Logika Penciptaan Nyamuk, Antara yang Beriman dan Ingkar

Logika Penciptaan Nyamuk, Antara yang Beriman dan Ingkar

Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (Al-Baqarah ayat 25).

Allah SWT adalah Tuhan yang senantiasa mengajak manusia untuk berfikir secara rasional, bahkan Allah SWT melarang manusia melakukan sesuatu tanpa mengetahui dasar berfikir dan hanya ikut-ikutan (taqlid buta).

Di dunia modern ini taqlid buta telah meraja Lela dengan berbagai istilah; followers, netizen, subcriber, dan istilah istilah trend lainya. Setiap group sepak bola memiliki penggemar dengan istilahnya, artis pun sama bahkan politikus pun memiliki pengikutnya.

Yang menyedihkan adalah banyak yang mengikuti tanpa dasar, baik perkataan maupun perbuatan. Inilah yang paling ditakutkan Nabi Muhammad Saw ketika umat akhir zaman sudah hilang rasional berfikirnya sehingga mengikuti siapapun tanpa dasar yang benar, bahkan andaikan mereka yang diikuti masuk ke lubang biawak pasti akan diikuti.

Saya beberapa hari ini merasa heran mengapa model baju wanita saat ini menampakkan minisetnya di luar sedangkan yang benar di dalam, walau hanya untuk gaya, bukankah ini adalah sebuah masalah berfikir yang akut! Ketika sudah tidak mampu memandang mana yang baik dan benar, hanya mengikuti yang trend dan viral saja.

Inilah bedanya dengan Al-Qur’an yang selalu mengajak berfikir ilmiah, kritis bahkan sesuai standar kebenaran ilahiah yang logik, rasional dan sistematis.

Ayat di atas menggambarkan bagaimana Allah tidak malu sedikitpun membuat permisalan akan kehidupan dengan seekor nyamuk bahkan yang lebih kecil dari itu. Kalimat ini sangat indah, karena memang nyamuk saat itu adalah binatang yang di anggap paling kecil, karena belum ditemukan alat untuk melihat bakteri dan lainya yang lebih kecil, akan tetapi Allah memberikan celah kata bahkan yang lebih kecil dari nyamuk. Permisalan ini akan ditangkap berbeda oleh logika imaniyah dan logikan kufriyah (ingkar). Cara pandang berbeda ini disebabkan karena paradigma yang dipakai sangat jauh berbeda.

Yang pertama mengapa nyamuk menjadi permisalan?

Allah SWT banyak sekali menjadikan nyamuk sebagai permisalan, karena memang hewan ini adalah hewan yang sangat unik dalam hidupnya, hewan yang tak bertulang, tetapi mampu hidup sangat luar biasa. Sehingga Rasulullah sampai berikan permisalan andaikan dunia seberat sayap nyamuk, sungguh orang orang kafir tak akan mendapatkan jatah hidup sama sekali. Artinya dunia yang sebesar inipun di hadapan Allah tak bernilai walau hanya dengan sayap nyamuk. Tapi mengapa banyak manusia melupakan akhiratnya demi dunia yang sangat kecil ini?

Nyamuk juga permisalan kuasa Allah yang sangat luar biasa, mukjizat penciptaan yang tak terbatas, yang tak akan mungkin manusia dapat menciptakan. Jikalau saat ini banyak kita dengar manusia dengan ilmu pengetahuannya mampu mengembangkan bakteri ataupun virus, akan tetapi semua itu bukanlah penciptaan, tetapi pengembang biakan dari inti penciptaan Allah yaitu nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Jika saat ini dikenal dalam dunia biologi istilah kloning ataupun culture jaringan, itupun bukan penciptaan, akan tetapi pengembang biakan dari inti kehidupan yang Allah ciptakan awalnya.

Nyamuk juga menjadi permisalan kehancuran manusia manusia sombong, dan pelajaran bagi manusia setelahnya. Bagaimana Namrud dan pasukannya hancur hanya diserang dengan rombongan nyamuk dan lalat. Sedangkan dia memiliki pasukan yang sangat luar biasa. Jika kita pernah mendengar Alexander the Great yang meninggal hanya disebabkan gigitan nyamuk, sedangkan dia mampu menaklukkan sepertiga dunia saat itu. Sungguh Allah tidak malu dengan penciptaan nyamuk, apalagi Allah membuat permisalan lebih dari itu!

Yang kedua logika iman dalam membaca ayat Allah SWT.

Orang orang beriman ketika berfikir, dia akan mendasarkan fikiranya dengan imanya, kacamatanya adalah iman, ada tauhid di dalamnya, ada standar kebenaran Tuhan di dalamnya, ada akhlak dan etika di dalam nya, ada nilai ibadah dalam satuan fikirnya. Sehingga ketika permisalan nyamuk dihadapkan di depannya, maka orang beriman mengatakan” ini adalah kebenaran dari Allah swt. Inilah logika iman, ketika ada ayat Allah SWT, ada perintah Allah SWT walaupun tidak rasional, mereka menguatkan imanya, mengakuinya sebagai kebenaran. Lalu mereka mengaktifkan akalnya untuk mencari hikmah hikmah kebenaran itu dalam rangka membangun kemaslahatan hidupnya.

Sama halnya dengan Corona virus 19, dalam logika iman kita akan mengatakan ini adalah benar dari Allah bahwa Corona mutlak ciptaan Allah. Kemudian akal kita berfikir, bagaiamana menangkal Corona, apa obatnya, dan andaikata konspirasi siapa yang mengembangkannya dan dengan motiv apa? Sehingga kebenaran akan terungkap dengan jelas, karena Corona adalah ujian berfikir manusia, ujian iman manusia. Bukan membiarkan, atau hanya sombong dengan pengetahuan belaka.

Yang ketiga logika kufriah.

Orang-Orang kafir dalam memandang permisalan nyamuk berbeda dengan orang beriman. Karena mereka mendasarkan pada akal fikiran dan nafsunya, tidak ada iman sama sekali. Kaca mata mereka adalah kacamata inderawi dan kepentingan, sehingga tidak mampu menembus batas pesan ilahiah di dalamnya. Maka mereka mengatakan untuk apa Allah SWT menciptakan permisalan nyamuk ini. Dalam logika ini jelas sekali siapa yang cerdas dan tidak cerdas. Orang kafir benar benar tidak mampu mengaktifkan akal sehatnya apalagi hatinya.

Mereka melihat nyamuk hanya wujudnya, sehingga mereka tidak mampu memahami pesan ilahiah itu, mereka meremehkan ciptaan Allah. Inilah kebiasaan mereka mengapa tidak mau percaya kepada Allah, maka mereka menjawab Tuhan tidak nampak kok disembah mereka menganggap yang menyembah Allah bodoh. Ketika diajak beribadah sholat, mereka menjawab tidak ada pengaruh sholat dengan kemajuan hidup, buktinya orang sholat banyak yang miskin dan seterusnya. Begitu sulitnya mereka memahami kebenaran dengan berdalih pada logika sesat itu. Dengan pola fikir sesat ini mereka akan selalu tersesat dan tersesat sejauh-jauhnya.

Dua pola fikir ini akan menghasilkan produk berfikir, baik konsep maupun teori yang akan mempengaruhi dunia, jika logika iman yang memenangkan, maka peradaban iman yang akan menguasai. Akan tetapi ketika logika kufur yang menang maka semua akan menjadi kufur, walau agamanya Islam sekalipun. Karena mereka beragama tetapi berfikir dengan cara tidak benar, maka memahami agama pun tidak benar.

Insan profetis tentu akan mengambil paradigma logika imaniah, Karena degan pola fikir ini akan membawa pada inti iman, mengenal Allah SWT dan menjadikan hidup lebih indah dan bermakna. Logika iman adalah logika paling cerdas, Karena mampu membaca pesan ilahiah dari setiap ayat Allah baik qouliyah maupun kauniyah.

Insan profetis akan berjuang di garda terdepan mencerahkan logika kufriah yang terjadi saat ini, mereka akan menyalakan cahaya iman dalam setiap ilmunya dan amalnya, sehingga peradaban itu akan terbangun sebagaimana visi hidup manusia.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an!
Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)