Otak Pinjaman Google: CoPas (Comot Pasrah)

Laman Opini UM Metro – Mengoreksi  jawaban ujian akhir mahasiswa kali ini sungguh membuat mata ini cepat  lelah, jawabannya Senada dan Seirama. Khususnya pada ujian yang dibuat close book /off-line, jawaban sebagian mahasiswa seperti layaknya orang yang sedang malas diajak bicara. Seadanya dan  kalimat yang tertuang terasa datar serta pemilihan kalimatnya hampir sama (mungkin ini kelompok mahasiswa yang saling mencontek tapi tidak ketahuan pengawas). Tidak memiliki kekayaan diksi kata yang cukup untuk mengekspresikan isi pikirannya ke dalam tulisan. Sungguh pekerjaan terberat jadi dosen sekarang adalah mengoreksi jawaban mahasiswa.

Sama masalahnya tapi beda kasusnya dengan  ujian dalam bentuk open book/on line ataupun take home, sangat kaya variasi kalimatnya tapi sering kali bukan kalimat yang solid (utuh). Mirip baju yang dibuat dari kain perca tapi sang penjahit tidak paham dan telaten memadupadankan warna dan polanya, akibatnya sebuah baju hanya meriah tanpa arah. Bahkan, kadang sulit menemukani dimana  mahasiswa membuat kalimat sendiri sebagai penyambung atau pengantar antar kalimmat yang dicopas. Semua full googling. “CoPas” pun berubah makna menjadi “Comot Pasrah”. Makanya wajar jika sekarang kita mudah menemukan mahasiswa yang sedang mengerjakan ujian close book/of line seperti kehilangan tempat bersandar (bingung) karena terputus kontak dengan si Google. Lebih terlihat lagi ketika yang dihadapi tipe-tipe soal HOT (hight order thinking) yang memerlukan pemahan dan perspektif dari pikiran mahasiswa,  jadi klimpungan, tengok kiri kanan seperti kehingan orientasi dan kreativfitas dengan apa yang dikerjakan serta  buru-buru ingin cepat selesai.

Lebih terlihat nyata lagi kelemahannya ketika mahasiswa mebuat latar belakang makalah dan kerangka pemikiran usulan penelitian, sulit sekali ditemukan kalimat orisinal mahasiswa yang berusaha mengungkap bukti-bukti empiris sebagai masalah yang melatarbelakangi penelitian atau makalah yang dibuat. Begitu pun pada bagian kerangka pemikiran, lebih menyedihkan lagi, sulit sekali mahasiswa membangun pemikiran yang menunjukan hubungan kausal antara variabel bebas dan terikat.

Lalu, apa  yang bisa kita baca dari fenomena tersebut? Kita sadar benar bahwa ketika bangsa kita belum punya budaya baca dan tulis yang mapan apa lagi nyandu, sudah diterpa  budaya tontonan dan “chattingan”  yang begitu dahsyat. Tontonan yang tersaji di youtube sangat banyak jumlah dan variasinya, “Jadi susah mau berhenti nonton” kata mahasiswa. Atau mahasiswa yang lain sibuk menyantuni  group WA , dari yang group teman SD sampai teman kuliah, beluml lagi teman se-hobi dan  keluarga, bunyi dan nyala hijau selalu berjibun jumlah notifnya. Bisa ditebak, kesempatan membaca secara mendalam dan bermakna sangat  sedikit.

Kita paham dan sadar, budaya instan sudah merebak merasuk ke pelbagai relung dan sendi kehidupan bangsa ini, termasuk di dunia pendidikan. Gejala menjawab soal ujian atau membuat makalah secara instan pada sebagian mahasiswa juga bukan hal yang baru. Seberapa lama pun jadwal ujian atau presentase diumumkan, nyatanya sebagian mahasiswa akan bersiap pada H-1 juga. Penganut aliran Metopet (metode kepepet). Kalau sudah begitu semuanya akan diselesaikan menggunakan jurus mabuk saja dan cukup membuat mabuk dosen yang mengoreksinya juga.

Sebenarnya membaca dari manapapun dan dimanapun tidak menjadi masalah ketika seseorang bisa mengikat makna dari teks yang dibacanya. Hal yang perlu dipermasalahkan adalah ketika seseorang membaca dengan cara shallow, dangkal dan tidak bisa memaknai secara utuh teks yang dibacanya. Lebih gawat lagi jika menjadi malas berpikir gara-gara semua jawaban ada di Google. Dan itu yang sekarang terjadi pada sebagian mahasiswa, dan umumnya lebih  senang dengan cara copas (comot pasrah). Sekedar memenuhi rukun kewajiban membuat tugas makalah. Begitu makalah ditinggal di meja dosen, tertinggal pula pengetahuan hasil copasnya. Sumber yang mudah dicopas biasanya yang mudah digoogling tentu saja, seperi blog, wikipedia, mailist, dan teks lain yang bersifat open access.

Pentingnya membaca buku harus selalu diingatkan pada mahasiswa. Membaca yang bermakna membutuhkan keterlibatan pikiran pembaca. Senang membaca meningkatkan kecerdasan verbal dan lingusitik karena membaca memperkaya kosa-kata dan kekuatan kata-kata. Seorang pembaca yang baik bukan sekedar tahu dengan apa yang dibacanya, tapi juga perlu paham hubungan kasualitas antar ide yang ada dalam teks,  juga dengan pengetahuan yang dimiliki sebelum membaca teks tersebut. Membaca perlu menggunakan kecerdasan emosional juga. Emosi akan membawa diri untuk menjumpai lika-liku dan warna-warni teks yang dibaca. Mulai dari alur  tulisan, puitis tidaknya diksi katanya, sampai tipe kepribadian sang penulis. Emosi akan mengajak inner-self pembaca untuk ikut terlibat dan mencari kaitan apapun yang sedang terjadi di luar dirinya.  Makanya tidak heran jika ada orang setelah membaca menjadi menangis, merenung, atau girang dan bergairah kembali hidupnya.

Percayalah, semua yang saya ungkapkan di atas  bukanlah karena ketidakmampuan mahasiswa, tapi lebih karena kemalasan sebagian mahasiswa untuk melatih dan menggunakan otaknya untuk berpikir keras dan mendalam. Otak manusia sebenarnya sangat hebat dan memiliki kemampuan memikirkan sesuatu dengan bentangan sangat jauh, artinya bisa menjangkau sesuatu yang tadinya tidak terpikirkan untuk bisa dijangkau. Tentu saja syaratnya satu: jangan malas memberdayakan otak kita untuk berpikir. Kecuali sengaja malas memakai otak kita, dengan tujuan agar otak kita tetap orisinal sehingga harga second nya tetap mahal.

Penulis: Dr. Achyani Subadi, M.Si.

Sumber : nuwobalak.id



Tinggalkan Balasan