Profetika Kurban: Generasi Sholih yang Sabar dan Penuh Keyakinan

Profetika Kurban: Generasi Sholih yang Sabar dan Penuh Keyakinan

Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman:

100) Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang- orang yang saleh.” 101) Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Isma’il). 102) “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata: “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Isma’il) menjawab: “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”.103) “Maka, ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah).104) Lalu Kami panggil dia: “Wahai Ibrahim! 105) sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.” Sungguh demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik 106) Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.” 107) “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. 108) Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, 109) “Selamat sejahtera bagi Ibrahim.” 110) Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. 111) Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (surat shaffat ayat 100-111)

Hari ini sengaja kita merenungi surat shaffat ayat 100-111, untuk memahami bagaiamana sejarah dan insight dari syariat kurban yang Allah SWT tetapkan dalam bulan Dzulhijjah.

Yang pertama hakikat kurban adalah pendidikan anak Sholih.

Secara historis hakikatnya kurban adalah sebuah proses building Peradaban, founding father peradaban Islam adalah Nabiallah Ibrahim as, ketika beliau meletakan satu visi peradaban di kota Makkah. Langkah awal yang beliau bangun adalah membangun sumber daya insani yang Sholih, karena manusia adalah unsur utama peradaban. Hal itu dapat dilihat dalam ungkapan doa Nabi Ibrahim as,  Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang- orang yang saleh.”(shaffat ayat 100).

Inilah pola building peradaban  yang benar, menyiapkan insan berkualitas, berkepribadian Sholih. Pola ini telah berubah saat ini, karena manusia memandang peradaban adalah infrastruktur arsitektural, bangunan yang mentereng dan megah, tekhnologi yang canggih. Hal ini bertentangan dengan logika peradaban Islam, karena Islam memandang unsur primer peradaban adalah manusia.

Adapun manusia yang diharapkan dalam peradaban Islam adalah manusia yang Sholih sebagaimana dalam doa Ibrahim as. Sholih dimaknai dalam bahasa Arab adalah baik dan bermaslahat. Artinya segala kebaikan yang memberikan kemaslahatan kepada kehidupan. Orang yang baik saja, baik untuk dirinya belum dianggap Sholih, karena kesolihan membutuhkan pembuktian pengorbanan diri. Jika ingin mengukur kesolihan seseorang ukur bagaimana dirinya dengan Allah dan bagaimana dirinya dengan orang lain. Jika dengan Allah dia baik dan dengan orang lain dia baik maka itulah kesolihan. Jika hanya baik didepan manusia, tetapi tidak baik kepada Allah maka itu adalah kemunafikan, sebaliknya dia hanya baik kepada Allah tetapi kepada manusia tidak baik maka itu adalah kesombongan.

Generasi Sholih akan lahir dari visi orang tua yang Sholih, kader pemimpin yang Sholih akan lahir dari pemimpin yang Sholih. Visi keshalihan generasi harus menancap dalam diri orang tua maupun para pemimpin dunia, karena itu bukti dirinya orang yang berjiwa besar.

Dalam melahirkan keshalihan membutuhkan pendidikan dan pengkaderan, maka pendidikan dalam ayat di atas adalah do’a yang sangat tulus dan penuh keyakinan. Banyak yang meragukan doa, bagi manusia yang tidak aktif logika imaniyah ya, doa adalah sebuah khayalan, akan tetapi bagi mereka yang hidup logika imanya, sungguh do’a adalah kekuatan, doa adalah pendidikan paling tulus bagi seseorang. Mengapa? Karena dia meyakini bahwa generasi Sholih hanya akan lahir dari bimbingan Allah SWT. Doa adalah bukti iman dan ketawaduan manusia kepada Allah SWT, karena dia meyakini bahwa semua doa akan Allah SWT ijabahi.

Dalam perkembangan IPTEK yang begitu luar biasa, hasil akan selalu digantungkan dengan proses menejemen, dengan usaha yang luar biasa, doa tidak masuk dalam hal itu, karena doa adalah sesuatu yang tak terukur dan harus terpisah pada ruang menejemen dan lainya. Seharusnya pola sekuler ini harus dicerahkan bahwa doa adalah unsur menejemen paling utama sebagai ungkapan rencana kepada Allah, mohon bimbingan dalam aksinya, dan mohon hasil yang terbaik. Dan doa menjadi senjata bagi setiap unsur peradaban.

Dengan doa inilah Allah SWT mengabulkan permohonan Ibrahim as, dengan dikaruniai Ismail as.

Yang kedua, inti Keshalihan adalah kesabaran.

Doa Nabi Ibrahim as yang memohon keturunan yang Sholih, Allah SWT mengabulkan dengan turunya ayat: Maka Kami beri kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang sangat sabar (Isma’il).(shaffat ayat 101)

Dalam ayat tersebut dapat direnungkan, bahwa inti Keshalihan adalah kesabaran (Halim). Kesabaran dalam ayat tersebut tidak menggunakan kata sobir tetapi halim. Kata halim dalam kamus di maknai ; tidak terburu-buru membalas meskipun berkuasa melakukannya. Artinya anak yang Sholih adalah anak yang memiliki jiwa penuh ketenangan dan tidak reaktif, sehingga diartikan sebagai kesabaran. Dia adalah anak yang kuat, kompeten, tetapi penuh ketenangan bahkan tidak reaktif walau dia mampu melakukannya, dia mampu menempatkan dirinya pada kondisi dan tempat yang tepat.

Inilah nabi Ismail, yang nanti akan terbukti ketika Allah SWT uji Ibrahim untuk menyembelih beliah sebagai kurban, maka beliau dengan tenang mentaatinya walau beliau mampu menolaknya.

Kompetensi soft-skill Halim inilah yang saat ini sangat jarang dimiliki oleh generasi milineal. Karena hidupnya yang penuh kenyamanan, serba instan, akhirnya melahirkan generasi yang lemah, mudah patah dan putusa asa. Generasi ini disebut oleh Renald Khasali sebagai generasi strawberry. Generasi yang berfikir tetap (fixed mindset) karena kemapanan yang dia miliki membentuk dirinya tidak mampu menghadapi tantangan.

Oleh sebab itu pendidikan saat ini selalu menyuguhkan dalam promosi sesuatu yang membuat mereka bahagia dan nyaman, fasilitas yang oke, jaminan kerja oke, dan pelayanan yang oke. Ketika pendidikan menawarkan tantangan, fasilitas kurang, keprihatinan, selalu dikatakan pendidikan tidak maju.

Paradigma inilah yang harus disadari bagi semua unsur peradaban, akan lemahnya generasi saat ini.

Spirit Ismail as sebagai generasi Sholih dan Halim, harus menjadi pelajaran dalam membangun arah baru peradaban, arah baru pendidikan, sehingga profetika kurban dapat terwujud.

Insan profetis adalah yang siap melahirkan generasi sholih dan Halim, mereka seperti Ibrahim as yang memiliki visi besar peradaban, melantunkan dalam doanya dan melakukan aksi nyata membangun peradaban iman dalam setiap aspek kehidupan.

Sudah waktunya bangsa ini bangkit dari tidurnya para orang tua, pendidik dan generasi, untuk segera berdoa dan mengambil air wudhu agar segera semangat dan cerah menyambut peradaban yang penuh kemuliaan, bukan peradaban yang mengekor kepada sesuatu bangsa yang jauh dari Tuhanya.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an, Edisi Spesial Dzulhijjah
Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)