Ketika Tersenyum Pun Sulit: Menanamlah

Laman Opini UM Metro – Ketika senyum manis kita semakin terlihat sinis; ketika senyum humanis kita semakin terasa politis; ketika senyum kita hanyalah senyuman instrumentalis. Saatnya kita bertanya: Mengapa? Apakah  karena saat ini kita lebih sering tersenyum lewat emoticon?, sehingga kita sering lupa cara tersenyum yang sesungguhnya, justru ketika berjumpa langsung dengan seseorang atau kerena kita sudah lupa bahwa tersenyum bernilai ibadah?  Bila itu benar terjadi pada kita, maka MENANAMLAH TUMBUHAN. Sekilas tidak ada hubungannya, tapi tidak usah takut jika para pembaca tidak bisa menghubungkannya. Menurut dosen statistik, bangsa kita sangat lihai dalam analisis korelasional. Makanya acara gosip di TV tetap laris manis, begitu juga berita Hoax. Sesuatu yang belum jelas bisa dihubungkan seacara baik oleh kebanyakan masyarakat kita.

Baiklah akan saya perjelas hubungannya. Ini semacam  "trade off", syukur bisa berjalan beriringan. Sedekah yang paling mudah adalah tersenyum, ketika tersenyum yang sesungguhnya menjadi sulit, maka menanam tumbuhan menjadi alternatif cara memperoleh sedekah yang mudah. Dari Anas bin Malik ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang muslim menanam pohon, tidak pula menanam tanaman kemudian pohon/tanaman tersebut dimakan burung, manusia, atau binatang melainkan menjadi SEDEKAH" (HR. Imam Bukhari).

Kita menaman bukan hanya menyediakan sumber makanan bagi manusia. Tapi banyak makhluk hidup lain yang berinteraksi dengan pohon yang kita tanam. Bahkan kita sering tidak paham karena saking banyak jumlahya makhluk hidup lain yang bersimbiosis dengan pohon, khususnya mikroorganisme baik yang hidup diluar maupun dalam sel tumbuhan sebagai indofit. Semua memberikan peran dalam simbiosis tersebut. Jadi benar adanya bahwa pohon bukan sekedar kayu. Bukan pula sekedar buah, bunga, atau daun yang hanya bernilai ekonomi. Dalam surat an Nahl ayat 69, Allah berfirman: …tempuhlah jalan-jalan Tuhan mu yang telah dimudahkan (bagimu)… Mengandung arti bahwa Allah memberikan jalan-jalan kepada lebah berupa pelbagai macam tumbuhan untuk diambil nektar, polen, dan getahnya. Jika Allah SWT saja memberikan jalan berupa keragaman tumbuhan di alam bagi binatang.  Sudah seharusnya kita sebagai muslim berbuat hal yang sama yaitu menanam tumbuhan bukan sekedar orientasi ekonomi semata, tetapi juga spiritual dan ekologis.

Turut serta memberikan jalan-jalan bagi binatang di bumi dalam upaya melestarikan siklus ekologi. Menurut Albert Einstein, tanpa serangga bumi kita hanya layak dihuni sekitar lima tahun. Maka teruslah menanam dan biarkan bunga berkembang untuk mengundang lebah, kupu-kupu, dan kumbang berdatangan melestarikan fungsi dan siklus ekologi di bumi. Sekali lagi mari terus menanam pohon/tanaman, syukur-syukur bisa sambil tersenyum agar menjadi sedekah ganda.

Penulis : Dr. Achyani, M.Si.



Tinggalkan Balasan