Menjaga Kedaulatan Pancasila sebagai Ideologi Bangsa

Laman Opini UM Metro – Belum lama ini kita dihadapkan pada persoalan Nasionalisme di mana banyak orang yang memberikan pernyataan bahwa dirinya adalah icon Pancasila, dengan merasa dirinya paling berideologi melalui slogan "saya Indonesia, saya Pancasila".

Padahal sejatinya konsekuensi atas pengakuan dirinya atau kepercayaan berideologi Pancasila ini tak cukup hanya diucapkan dengan lisan. Namun konsekuensi atas pilihan ini semestinya harus diperjuangkan dengan pengamalan nilai-nilai yang tertuang dalam setiap butir Pancasila itu sendiri yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam pemusyawaran/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tetapi, perlu diketahui bahwa pada dasarnya setiap jiwa memiliki apa yang disebut dengan kemanusiaan, persatuan, dan seterusnya tersebut, tetapi jika hal ini tidak dilandasi dengan asas Ketuhanan, maka tentu itu semua tidak ada nilainya.

Oleh karena itu, peringatan soal Kesaktian Pancasila pada tanggal 01 Oktober 2018 lalu adalah pintu gerbang bagi rakyat Indonesia yang dipandu atas kebenaran jika segala nilai-nilai Pancasilanya dilandaskan kepada Tuhan, bukan sekedar diucapkan dengan lisan.

Setiap warga negara itu terus berjuang, bukan hendak mengganti kekuatan dengan kekuatan, atau melawan aniaya dengan aniaya, tetapi menjatuhkan kekuatan ke bawah kuasa kebenaran.

Maka jika suatu pemerintah bertindak sewenang-wenang, janganlah disangka bahwa pemerintahan akan berumur lama, dia mesti jatuh, cepat atau lambat pasti berakhir. Itu hanya soal waktu. Sehingga kebenaran itu juga yang kembali tegak, kekuatan itu akan takluk kembali ke bawah kuasa kebenaran, dan akan tercapailah maksud yang tinggi dan mulia baik pribadi atau masyarakat.

Kekuatan mesti berkhidmat pada kebenaran, demikianlah dia dijadikan Tuhan. Jikalau kekuatan telah membelakangi kebenaran, sehingga dimusuhinya dan dijauhinya, alamat kekuatan itu juga yang akan jatuh kelak. Sebab kekuatan adalah anak kunci kemenangan, pohon angan-angan, selama dia masih dipimpin, di kanan oleh keadilan, dan di kiri oleh kebenaran.

Kesaktian, Kekuatan dan Kebenaran itu adalah Pancasila.

Saya tutup dengan kalimat Dr. Ali Syariati, seseorang yang lemah akan Kepribadian Bangsanya, moral dan spiritualnya seperti seorang yang tidak akan menentang bila dijadikan hewan pemukul beban.

Penulis : Harbi Gemeli Putra (Mahasiswa Fakultas Hukum)

Editor : Al-Bayurie/Hum



Tinggalkan Balasan