Pengungsi Tsunami Lamsel Rawan Gangguan Kesehatan dan Psikologis

Laman Opini UM Metro – Survivor yang selamat dari gelombang tsunami, mengungsi ketempat yang lebih tinggi. Sebagian survivor yang tak memiliki kerabat dekat, tak memiliki rumah untuk dijadikan tempat mengungsi. Mereka memanfaatkan lahan-lahan datar yang berada di tempat yang lebih tinggi, sesuai jalur evakuasi tsunami, sebagai tempat mengungsi. Berdasarkan penilaian dari  tim penulis yang terbatas, survivor seperti ini tersebar di desa Kunjir, Way Muli, dan Banding.

Survivor tipe seperti ini kondisinya sangat memprihatinkan. Pertama, mereka tidak berada di tempat yang layak huni. Mereka hanya menggunakan tenda dari terpal seadanya yang dibangun swadaya atau mandiri. Tenda ini tidak dapat menjamin mereka terlindungi dari air hujan dan angin kencang.

Mirisnya, tenda tidak layak seperti ini dihuni terlalu banyak orang. Misalnya, ada satu tenda  yang dibangun dari dua terpal, yang hanya berukuran sekitar 4×3 meter dengan dihuni oleh lebih dari 5 kepala keluarga. Tentunya, tidak akan mencukupi kebutuhan hunian yang nyaman, yang bisa menjamin mereka dapat beristirahat dengan baik. Ini sangat tidak layak. Bayangkan, bagaimana caranya mereka bisa lelap tidur di malam hari.

Tenda yang tidak layak huni, membuat survivor rentan terhadap penyakit. Kondisi lelah, istirahat tidak mencukupi, makanan yang seadanya, angin dan hujan, dapat menjadi faktor pemicu penyakit. Berjubelnya pengungsi di tenda, juga bisa menjadi faktor, yang membuat survivor menjadi sangat rentan terhadap penyakit menular. Anak-anak dan lansia, tentu menjadi survivor yang paling rentan.

Selain itu, tenda yang dihuni oleh banyak orang juga menimbulkan persoalan psikologis tersendiri. Para pengungsi tidak memiliki ruang pribadi. Dalam teori jarak personal, ketiadaan   ruang pribadi akan membuat survivor yang rentan, mudah mengalami kondisi depresi.  Kondisi depresi, akan membuat respon seseorang terhadap lingkungan, menjadi terganggu. Kondisi depresi juga dapat memicu permasalahan psikologis yang lebih serius.

Tidak hanya itu, ada permasalahan lain yang lebih serius. Survivor tipe seperti ini, biasanya menggunakan lahan-lahan perkebunan milik warga. Tim penulis sempat menemui beberapa pemilik lahan yang sudah mulai marah akibat tanaman di lahannya rusak akibat keberadaan survivor. Kondisi seperti ini, memunculkan kerawanan terjadinya konflik antara pemilik lahan dan survivor. Pemilik lahan yang berusaha mengamankan harta pribadinya, bertemu dengan survivor yang saat ini hanya mengandalkan insting untuk bertahan hidup.

Pemerintah selain perlu menyediakan lahan dan tempat pengungsi  yang layak. Sebisa mungkin posko pengungsian berada ditempat yang dianggap aman oleh survivor. (Diazepam) Posko pengungsian, sebaiknya tidak terlalu jauh dari lokasi para survivor bertahan. Bertahannya survivor di lokasi bencana, bisa jadi disebabkan mereka masih menunggu kabar terkait kerabatnya yang masih hilang. Para survivor mungkin juga masih berharap, sisa harta bendanya masih dapat diselamatkan.

Pemerintah juga perlu merancang strategi agar para survivor mau menempati posko pengungsi, jika posko pengungsi telah disediakan. Menunggu survivor untuk sadar sendiri turun dari tempat mereka, sepertinya bukan langkah bijak. Kondisi psikologis masyarakat yang belum pulih, baik survivor maupun pemilik lahan, membuat potensi terjadinya konflik sosial semakin rawan. Apalagi beberapa konflik sosial, pernah terjadi di wilayah Lampung.

Penulis : Satrio Budi Wibowo, S.Psi., M.A (Kandidat doktor psikologi UGM, Koordinator tim Psikososial MDMC Lampung, Dosen UM Metro)



Tinggalkan Balasan