Muhammadiyah Harus Bergerak dalam Sistem Riset Berbasis Qur’an
- 7 Juli 2019
- Posted by: Humas UM Metro
- Category: Uncategorized @id
UM Metro – Rapat Koordinasi Wilayah Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (MPDM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Lampung bahas standar guru Al-Islam, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab (ISMUBA), bertempat di aula gedung Hubungan Masyarakat dan Internasional kampus I UM Metro, 07 Juli 2019.
Diskusi standar kelayakan dan penghargaan bagi guru ISMUBA ini disampaikan MPDM PWM Lampung Sangidun dan MPDM PDM Kota Metro Rudion Dhisyaku. Rudion menuturkan, keberadaan guru ISMUBA di sekolah Muhammadiyah harus menjadi perhatian pihak MPDM PWM Lampung lantaran banyak guru ISMUBA yang belum memenuhi kriteria standar.
“Karena keberadaan Guru ISMUBA ini kadang dianggap hanya pelengkap, sehingga tidak sedikit guru ISMUBA di sekolah-sekolah Muhammadiyah belum memenuhi standar kelayakan. Tentu hal ini harus menjadi perhatian penuh dari MPDM PWM Lampung untuk memberikan pembinaan ke depannya,” ujarnya di depan para pimpinan sekolah Muhammadiyah di Provinsi Lampung.
Di lain sisi, wakil kepsek SMA Muhammadiyah 2 Kota Metro ini menekankan pentingnya pemenuhan hak guru ISMUBA di sekolah. Hal ini menurutnya lantaran keberadaan guru ISMUBA di pemerintahan tidak masuk dalam daftar mata pelajaran yang mendapat sertifikasi.
“Hak guru ISMUBA ini kadang luput dari perhatian kita, sementara keberadaan mereka cukup penting dalam menanamkan pemahaman ke-Islaman kepada anak-anak kita di sekolah. Sehingganya, sertifikasi dari Persyarikatan sendiri untuk guru ISMUBA saya rasa menjadi solusi terbaik ke depan. Atau minimal gaji yang mereka dapat sesuai dengan UMR-lah,” jelasnya.
Sementara itu di sesi pertanyaan, perwakilan MPDM Kota Bandar Lampung Irsyad ikut memberikan tanggapan.
Irsyad menilai standar pembelajaran ISMUBA di sekolah belum terealisasi dengan baik.
“Kalau kita lihat, pembelajaran ISMUBA di sekolah-sekolah Muhammadiyah yang berbasis Islam Terpadu kadang belum mendalam. Kita masih menjadikan progam hafalan Qur’an sebagai produk unggulan kita padahal masih ada hal lain yang perlu kita gali,” ucapnya.
Lebih lanjut, kata Irsyad, program unggulan tahfidz qur’an sangat baik untuk mendidik generasi masa depan.
Namun perlu ada tindak lanjut lebih mendalam, di mana sekolah Muhammadiyah di level SMP dan SMA sederajat mulai menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber penelitian.
“Jadi kalau orang eropa melakukan riset berdasarkan hipotesa, maka kita sebagai muslim, melakukan penelitian untuk membuktikan kebenaran Al-Qur’an. Dan ini tentu akan sejalan dengan keberadaan Olimpicad untuk cabang perlombaan di bidang riset,” tukasnya. (Bungs/Hum)
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.
