Ilmu Fisika + Ilmu Ikan = Ilmu Kehidupan

UM Metro – Sering terjadi pendapatan yang besar itu tidak datang dari pekerjaan yang kita gadang-gadang. Terkadang pekerjaan atau usaha yang kita anggap selingan (remeh temeh) justru menjadi andalan sumber pendapatan kita. Itu ilmu kehidupan yang saya dengar dari mas Dr. Nyoto Suseno,M.Si, dosen Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Metro ketika memberikan arahan kepada kelompok mahasiswa yang terlibat dalam kegiatan kewirausahaan mahasiswa beberapa waktu lalu.

Maksudnya jelas, sebagai mahasiswa jangan hanya terpaku kepada "kesaktian" ijazah yang nanti akan diperolehnya. Lebih baik mencari sumber mata air rezeki sebanyak mungkin dan tentu dimulai dari sekarang. Ijazah boleh menjadi orientasi utama dalam kuliah, namun harus juga paham bahwa ijazah tidak bisa menjamin rejeki Anda di masa depan nanti. Yang bisa memberikan jalan Anda menuju rejeki adalah bekal ilmu dan ketrampilan yang memiliki kekhasan dan kelebihan dibanding yang lain.

Dalam konteks ini, pak Nyoto adalah contoh orang yang berhasil menerapkan prinsip multidsiplin keilmuan. Dari ijazah fisika S1 dan S2 yang diperoleh di UNILA dan ITB, ternyata belum cukup memberikan ilmu "kehidupan" dan baru sekedar ilmu Fisika. Ketika beliau tertarik dalam usaha ikan air tawar, baru tersadar ilmu fisika yang diperolahnya bisa digabung dengan ilmu biologi untuk sukses dalam beternak ikan. Maka, itulah yang terjadi ketika harapan mengandalkan ijazah S1 dan S2-nya yang semula di gadang-gadang akan membantu kehidupannya secara mudah, ternyata meleset. Akhirnya beliau memulai menggeluti dunia ikan dengan lebih serius dan dari keseriusan ditambah bekal ilmu fisika yang dimiliki, akhirnya beliau bisa berhasil menjadi pemijah dan pembesaran berbagai jenis ikan air tawar tersukses di Lampung. Beliau pernah memiliki 135 ekor indukan gurame dan hapal satu per satu tanpa diberi label, terkhusus pada tiap ikan yang berjumlah ratusan, sehingga tidak pernah terjadi tertukar antara ikan yang pernah dan belum dipijah pada waktu tertentu. Begitu juga dengan indukan ikan yang lain seperti ikan lele, mas, cupang, manfish (layangan) beliau paham betul jumlah, ciri, dan bagaimana cara memijah yang berhasil. Ilmunya melibihi kami yang dari Biologi.

Lebih hebatnya lagi, dan ini yang membuat usaha hachery perikanan beliau menjadi sumber buruan para peternak ikan waktu itu, adalah ikan pak Nyoto selalu sehat tanpa ada serangan penyakit seperti kebanyakan petani ikan. Pengalaman langsung seperti itu yang kemudian beliau bagikan kepada teman kelompok Tani Karya Maju di Srimenanti, Mitra PPDM UM Metro: "Kunci penting pemeliharaan ikan, khususnya saat pembesaran bibit adalah berusaha membuat pH (keasaman) air kolam secara tepat". Dan, hal itulah yang tidak dilakulan oleh petani ikan waktu itu. Sebagai orang berlatar Fisika tentu bukan hal sulit bagi pak Nyoto untuk membuat air kolam stabil nilai pH nya sehingga ikan yang dipijah dan dipeliharanya aman dari serangan penyakit. Sedangkan petani ikan lain selalu mengalami kematian ikan massal khususnya ketika sering hujan. Banyak kiat-kiat lain yang beliau sampaikan di desa Srimenanti yang secara keilmuan sebenarnya termasuk konsep-konsep biologi yang berhasil dikawinkan dengan konsep-konsep fisika yang menjadi solusi yang tepat dalam dunia perikanan.

Penulis : Dr. Achyani, M.Si. (Ketua Tim PPDM UM Metro)



Tinggalkan Balasan