Nalar Kefasikan yang Merusak dan Membawa Kerugian

Nalar Kefasikan yang Merusak dan Membawa Kerugian

Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman:  (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itu-lah orang-orang yang rugi (Al Baqarah ayat 27).

Pagi ini kita akan tadabbur surat Al Baqarah ayat 27, setelah kemarin dibahas tentang logika iman dan logika kekafiran. Bagaimana orang beriman begitu yakin dengan apa yang datang dari Allah SWT, walau itu tidak logis dalam fikiran mereka. Sedangkan orang kafir begitu meremehkan apa yang datang dari Allah SWT, karena mereka melebihkan logika dari iman mereka.

Hari ini kita akan bahas nalar atau logika fiskiah (logika kefasikan). Nalar kefasikan adalah cara berfikir seseorang yang akan mengantarkan dirinya kepada sifat kefasikan, karena cara pandangnya selalu menuju kepada jalan kefasikan. Ibarat lalat hijau, dia tidak akan pernah tertarik dengan bunga, karena memori otaknya selalu ada kotoran. Berbeda dengan lebah, dia akan selalu melihat bunga, karena memori otaknya adalah bunga yang memberikan madu. Sebagaimana yang dinyatakan Buya Hamka, ketika ada temanya yang mengatakan di Arab banyak pelacur, lalu Buya Hamka mengatakan,  bahwa di Amerika tidak ada seorang pelacur pun. Mengapa? Karena fikiran temanya dipenuhi fikiran lacur, maka dia hanya menemukan pelacur di Arab, sedangkan orang beriman begitu banyak. Sama dengan Buya Hamka yang tidak menemukan pelacur di Amerika, karena nalar fikirnya dipenuhi keimanan, maka diapun akan dipertemukan dengan orang beriman.

Saya kemaren berbincang dengan seorang da’i dari Hidayatullah, beliau dai utusan ke daerah-daerah pinggiran. Saya tanya, bagaimana anda bisa tetap istiqamah dan bisa selalu dapat rezeki walau harus berpindah-pindah untuk berdakwah? Jawabannya begitu luar biasa, “ustadz, kalau niat kita berdakwah, maka Allah SWT akan hadirkan orang-orang yang akan membantu dakwah, seperti abu bakar, Umar, Usman dan Ali Radhiyallahu anhum. Dakwah adalah tugas Nabi, maka pasti Allah akan datangkan penolong-penolong dakwah”. Mendengar jawaban ini, Masha Allah luar biasa.

Inilah cara pandang, nalar berfikir, logika atau paradigma yang akan mempengaruhi cara hidup kita. Sehingga keunggulan manusia dari makhluk yang lain adalah berada pada logika nya yang sangat aktif dan luar biasa. Hanya logika itu apa yang membungkusnya, imankah ? Kekafirankah? Atau kefasikan? Pembungkus inilah yang akan mengaktifkan logika berfikir manusia, dan membawa manusia menjadi apa.

Logika kefasikan dalam ayat di atas dicirikan dengan tiga hal, yang pertama; melepaskan dari ikatan janji kepada Allah, yang kedua; memutuskan diri dari perintah Allah, yang ketiga; berbuat kerusakan.

Definisi fasik dalam arti bahasa adalah durhaka, sesat dan rusak. Secara istilahiah fasik dimaknai sebagai orang-orang yang melakukan dosa besar (kaba’ir) dan selalu terus menerus melakukan dosa-dosa kecil. Atau dalam definisi lain, mereka adalah orang yang durhaka, karena mengetahui kebaikan tetapi tidak mau melaksanakan. Sehingga seseorang akan disebut durhaka, ketika memang telah disampaikan kebenaran,tetapi dia tetap melanggar kebenaran tersebut. Anak durhaka adalah ketika orang tuanya mengajarkan kebaikan, sedangkan anaknya melanggar kebaikan tersebut. Bukan kedurhakaan ketika anak belum pernah mendapat pendidikan kebaikan, kemudian dia melanggarnya. Begitu juga kedurhakaan kepada Allah adalah ketika kebenaran sudah nyata dalam Al Qur’an dan Sunnah, para ulama sudah menyampaikan, tetapi enggan menjalankan dan memahaminya.

Hakikatnya kefasikan bisa berwujud kekafiran dan kemunafikan, karena keduanya adalah bentuk kedurhakaan. Akan tetapi kefasikan lebih luas, karena orang-orang beriman bisa saja mengalami kefasikan ini, karena banyak aturan Allah yang jelas dan nampakpun dilanggar, bahkan dicemooh dan diremehkan.

Dengan definisi ini maka nalar kefasikan dapat didefinisikan sebagai cara berfikir yang rusak, Sesat dan selalu bangga dengan dosa besar. Nalar kedurhakaan, walau mereka mengetahui kebenaran, mereka akan selalu mempertentangkan.

Jika didetailkan, orang fasik selalu berfikir:

Yang pertama, nalar ingkar janji terutama kepada Allah S.W.T.

Dalam ayat di atas orang fasik akan selalu membatalkan janji kepada Allah, maksudnya adalah mengingkari perjanjian yang telah diambil dirinya sejak masih dalam kandungan bahwa dia akan selalu mentauhidkan Allah, perjanjian ketika dia telah mengambil syahadat. Nalar ingkar janji kepada Allah SWT inilah yang membentuk dirinya benar-benar jauh dari Allah SWT, selalu enggan menjalankan perinta Allah swt.

Nalar inipun merembet kepada sifatnya kepada manusia, dia akan banyak ingkar janji kepada manusia, kepada jabatanya, kepada aturan yang telah dibuat dan sebagainya. Prilaku ini hakikatnya lahir dari nalar keingkaran yang selalu aktif dalam fikiran mereka.

Jika kita melihat banyak orang yang sulit diajak menuju kepada Allah SWT, beribadah dengan baik, berakhlak dengan baik, ini masalah utamanya adalah pada nalar fikir  yang telah dibungkus oleh kefasikan, sehingga sudah tidak ada rasa sedih dan takut ketika durhaka.

Kedua, nalar selalu memutuskan apa yang diperintah Allah untuk disambungkan

Alalh SWT berfirman: dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya (Al-Baqarah: 27).

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah silaturahmi dan hubungan kekerabatan, sehingga nalar orang fasik selalu aktif berfikir bagaiamana membuat orang lain tidak bersaudara, bersatu dan selalu bercerai berai. Sifat adu domba, provokatif negatif selalu dihadirkan, sehingga bahagia dengan orang lain berseteru. Konsep divide at empire, yang selalu dimainkan untuk memancing di air keruh, menari diatas bangkai saudaranya.

Nalar ini sangat bertentangan dengan nalar iman yang selalu berfikir akan persatuan dan persaudaraan. Sehingga nalaf kefasikan sangat berbahaya dalam kehidupan, baik berbangsa, bernegara, berorganisasi dan institusi.

Ketiga, nalar merusak.

Nalar kefasikan akan mengaktifkan prilaku manusia yang akan selalu berbuat kerusakan di bumi, tidak bahagia ketika melihat dunia tenang dan sejahtera.

Karena nalar kefasikan inilah kemudian yang menjadikan dirinya, di manapun akan membawa kerusakan, baik kerusakan sistem, kerusakan lingkungan bahkan kerusakan agama.

Kerusakan sistem suatu bangsa, organisasi bahkan institusi yang sudah baik, sesuai dengan aturan kebenaran, dirusaknya dengan dalih reformasi, rekonstruksi, modernisasi dan sebagainya. Akhirnya bukanya menjadi lebih baik, kehancuran yang didapatkan.

Sejarah telah membuktikan bagaimana Turki Usmani yang dulu menuai kejayaan, hancur oleh sekulerisme dengan dalih modernisasi dan demokratisasi.

Tiga karakter nalar kefasikan diatas adalah kunci kerugian, semua yang menghidupkan atau membiarkan personal yang memiliki nalar fikir tersebut akan menuai kerugian besar, sebagaimana Allah SWT firmankan Mereka itu-lah orang-orang yang rugi.

Nilai profetika yang hendaknya dihadirkan adalah tugas nabi membangun umat untuk menepati janji, menyambung yang terputus dan membangun kemaslahatan dan kerahmatan. Demikianlah logika iman sebagai nalar berfikir insan profetis, dalam membangun peradaban yang rahmatan Lil Al-Amin.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an!
Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)