Fadhilah Syahidah Susun Modul Pembelajaran : Sejarah dan Perkembangan Kota Metro
- 2 Juli 2018
- Posted by: Humas UM Metro
- Category: Uncategorized @id
UM Metro – Salah satu mahasiswa akhir dari Program Studi Pendidikan Sejarah, Fadhilah Syahidah susun modul pembelajaran : Sejarah dan Perkembangan Kota Metro sebagai produk hasil penelitiannya yang merupakan luaran skripsi miliknya dengan dibimbing oleh Dra. Hj. Elis Setiawati, M.Pd. dan Kuswono, M.Pd. Menurutnya modul ini berisi uraian sejarah terbentuknya Metro hingga menjadi sebuah Kota seperti yang terlihat saat ini.
“Terbentuknya Kota ini merupakan sebuah dampak dari adanya kebijakan pemerintah kolonial Belanda yaitu Politik Etis. Dari sini, maka terbukalah daerah-daerah baru dalam Keresidenan Lampung salah satunya yaitu Metro. Dimana sebelumnya daerah Metro merupakan sebuah hutan yang kemudian pada masa itu dibuka menjadi daerah pemukiman, hingga saat ini Metro telah menjadi salah satu Kota terbesar dan terpenting di Provinsi Lampung,” ujarnya kepada tim Pusat Media Humas pada Senin, 02 Juli 2018.
“Penyusunan modul ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan bahan ajar sejarah lokal pada mata pelajaran sejarah. Sehingga modul ini dapat digunakan sebagai bahan ajar yang sesuai dengan Silabus dari pemerintah tetapi menggunakan pendekatan kelokalan. Dengan begitu peserta didik dapat menambah pengetahuan sejarah daerahnya dan menemukan fakta sejarah yang terjadi dilingkungan sekitar mereka,” lanjutnya.
Sama seperti modul pada umumnya, ia menegaskan bahwa modul ini juga dirancang guna memudahkan peserta didik dalam belajar secara mandiri. Jadi, sudah terdapat petunjuk penggunaan baik bagi peserta didik maupun guru di dalam modul ini.
Lebih lanjut ia menuturkan bahwa waktu yang ia butuhkan dalam menyusun modul tersebut cukup lama, karena jika dirunut mulai dari proses perencanaan dan pengumpulan informasi sudah hampir setahun. Akan tetapi, penyelesaian proses perancangan draft hingga tahap validasi membutuhkan waktu kurang lebih selama tiga bulan.
“Pada awalnya dalam sebuah perkuliahan, pernah dibahas mengenai sejarah lokal dan sejarah Metro. Dari situ saya tertarik karena selama ini kebanyakan isi materi sejarah itu ya sejarah Jawa, ternyata setiap tempat bahkan di lingkungan sekitar kita juga memiliki sejarah. Pada akhirnya saya mulai bertanya dan mencari informasi terkait sejarah Metro dan semakin tertarik untuk mendalaminya,” ungkapnya.
“Berdasarkan hasil riset sebelumnya, ternyata belum banyak masyarakat Metro yang mengetahui asal usul Metro, kenapa ada nama bedeng, kenapa banyak orang Jawa. Bahkan, dimana sejarah Metro juga merupakan sejarah nasional yang suda dipelajari di sekolah, ternyata para pelajar juga belum banyak yang mengetahui sejarah kota ini. Dari situ juga kemudian saya tertarik untuk menyebarluaskan apa yang saya tahu tentang sejarah Metro kepada orang banyak. Karena disini bidang saya pendidikan, maka saya mencoba untuk menyebarluaskan dalam lingkup kecil terlebih dahulu yaitu kepada peserta didik di sekolah. Oleh karena itu saya membuat modul sejarah dan perkembangan Kota Metro ini,” sambungnya dengan sikap antusias.
Kader IMM ini menyebutkan dengan tersusunnya Sejarah dan Perkembangan Kota Metro ke dalam modul yang ia susun dapat memberikan manfaat tersendiri khususnya bagi peserta didik di bangku sekolah.
“Nah, terkait manfaat bagi masyarakat sebenarnya banyak, produk ini memang dibuat khusus untuk peserta didik, namun apabila dibaca atau kemudian dikembangkan menjadi sebuah buku dapat menambah pengetahuan sejarah daerah tempat tinggalnya. Kemudian, dalam pembelajaran sejatinya tidak hanya menempa aspek kognitif saja tetapi juga afektif dan psikomotorik, tidak hanya transfer pengetahuan tetapi juga arus mampu mentrasfer nilai-nilai. (https://locallens.com/) Nah, melalui produk ini, harapannya paradigma akan sejarah itu membosankan, tidak penting, dapat berubah dikalangan peserta didik. Dan jika masyarakat tahu akan sejarah tempat tinggalnya, harapannya dapat membuat masyarakat yang tidak hanya memliki kemampuan dengan daya saing global tetapi juga menjadi pribadi yang berjati diri ke-Indonesia-an,” tukasnya.
Sejauh ini Fahdilah menuturkan bahwa ia telah menghabiskan biaya sekitar dua jutaan rupiah untuk mencetak beberapa buku pedoman yang ia susun. Biaya tersebut sudah termasuk untuk kegiatan tahap pencarian informasi hingga tahap validasi. Ia juga menjelaskan bahwa kedepan dirinya akan mendaftarkan Hak Cipta atas karya miliknya tersebut dan ISBN untuk modulnya.
“Harapan saya modul ini dapat benar-benar bermanfaat baik dikalangan peserta didik dan masyarakat luas. Semoga juga pemerintah Kota Metro, masyarakat, instansi pendidikan terus mendukung hal-hal seperti ini, mengingat visi Kota Metro sendiri yaitu sebagai Kota Pendidikan dan Wisata Keluarga. Dan semoga produk ini dapat dicetak secara massal agar apa yang sudah saya buat ini tidak sia-sia,” pungkasnya. (AL-Bayurie¦Hum)
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.