Menanam Nilai

Menanam Nilai

Opini UM Metro – Fenomena pendidikan daring merupakan sebuah keniscayaan di saat pandemi covid 19. Tidak masa pandemipun, pembelajaran daring perlu dilaksanakan sebagai respon terhadap perkembangan teknologi yang telah merambah dunia pendidikan. Revolusi industri 4.0 dan mulai beranjak pada masyarakat indsutri 5.0 pada beberapa Negara maju, berimbas pada perkembangan teknologi dibidang pendidikan. Dunia pendidikan yang bertugas mencetak generasi penerus yang lebih baik, menuntut untuk ikut serta dalam mengembangkan generasi penerus yang melek teknologi.

Virus Corona yang masih terus bergerilia sepertinya tidak akan berkahir karena belum terlihat ujungnya, menuntut harus hidup damai berdampingan dengan hidup manusia. Ada sisi baiknya karena mendukung terimplementasinya pembelajaran daring secara menyeluruh, namun ada sisi buruknya jika pembelajaran daring dilakukan secara penuh dan dalam kurun waktu yang lama. Salah satu kendala yang yang muncul adalah sulitnya membangun komunikasi yang intensif antara guru dan peserta didik dikarenakan pemahaman peserta didik terhadap media komunikasi yang belum memadai dan merata. Selain itu, guru sulit menanamkan nilai-nilai pada peserta didik melalui pelaksanaan pembelajaran secara daring.

Merujuk pada tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam Undang-undang sisdiknas nomor 20 tahun 2003, bahwa tujuan pendidikan tidak hanya sekedar transfer of knowlage akan tetapi juga penanaman nilai. Pendidikan memiliki tugas yang cukup berat untuk mencapai tujuan tersebut. Menanamkan  nilai pada anak didik tidaklah mudah seperti menanam padi atau jagung, sekali atau dua kali ditanam dimugkinkan akan tumbuh dan tinggal dirawat dengan pemberian cukup air dan pemupukan. Menanamkan nilai ibarat mengukir di atas batu yang perlu dilakukan secara rutin, teratur dan penuh kesabaran hingga terlihat lukisanya.

 Menanam Berulang-ulang

 Nilai atau dalam istilah bahasa inggris disebut dengan value, dalam dunia pendidikan menjadi tujuan utama dan tidak dapat diabaikan. Habit pembelajar yang menerapkan nilai yang baik menjadi salah satu indikator ketercapaian tujuan pendidikan dalam menanamkan nilai. Siswa yang berpengetahuan tinggi jika tidak memiliki nilai kebaikan dalam dirinya maka akan berdampak buruk terhadap pengetahuan yang dimilikinya. Nilai kebaikan ditanamkan kepada peserta didik perlu dilakukan dengan cara berulang-ulang dan berkesinambungan. Nilai tidak dapat dapat diajarkan sekali, namun harus sesering mugkin diajarkan kepada anak didik. Keberhasilan penanaman nilai juga tidak terlepas dari upaya lain yaitu pemberian contoh atau suri tauladan. Semisal nilai kejujuran, guru ingin menanamkan nilai kejujuran kepada siswa juga harus memberikan contoh kejujuran yang dinampakkan oleh guru. Dan hal itu dilakukan secara berulang-ulang hingga nampak nilai kejujuran itu pada prilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa adab itu di atas ilmu. Adab disini berarti nilai kebaikan pada diri seseorang, sedangkan ilmu berkecenderungan pada kepemilikan pengetahuan. Mengapa adab/nilai diletakkan di atas ilmu?. Hal ini tidak terlepas pada kebijaksanaan penggunaan ilmu oleh orang yang berilmu. Jika orang yang berilmu memiliki adab maka akan menggunakan ilmunya untuk kebaikan, begitu juga sebaliknya. Bisa jadi orang yang berilmu tinggi dengan tidak memiliki adab yang baik, maka ilmunya dapat digunakan untuk keburukan, bahkan bisa saja digunakan untuk mencelakakan orang lain. Contoh nyata di negeri kita terkait dengan korupsi, kita akan sepakat bahwa orang yang korupsi itu bukan orang yang tidak berilmu (bodoh). Mereka adalah orang-orang yang berilmu, bahkan berjabatan tinggi namun nilai kebaikan dalam dirinya terkalahkan oleh hawa nafsunya. Inilah contoh nyata dilingkungan kehidupan kita yang perlu ada penguatan pada peserta didik hingga dapat mengambil pelajaranya. Ibarat belajar sejarah, pelajaran yang dapat diambil tidak harus berasal dari pengalaman sendiri. Namun dapat diambil dari prilaku orang lain, yang baik untuk dicontoh yang buruk untuk diambil pelajaranya supaya tidak terjerumus dalam kondisi yang sama.

Nilai dapat ditanamkan jika terjadi interaksi antara guru dan peserta didik secara langsung serta dalam kurun waktu yang tidak sebentar. Karena didalamnya terdapat proses pengamatan dan pendampingan agar nilai yang diinginkan dapat tertanam pada diri peserta didik. Perulangan terjadi dalam menanamkan nilai. Hal ini tidak terjadi pada pembelajaran daring. Pemantauan dan pembimbingan dalam menanamkan nilai banyak tidak terjadi. Nilai sepertinya diabaikan dalam proses pembelajaran daring. Keterbatasan kuota menyebabkan keterbatasan waktu interakasi antara siswa dan guru. Interaksi yang dijalin juga masih sebatas tulisan dan belum sampai pada kegiatan tatap muka dan pengamatan secara langsung. Alasan tersebut juga berdampak pada fokus pembelajaran yang hanya terbatas pada pengembangan pengetahuan siswa, yang juga belum optimal.

Peran guru dalam menanamkan nilai jadi terabaikan. Hal ini bukanlah merupakan keinginan guru. Namun merupakan akibat dari adanya pandemi covid 19 yang datang begitu cepat hingga tidak ada persiapan yang matang untuk menghadapinya. Kesabaran yang perlu diutamakan dalam kondisi seperti ini. Namun perlu juga diperhatikan dampaknya jika terlalu lama guru tidak dapat berinteraksi langsung dengan siswa hingga penanaman nilai kepada siswa jadi terabaikan.

Di akhir tulisan ini, penulis berharap kondisi pendidikan dapat kembali pulih sehingga guru yang bertugas menanamkan nilai dapat menjalankan tugasnya kembali dengan baik. Guru tidak hanya sekedar menyampaikan materi pengetahuan, namun memiliki kewajiban menanamkan nilai. Geliat sekolah meski pelan-pelan sudah mulai menampakkan kehidupanya. Sehingga pendidikan diharapkan dapat mencetak generasi penerus bangsa yang beradab dan berilmu hingga dapat menghantarkan Negara kita menjadi Negara maju yang beradab.

Penulis: Bobi Hidayat (Dosen FKIP UM Metro)