesuatu, yang sesuatu itu disebutkan setelah huruf fa.

Sehingga perintah sholat dan berkurban adalah disebabkan karena Allah SWT telah karuniakan hamba Nya kebaikan yang sangat banyak dan tak terhitung.

Nalar berfikir inilah yang dibangun oleh Allah SWT dan mengental pada diri nabi Muhammad SAW, sebagai nabi yang selalu bersyukur karena mengakui nikmat yang sangat banyak.

Konsekuensi syukur yang pertama adalah sholat.

Para ulama memahami sholat pada surat Al-Kautsar ini adalah sholat Iedul Adha, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Jalaluddin as Suyuthi. Sholat Iedul Adha secara hukum adalah Sunnah muakkadah atau Sunnah yang sangat ditekankan untuk dilaksanakan. Walaupun andaikata tidak dilaksanakan dengan sesuatu halangan tidak berdosa dan tidak perlu menggantinya.

Mengapa sholat sebagai simbol syukur? Karena sholat Iedul Adha yang hanya Sunnah muakkadah adalah bentuk kesungguhan seorang hamba dalam mensyukuri segala karunia Allah SWT. Berbeda dengan kewajiban yang mana banyak konsekuensi jika tidak melaksanakannya, yang menghadirkan rasa takut.

Sehingga sholat Iedul Adha adalah pilihan kesadaran totalitas hamba yang ingin mensyukuri nikmat Allah SWT dengan menundukkan wajahnya, bersujud di tanah lapang atau masjid sebagai kerendahan hati di hadapan Allah SWT.

Ungkapan syukur tertinggi adalah meletakkan wajad di tanah, serendah-rendahnya, sehingga Allah akan meninggikan derajat hamba tersebut. Ibarat sebuah bangunan, semakin dalam menanam pondasi maka semakin kokoh bangunan tersebut. Sehingga kekokohan seorang hamba dalam hidupnya, memegang tauhid dan menghadapi segala masalah ditentukan dengan sujudnya yang penuh kesyukuran. Inilah kekuatan vertikal hamba kepada Allah SWT.

Semakin tingginya pengetahuan manusia kadang semakin sulit melakukan sujud serendah-rendahnya, bahkan selama lamanya. Dengan sujud yang penuh kesyukuran, akan menjernihkan hati, fikiran dan amalnya.

Ungkapan syukur yang kedua adalah berkurbanlah.

Makna berkurban adalah menyembelih binatang ternak di hari Ied Al-Adha, maka secara fikih para ulama menggunakan kata wanhar. Maka kurban di sebut nahar atau udhiyah. Kata kurban lebih familiar di Indonesia dalam wawasan fikih Nusantara. Akan tetapi ini bukan sesuatu yang salah, bahkan lebih substantif. Karena hakikat sembelihan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (Al-Qurban).

Kurban adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan jalur horizontal, yaitu sisi kemanusiaan. Di sinilah Islam sebagai agama kemanusiaan (ad dien Al insani) agama yang membangun dan menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan, dan menentang segala ketidak perikemanusiaan yang terjadi.

Kurban adalah implementasi pengorbanan hamba dengan jiwa dan hartanya. Mengapa saya menyatakan demikian? Karena awal kurban adalah permintaan sembelihan jiwa manusia (Ismail) dan itu dipenuhi oleh Nabi Ibrahim AS. Akan tetapi kemudian berubah menjadi domba sebagai gantinya, dan saat itulah berubah menjadi pengorbanan harta.

Dari sinilah hakikat kurban, bukan hanya mengeluarkan harta, akan tetap harus berangkat dari jiwa yang benar, ketaatan totalitas, itulah ketaqwaan.

Oleh sebab itu Allah tidaklah menerima daging kurban, darah dan tulangnya, akan tetapi Allah menerima ketaqwaan hamba-Nya. Daging dan tulangnya hendaknya dibagikan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Di masa pandemi, ruang kemanusiaan terbukan lebar, maka ujian ayat kurban sangat relevan untuk menguji iman manusia yang aktif nalar fikir imaniahnya.

Pengorbanan bukan hanya setahun sekali, akan tetapi ketika manusia memanggil maka disitulah kesadaran kurban harus diaktifkan.

Profetika kurban mengajarkan manusia untuk selalu mensyukuri karunia Allah SWT dengan selalu bersujud dan berkurban. Inilah pesan kenabian yang harus dibaca oleh setiap manusia yang aktif logika imanya.

Berkorban bukan hanya dengan harta, tetapi jiwa adalah paling penting. Bagaiamana manusia mengorbankan waktunya untuk orang lain, membantunya, mengajarkan ilmunya dan sebagainya. Bagaiamana manusia mau membantu sekecil apapun yang dia mampu untuk membantu saudaranya, apalagi dalam kondisi darurat pandemi saat ini. Hendaknya umat Islam menjadi garda terdepan.

Insan profetis akan selalu melakukan pendekatan vertikal kepada Allah SWT dan horisontal, untuk membangun peradaban yang lebih baik, mereka insan yang bergantung kepada Allah SWT.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an, Edisi Spesial Dzulhijjah
Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)