Micro Teaching di Masa Pandemi Covid 19

Lamanopini – Pada akhir semester ganjil, beberapa mahasiswa FKIP mulai banyak yang bertanya mengenai Mata Kuliah (MK) Praktikum Micro Teaching. Apaitu micro teaching? Apa yang diajarkan dalam MK micro teaching ? dan pertanyaan lainnya. Mungkin pertanyaan tersebut dipantik oleh kondisi pandemic saat ini. Mahasiswa FKIP yang bertanya mungkin sudah tahu secara garis besar, apa yang diajarkan dalam mata kuliah Micro Teaching. Namun, mengingat pandemi yang terjadi saat ini, membuat mereka bertanya, apakah mungkin praktikum micro teaching dapat diselenggarakan?.

Sebelum membahas lebih jauh, mari kita lihat defenisi dari MK micro teaching. Mengutip buku panduan perkuliahan micro teaching merupakan perkuliahan yang wajib diikuti oleh mahasiswa calon guru. Ya, mahasiwa calon guru tentu saja mahasiswa FKIP dari semua jurusan dan prodi. Mahasiswa calon guru, harus mampu dan terampil dalam mengaplikasikan konsep pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran. Berbagai konsep pembelajaran ini, tentunya telah diajarkan di kelas. Agar para calon guru, nantinya bias menjadi guru yang professional, maka apa yang sudah dipelajari di kelas perlu dipraktikkan.

MK Micro teaching memfasilitasi para calon guru untuk melatih kemampuannya mengajar dalam ruang lingkup yang kecil. Ruang lingkup yang kecil ini maksudnya adalah laboratorium. Latihan ini diperlukan sebelum calon guru mengasah keterampilan mengajarnya pada lingkup yang lebih luas, yaitu di sekolah. Sehingga mahasiswa calon guru di FKIP UM Metro diberikan dua kali kesempatan berlatih mengajar sebelum lulus menjadi sarjana. Latihan di laboratorium melalui MK Micro Teaching, dan Latihan langsung di sekolah melalui MK Program Pengenalan Lapangan (PPL).

Latihan mengajar yang biasa dilakukan sebelum pandemic covid 19 biasa menggunakan metode tatap muka. Namun, pada masa pandemi, sekolah di tutup. Hampir semua sekolah menggunakan pembelajaran jarak jauh. Hal ini tentunya berdampak pada praktik pelaksanaan mengajar guru di sekolah. Karena pelaksanaan pembelajaran tatap muka tentunya akan berbeda dengan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Sehingga, MK praktikum pembelajaran mikro perlu sedikit berubah. Menyesuaikan dengan praktik pelansanaan pembelajaran di sekolah. Apalagi, saat kegiatan MK PPL, mahasiswa yang diterjunkan di sekolah, perlu beradaptasi dengan system pembelajaran jarak jauh.

Semestinya praktik micro teaching mahasiswa perlu dilakukan dalam laboratorium. Namun, mengingat aturan pembatasan kegiatan guna menghambat penyebaran covid-19, maka dengan terpaksa praktikum harus dapat diselenggarakan secara daring. Pembekalan praktik mengajar di laboratorium penting, namun kesehatan mahasiswa dan keluarganya menjadi faktor yang paling penting dibandingkan factor lain. Pelaksanaan praktikum secara daring merupakan salah satu upaya melindungi anggota keluarga yang rentan agar tidak tertular virus covid-19. Bagi penyelenggara praktikum, pelaksanaan praktik daring sebenarnya jauh lebih sulit dibandingkan praktik di laboratorium. Namun, demi menjaga kesehatan bersama, hal tersebut tetap perlu dilakukan.

Dibalik keterbatasan penggunaan system praktikum daring, sebenarnya, terdapat beberapa kelebihan. Pada praktikum micro teaching secara daring, mahasiswa akan belajar praktik mengajar system tatap-muka menggunakan simulasi virtual dan system pembelajaran daring.  Sehingga mahasiswa akan dibekali dua ketrampilan, 1) Memanajemen pembelajaran tatap muka (menggunakan simulasi virtual), dan 2) Memanajemen pembelajaran jarak jauh secara daring.

Upaya tersebut dilakukan, mengingat mahasiswa calon guru di FKIP UM Metro harus siap mengelola pembelajaran jarak jauh secara daring. Apalagi saat ini, Kemendikbud telah mengfasilitasi sekolah-sekolah di Indonesia dengan aplikasi-aplikasi pembelajaran daring.

Pada laman khusus www.belajar.id, Kemendikbud menyediakan akun pembelajaran berbasis G Suite (Google Suite). Google Suite adalah paket layanan berbasis cloud yang dapat menyediakan cara baru untuk bekerjasama secara online bagi perusahaan atau sekolah. Dalam paket google suite ada berbagai aplikasi yang dapat digunakan untuk mengelola pembelajaran jarak jauh, seperti google classroom dan google meet. Semua fasilitas ini, disediakan secara gratis oleh Kemendikbud untuk semua guru di Indonesia. Padahal jika berlangganan secara pribadi, harga aplikasi ini cukup mahal.

Melihat perkembangan tersebut, laboratorium micro teaching akan berusaha membekali mahasiswa calon guru di UM Metro dengan aplikasi berbasis G Suite. Sehingga diharapkan, lulusan FKIP UM Metro dapat memanfaatkan fasilitas pembelajaran daring yang telah disediakan oleh Kemendikbud. Tentunya sangat disayangkan, jika aplikasi yang sudah sedemikian mahal disediakan oleh Kemendikbud, tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh guru-guru di Indonesia. Kalau dalam bahasa jawa dinamakan, Muspro.

Begitulah penjelasan singkat mengenai pelaksanaan micro teaching pada masa pandemi covid-19. Semoga mahasiswa dapat mengambil manfaat positif dari beberapa perubahan dalam pelaksanaan micro teaching tahun ini. Tentunya kita semua berdoa, semoga situasi pandemi covid-19 bisa segera berakhir di bumi Indonesia kita tercinta.

 

 

Dr. Satrio Budi Wibowo., M.A (Ka. Lab Micro Teaching UM Metro)