Lawan Radikal dan Terorisme BNPT-RI, FT UM Metro Gelar Dialog Kebangsaan

Lawan Radikal dan Terorisme BNPT-RI, FT UM Metro Gelar Dialog Kebangsaan

UM Metro – Dialog Kebangsaan dalam membangun harmoni bangsa oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT-RI) bersama Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah (UM) Metro di Aula Gedung Hubungan Internasional Kampus I UM Metro, Jumat (15/10/2021).

Wakil Rektor II UM Metro Suyanto, S.E., M.Si., Akt., CA., ACPA., CRA. Membuka acara dan turut dihadiri oleh Dekan, Wakil dekan dan dosen di lingkungan UM Metro serta Bapak Ken Setiawan dari Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center.

Bridjen Pol. R. Ahmad Nurwahid, S.E., M.M selaku Direktur Pencegahan BNPT-RI  menyampaikan adanya dua pendekatan dalam membangun harmoni kebangsaan dalam menghadapi terorisme.

“Kita harus membangun harmoni dengan segenap elemen masyarakat bangsa dan negara, caranya dengan pendekatan hulu dan hilir. Berbicara tentang teroris artinya berbicara juga tentang radikal. Karena undang-undang mengamanahkan hulu atau pencegahan, dan hilirnya adalah tindakan hukum,” ujar Ahmad.

Lebih lanjut Ahmad menyampiakan radikal dan terorisme memiliki tujuan untuk menghancurkan NKRI melaui pergerakkan politiknya memanipulasi agama dan tindakan lainnya.

“Paham radikalisme yaitu paham yang menjiwai semua aksi terorisme. Ingin saya tegaskan bahwa radikal terorisme ini adalah proksi untuk merusak agama terutama islam dan menghancurkan ketahanan NKRI. Kelompok ini sejatinya adalah pergerakan politik yang ingin mengambil alih dengan memanipulasi agama dan ingin mengganti ideologi pancasila,” tambah Ahmad.

Dalam dialog yang berlangsung, Ken  menyampaikan pengalamannya ketika tergabung dalam jaringan terorisme hingga pada akhirnya kini berbalik berperan aktif bersama BNPT-RI.

“Saya dulu dan kawan-kawan bertugas merekrut  orang-orang untuk masuk ke dalam jaringan terorisme, sekarang kami berhasil keluar dan merasa punya tanggungjawab untuk mengeluarkan kawan-kawan yang masih tergabung terorisme. Di tengah NII yang saya bilang ibu kandung dari kelompok teror yang ada di Indonesia karena rata-rata mereka sebelum melakukan teror, mereka akan terus berfikir untuk merekrut orang baru. Kami ingin mereka turut kembali ke pangkuan ibu pertiwi ,” kata Ken.

Dialog ditutup dengan pernyataan dari Ken bahwa harus senantiasa marasa waspada tapi tidak pobia terhadap terorisme.

“Hari ini kita dikepung dari segala penjuru dalam hal terorisme, hoaks dan berbagai isu yang ingin menghancurkan NKRI. Maka kita harus waspada tapi jangan sampai pobia,” tutup Ken.