Kematian Dua Kali dan Kehidupan Dua Kali

Kematian Dua Kali dan Kehidupan Dua Kali

Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman” Mengapa kalian kafir kepada Allah, padahal kalian tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kalian, kemudian kalian dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kalian dikembalikan.(Al Baqarah ayat 28)

Semakin membaca Kalam Allah SWT, semakin lemas urat saraf otak kita, seakan tak mampu mengungkapkan dan membantah apapun. Semakin tertunduk lesu dihadapan kekuasaan Allah SWT, logika cerdas manusia  serasa begitu kecil dan tak berdaya, kecuali hanya mengimani dan memahami maksud Allah SWT.

Demikianlah Rasulullah Saw ketika membaca Al Qur’an selalu menangis, bahkan suara degup dadanya seperti air mendidih. Bahkan para sahabat, tabiinpun demikian, karena setiap ayat Al Qur’an akan melembutkan hati,. Fikiran bahkan diri seseorang. Sebagaimana Allah berfirman tentang hal ini dalam surah Al-Isra ayat 109 Allah SWT berfirman:

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا ۩

“Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’“ (Al-Isra’: 109).

Imam Az-Zamakhsyari di dalam kitab Tafsirnya “Al-Kasyyaf An Haqaiq Ghawamidit Tanzil” menafsirkan ayat wayaziduhum khusyu’an sebagaimana tersebut di atas (surah Al-Isra’ ayat 109). Yakni Alquran itu membuat mereka bertambah lembut hatinya dan basah matanya. Dengan kata lain, orang yang membaca Alquran dapat membuat hati semakin lembut dan membuat dia menangis.

Demikianlah seharusnya orang beriman, semakin banyak bacaannya akan ilmu, terutama Al Qur’an, maka dia akan semakin tersungkur tunduk di hadapan Allah SWT.

Ada kisah Umar bin Khattab yang sholat subuh berjamaah. Beliau membaca surat Yusuf, lalu beliau menangis hingga mengalir air matanya sampai tenggorokan.

Dalam suatu riwayat pula disebutkan bahwa ketika beliau sholat Isya’ beliau mengulang-ulang ayat yang beliau baca. Ada pula riwayat yang menceritakan bahwa beliau menangis sampai terdengar tangisannya dari saf belakang.

Abu Raja’ pun memiliki kisah tentang Ibnu Abbas. “Aku melihat Ibnu Abbas dan di bawah matanya seperti ada bekas aliran air mata.” Selain itu ada pula kisah dari Abu Shalih. _“Orang-orang penduduk Yaman datang kepada Abu Bakar As-Shiddiq yang sedang membaca Alquran dan menangis lalu beliau berkata: _“Beginilah kami (yang membaca Alquran hingga menangis).

Hari ini serasa hati dan fikiran ini tak mampu menulis apapun, ketika rutinitas menulis harian dilakukan, ketika berada pada surat Al Baqarah ayat 28 ini :

Mengapa kalian kafir kepada Allah, padahal kalian tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kalian, kemudian kalian dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kalian dikembalikan. serasa hanya ingin mengulang-ngulang saja membacanya.

Ibnu Juraij meriwayatkan dari Ata, dari Ibnu Abbas, bahwa kalian tadinya mati dalam tulang sulbi ayah-ayah kalian; saat itu kalian bukan merupakan sesuatu pun sebelum Allah menciptakan kalian. Setelah Allah menciptakan kalian, lalu Dia mematikan kalian sebagai suatu kepastian atas diri kalian. Kemudian Allah menghidupkan kalian dalam hari berbangkit, yaitu di saat Dia menghidupkan kalian di hari kiamat. Disebutkan bahwa makna ayat ini sama dengan ayat lainnya, yaitu firman-Nya: Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula). (Al-Mu’min: 11)

Dalam menjelaskan ayat di atas Ibnu Katsir mengaitkan dengan pendapat Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwas, dari Abdullah ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu mengenai firman-Nya:

{قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ}

Mereka menjawab, “Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami” (Al-Mu’min: 11)

Itulah yang disebut dua kematian dan dua kehidupan manusia.

Logika iman manusia tentu berhenti membaca ayat ini, hanya iman yang mampu menjangkaunya, bagaimana mungkin sesuatu tercipta dari ketiadaan, kecuali ada  Zat Yang Maha Menciptakan? Maka disinilah iman yang menjawab dengan penuh ketundukan.

Berbeda dengan logika yang dipenuhi keingkaran, mereka membangun keraguan, bahwa Tidak mungkin ada yang menciptakan, bahkan mereka menganggap alam tercipta kebetulan, manusia adalah proses evolusi belaka.

Maka Allah SWT menantang dengan pertanyaan epistemologis, bagaiamana kamu sekalian bisa kafir (ingkar) kepada Allah? agar akal, hati dan indera manusia mencari dan memikirkan ketidak mungkinan itu, kecuali ada satu Zat yang menciptakan.

Inilah yang menyebabkan para filosof mengakui adanya Tuhan, karena dengan kecerdasannya yang begitu tinggi berada pada titik ketidak mampuan, sehingga hanya satu kata bahwa Tuhan itu adalah hak. Seperti teori kosmologi Aristoteles yang bersesuaian dengan teori Al kindi.

Surat Al Baqarah di atas menjadi dasar bahwa manusia dari tidak ada (sifat tanah yang benda mati) kemudian diciptakan oleh Allah SWT menjadi fisik yang begitu sempurna dan dikaruniai nyawa dan jiwa, kemudian akan dimatikan menjadi tanah lagi (dengan jiwanya digenggam Allah), kemudian akan dibangkitkan di akhirat lagi dengan ruh dan jasadnya.

Ilmu pengetahuan dengan segala perkembangannya tentu tidak akan mampu menjawab dua kematian dan dua kehidupan ini, kecuali menjawab proses kejadian manusia setelah berada pada kandungan. Ilmu pengetahuanpun tak akan mampu menjawab soal ruh, nyawa yang menghidupkan manusia dan seluruh makhluk di dunia. Ilmu pengetahuan pun tak akan mampu menjawab setelah kematian dan setelah dibangkitkan. Kecuali iman yang Allah SWT telah terangkan sebagai pengetahuan tertinggi manusia.

Profetika ilmu pengetahuan hakikatnya bagaimana ilmu mampu menambah keyakinan dan keimanan kepada Allah SWT, sehingga diyakini ketinggian ilmu bukan pada tekhnologi, tetapi pada ilmu Iman.

Insan profetis hendaknya menyeimbangkan dalam mempelajari IPTEKS dengan Iman, tanpanya insan profetis akan semakin terlena dengan tipuan logikanya, sehingga akan jauh dari Allah SWT. Tetapi semakin mengimbangi, dia akan semakin menikmati ilmunya dan semakin cinta dengan Allah SWT.

Seri Bahagia dengan Al-Qur’an!
Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)