Doa dan Harapan untuk Rektor UM Metro Mendatang
- 15 Januari 2019
- Posted by: Humas UM Metro
- Category: Uncategorized @id
.png)

Laman Opini UM Metro – Dua bulan yang lalu, tepatnya di bulan November UM Metro memperingari miladnya yang ke-52. Sebuah usia yang cukup tua untuk ukuran seorang manusia atau sebuah organisasi. Pada bulan ini dan beberapa bulan ke depan UM Metro juga punya hajat penting yaitu memilih Rektor sebagai pemandu arah keberlanjutan dan kemajuan UM Metro periode 2019-2023. Sebagai bagian dari civitas akademika UM Metro, kita berdoa semoga siapapun Rektor yang terpilih, dapat mengambil momentum tersebut menjadi tonggak penegasan dan percepatan UM Metro menuju cita-cita sebagai perguruan tinggi unggul baik pada di level provinsi (LLDIKTI Wil II) maupun nasional. Siapapun Rektor yang terpilih adalah orang yang bekerja untuk UM Metro dan bukan atas nama UM Metro. Aamiin.
Menjadikan UM Metro sebagai Perguruan Tinggi unggul di level provinsi atau LLDIKTI wilayah 2, apalagi level nasional tentulah bukan hal yang mudah untuk diwujudkan. Ada sejumlah faktor kritis baik yang bersifat eksternal maupun internal yang menggelayuti langkah kaki UM Metro untuk bisa melaju lebih kencang saat ini. Kendala yang bersifat eksternal terutama adalah ancaman Perguruan PT yang memiliki legitimasi resmi tetapi diberi kemudahan-kemudahan khusus dalam proses, semacam pemihakan, dari pemerintah dan lulusannya diakui sejajar. Hasilnya diperlakukan sama tetapi dengan standar proses yang berbeda dalam kegiatan akademiknya. Situasi ini mirip perlombaan lari 100 meter yang diikuti oleh beberap atlit, tetap sebagian atlit ditempatkan di lintasan beraspal halus dan sebagin lagi di lintasan becek dan penuh lubang. Memang betul semuanya bisa sampai finish tetapi dengan proses dan ongkos pengorbanan yang berbeda. Dalam kondisi demikian, diperlukan seorang leader yang bisa mengubah tantangan menjadi peluang.
Salah satu kemampuan sang leader yang penting adalah harus memiliki kemampuan membangun networking yang luas dan efektif (good outward looking) dengan pelbagai lembaga, perorangan, dan mitra, serta tidak jago kandang. Hingga saat ini UM Metro belum teruji dalam melibatkan pihak luar/stake holder, terutama untuk pendanaan pembangunan prasarana kampus. Kemampuan menjaring dana dari luar kampus memang bukan semata-mata tugas pimpinan, tetapi perlu dukungan dan peran nyata dari BPH (Badan Pembina Harian).
Tantangan lain yang tidak kalah beratnya adalah, ketika menjejaki Abad 21 berarti harus siap merespon sebuah kondisi perubahan besar-besaran dengan hadirnya Revolusi Industri 4.0 yang meniscayakan efek perubahan pada sistem dan metode perkuliahan di dunia kampus. Secara mendasar ada sejumlah literasi yang harus dikuasai di Era Industri 4.0, yakni: literasi data, literasi teknologi, literasi bahasa, dan literasi manusia.
Persoalan sekaligus tantangan internal juga tidak kalah peliknya, khususnya terkait kualitas SDM dosen dan karyawan. Pesan yang selalu berulang dari PP Muhammadiyah ketika berkunjung ke UM Metro, antara lain jangan takut dan ragu untuk meningkatkan SDM dosen yaitu studi lanjut ke S3. Pesan PP Muhammadiyah tersebut relevan, bila melihat masih banyak prodi di UM Metro yang belum memiliki minimal dua doktor. Jika untuk bantuan studi secara penuh dirasa belum mampu, mungkin dapat dibuat skema pembiayaan awal yang dapat membuat dosen merasa nyaman dan aman untuk studi di tahun pertama. Semoga dengan cara begitu semakin banyak yang bersemangat studi lanjut.

Untuk SDM karyawan secara kuantitas sepertinya sudah memadai, tetapi dari sisi spesifikasi keahlian yang belum memenuhi standar minimal untuk bidang-bidang tertentu. Hal ini salah satunya disebabkan oleh teknik rekruitmen yang tidak mengindahkan asas-asas meritokrasi, memberikan kesempatan dan penghargaan yang diberikan kepada seseorang sesuai keahlian atau prestasinya. Prof. Yunanhar Ilyas, salah satu waki Pimpinan Pusat Muhammadiyah, ketika memberikan pengarahan di UM Metro dengan tegas mengatakan: "Sebuah organisasi yang terlalu banyak diisi oleh kaum kerabat maka gerak roda organisasi tersebut akan mengalami perlambatan karena kesulitan menerapkan kaidah-kaidah profesionalisme dan budaya ewuh pakewuh akan muncul".
Hal serupa juga sudah lama ditulis oleh Hardi Hamzah yang berjudul "Virus Kaumanisme". Salah satu poinnya: Muhammadiyah adalah gerakan modernis tidak seharusnya menerapkan profesionalisme yang malu-malu dan nepotisme dalam sistem manajerialnya. Yang menjadi pertnyaan sekarang tentu saja, "Sanggupkah Rektor UM Metro yang akan terpilih nanti menjadikan UM Metro profesional dalam sistem manajerialnya?" Khusus untuk persoalan rekruitmen SDM, sebenarnya bukan hal sulit untuk diterapkan, yang penting pegang teguh prinsip transparansi dan akuntabilitas. Jika memang karyawan atau dosen UM Metro harus memiliki kemampuan "plus" yaitu AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan), jadikan hal itu sebagai instrumen resmi disamping kemampuan dasar dan umum. Jangan sampai terjadi ada orang (siapapun jabatannya) mendapuk calon karyawan atau dosen tertentu sebagai kader yang paling Muhammadiyah atau Islami. Biarkan bersaing secara fair dalam proses seleksi yang transparan dan akuntabel. Sehingga ke depan tidak lagi UM Metro dibebani dengan SDM titipan. Persoalan internal lain yaitu masih rendahnya kesadaran dari sebagian karyawan dan dosen, bahwa UM Metro adalah layaknya kebun milik kita bersama, maka perlu dirawat besama. Jika kita lalai merawat kebun kita, makan resikonya hasil panenan menurun atau malah lebih tragis: gagal panen. Kewajiban kita bersama untuk menyiangi, menyirami, dan memupuk kebun kita agar hasil panen mencukupi untuk kesejahteraan semuanya. Bukan hanya pimpinan, karyawan dan dosen pun harus berbuat: UNTUK UM METRO dan BUKAN ATAS NAMA UM METRO.
Kata Agus Salim (salah seorang Founding Father bangsa): "Memimpin adalah Menderita". Itu benar adanya, setidaknya berdasarkan beberapa alasan: pertama, pemimpin harus memprioritaskan kepentingan warga yang dipimpinnya dan rela me-downgrade (menurunkan) egonya sedemikian rupa demi kepentingan warga yang dipimpinnya. Tentu saja itu semua bukan pekerjaan yang mudah, terlebih bagi orang yang berorientasi memimpin sebagai sebuah prestisius atau kebanggaan pribadi dan keluarga, akan tambah menderita.
Kedua, siap tidak populer. Pemimpin yang berhasil itu ketika warga yang dipimpinya berkata: "Keberhasilan ini adalah hasil kerja keras kita bersama". Seorang pemimpin yang hebat harus siap namanya tidak disebut dalam sebuah keberhasilan, meskipun jelas keberhasilan itu adalah buah pikiran cemerlang sang pemimpin. Pemimpin harus ihklas, biarkan mereka yang tertulis dan terpampang di banner atau baliho. Pemimpin siap untuk tidak populer (pencitraan).
Ketiga, cakap menjalin komunikasi (berinteraksi) yang baik dan efektif dengan warga yang dipimpinnya, termasuk dengan mahasiswa. Bahasa agamanya silaturahim. Menjalin dan menjaga silaturahiim yang tulus, tidak diskriminatif dan tidak instrumentalis. Termasuk di dalamnya pandai memotivasi warga yang dipimpinnya melalui tutur katanya sehingga warganya lebih semangat bekerja. Misalnya, tidak boleh terjadi pada dosen, karyawan atau mahasiswa yang ingin menyampaikan suatu prestasi merasa tidak dihargai dan patah arang dikarenakan sang pemimpin malah lebih banyak pamer prestasinya sendiri. Seorang pemimpin bisa terpilih karena sudah diakui kehebatannya oleh warganya, sehingga tidak perlu lagi bersusah payah menghebat-hebatkan dirinya.
Last but not least, semua hal di atas bisa lebih mudah terwujud bila seorang yang terpilih nanti dapat memerankan dirinya sebagai seorang "Leadership" ketimbang Pejabat atau Petugas kampus. Penulis percaya masih banyak hal baik yang bersifat faktual maupun konseptual yang bisa ditulis dan diungkapkan sebagai otokritik dan masukan positif untuk kemajuan UM Metro ke depan, tetapi karena penulis sadar: bahwa apa yang saya pahami tidak sebanyak yang saya ketahui; apa yang saya ketahui tidak sebanyak yang saya kira. Maka, biarlah warga UM Metro lain yang melengkapi tulisan ini sebagai bentuk kepedulian dan kecintaan kita terhadap UM Metro, kebun harapan kita bersama.
Penulis : Dr. Achyani, M.Si.
.png)
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.