Mengapa Kita (Secara Tidak Sengaja) Senang Menyebarkan HOAX?

Mengapa Kita (Secara Tidak Sengaja) Senang Menyebarkan HOAX?

Laman Opini UM Metro – Bagi yang memiliki medsos, di tahun politik saat ini, pasti berandanya dipenuhi oleh sebaran informasi terkait politik. Berbagai macam informasi, baik  kritik, maupun dukungan, banyak bertebaran. Tentunya tidak masalah jika informasi yang disebarkan sesuai fakta. Informasi sesuai fakta mungkin akan berguna bagi sebagian pemilih. Namun, sangat disayangkan, informasi yang disebarkan tersebut, tidak semunya fakta,  ada sebagian informasi yang merupakan kabar bohong atau hoax. Bagi anda yang tidak terlalu fanatik terhadap parpol tertentu, tersebarnya hoax diberanda medsos anda, tentunya akan sangat menyebalkan.

Pada gelaran pilpres kali ini, banyak informasi hoax yang disebarkan oleh masing-masing kubu. Misalnya, jika Jokowi terpilih maka ideologi Indonesia akan diubah menjadi komunis, sebaliknya jika Prabowo terpilih maka ideologi Indonesia akan diubah menjadi kilafah. Tentunya informasi tersebut merupakan hasil kesimpulan dari fakta yang tidak lengkap. Karena di kubu Jokowi ada caleg mantan PKI, maka dituduh Jokowi membawa ideologi komunis. Sebaliknya karena Prabowo sangat dekat dengan umat Islam, maka dituduh Prabowo membawa ideologi kilafah.

Kesimpulan atas fakta yang tidak lengkap, cenderung menghasilkan hoax. Lalu, mengapa mereka senang menyebarkan Hoax? Apakah karena mereka iblis, bukan manusia ? Tentu saja tidak. Jika dikaji menggunakan ilmu psikologi, pada situasi tertentu, proses berfikir manusia memang kadang irasional. Hal ini disebabkan, karena manusia memiliki emosi. Keinginan, harapan, ketakutan dan semisalnya, dapat menyebabkan bias dalam proses berfikir (penalaran). Informasi yang seharusnya diolah secara kognitif, karena adanya keterlibatan emosi, membuat kesimpulan yang dihasilkan menjadi subjektif, tidak objektif. Kondisi seperti ini, oleh Dan Kahaan salah seorang ahli psikologi sosial, dinamakan penalaran termotivasi (motivated reasoning).

Penalaran termotivasi adalah proses menalar sebuah fakta namun termotivasi oleh tujuan tertentu yang kita inginkan. Ketika kita melakukan penalaran termotivasi, kita akan melakukan bias konfirmasi (confirmation bias). Dimana kita berusaha membenarkan informasi yang kita inginkan, dan menyalahkan informasi yang tidak kita inginkan. Benar – salah, bukan lagi atas dasar fakta, namun atas dasar, apa yang kita inginkan, benar. Sehingga, dalam konteks dukungan politik, kita akan selalu berusaha mencari – cari berita yang mendukung pilihan politik kita, dan berusaha menyingkirkan berita-berita yang tidak mendukung pilihan poilitik kita. Terjadilah yang namanya disonansi kognitif. Agar merasa nyaman dan tentram, sesorang berusaha menyingkirkan segala sesuatu (sikap, pemikiran, perilaku) yang bertentangan dengan apa yang ia inginkan, sebagai sebuah kebenaran.

Para ahli psikologi pun sudah meneliti bagimana bias konfirmasi ini dapat terjadi. Dengan menggunakan metode pencitraan otak, para peneliti neuropsikologi berusaha mengetahui mekanisme kerja otak, saat melakukan bias konfirmasi. Saat seseorang melakukan  bias konfirmasi dalam menilai kandidat yang ia suka, fungsi penalaran yang biasa digunakan untuk menilai informasi secara rasional (dorsolateral prefrontal cortex), menjadi tidak aktif. Namun, bagian otak yang biasa digunakan untuk mengolah emosi (orbitofrontal cortex), menjadi lebih aktif. Bahkan otak memberikan hadiah terhadap seseorang yang melakukan bias konfirmasi dengan melepaskan dopamine. Yaitu sebuah neurotransmiter yang membuat anda merasa nyaman dan enak. Hal ini mengkonfirmasi, bahwa seseorang cenderung menggunakan emosi saat melakukan bias konfirmasi. Bahkan seseorang akan merasakan kenyaman setelah berhasil melakukan bias konfirmasi. Mengingat otak memiliki kemampuan otomatisasi, semakin sering seseorang melakukan bias konfirmasi, semakin otomatis ia melakukan bias konfirmasi.

Oleh sebab itu, seseorang yang sudah terbiasa melakukan penalaran termotivasi, akan sangat sulit membedakan antara fakta dan hoax. Karena, fakta atau hoax tidak lagi penting, yang terpenting adalah mana informasi yang mendukung pilihan politiknya. Dan saat ia berhasil mendapatkan atau menyebarkan informasi yang mendukung pasangannya ia akan mendapatkan hadiah berupa perasaan nyaman dan tentram. Oleh sebab itu, tanpa disengaja (karena sudah terjadi otomatisasi), seseorang merasa senang dan nyaman, saat berhasil menyebarkan informasi (kadang hoax) yang mendukung pilihan politiknya.

Pelaku bias konformasi menyangka, dengan menyajikan data-data yang mendukung kesimpulannya yang bias,  mereka sudah melakukan proses ilmiah layaknya peneliti. Padahal apa yang mereka lakukan sangat berkebalikan dengan metode ilmiah dalam membuat kesimpulan. Jika peneliti, mengumpulkan data terlebih dahulu, baru menyimpulkan  berdasarkan data yang ia dapatkan. Sebaliknya, para pendukung politik yang fanatik, menyimpulkan sesuatu terlebih dahulu, baru mengumpulkan data-data yang mendukung kesimpulan yang ia inginkan.

Tentunya akan sangat sulit menyajikan fakta bagi mereka yang sudah mengalami bias konfirmasi. Tiap fakta yang tidak mendukung pilihan politiknya, akan disingkirkan. Tentunya perlu cara yang persuasif, untuk meyakinkan bahwa informasi yang mereka sebarkan belum tentu benar. Layaknya iklan kosmetika, mereka tidak menyerang calon konsumennya dengan mengatakan mereka jelek sehingga membutuhkan produk kosmetik yang mereka tawarkan. Tapi mereka mengatakan, bahwa produk kosmetika yang mereka tawarkan dapat mengeluarkan kecantikan natural terpendam (inner beauty) para penggunanya.

Penulis : Satri Budi Wibowo, M.Psi.