Demi Waktu

Demi Waktu

Opini UM Metro – Dalam al-Qur’an, Allah SWT menyebut adanya empat waktu yang menjadi penanda sekaligus penegasan tentang pentingnya penyebutan waktu-waktu itu. Empat waktu itu adalah Wal-Fajri (QS. Al-Fajr (89): 1);  Wad-Dhuha (QS. Ad-Dhuha (93):1); Wal-’Asri (QS Al-‘Asr (103):1); Wal-Laili idza Yaghsya (QS. Al-Lail (92): 1).

Allah menegaskan tentang pentingnya waktu-waktu sebagaimana tersebut setidaknya ada tiga alasan mendasar. Yang pertama, penyebutan waktu-waktu itu ditempatkan pada ayat pertama, ayat pembuka dari masing-masing surat. Lihatlah semua penyebutan waktu-waktu itu semua berada di letakkan pada ayat 1. Kedua, bunyi kalimat ayat 1 yang berisi penanda waktu dari masing-masing surat itu sekaligus menjadi nama surat. Dan yang ketiga, pada ayat 1 dari masing-masing surat itu Allah menggunakan atau mengawalinya dengan huruf wawu, yang kedudukan wawu itu dalam ilmu Bahasa Arab berarti wawu qasam yang bermakna sumpah dan  atau penegasan tentang pentingnya isim atau kalimat yang ada didepan wawu tersebut.

Wal Fajri, berarti Demi waktu fajar. Allah SWT bersumpah demi waktu fajar, yaitu waktu dimana cahaya fajar menampakkan diri. Cahaya fajar merupakan produk penyinaran matahari secara tak langsung, di mana matahari belum terbit namun berkas cahayanya telah sampai di permukaan bumi akibat  sifat  optis atmosfer bumi. Terbitnya fajar juga sebagai penanda masuknya waktu subuh dimana umat Islam memiliki kewajiban untuk melaksanakan shalat subuh.

Penegasan dan sumpah  Allah dalam al-Qur’an tentang pentingnya kita memperhatikan waktu fajar menunjukkan adanya pesan tersembunyi yang harus kita dalami dan renungkan secara kontemplatif. Waktu fajar adalah waktu dimulainya kembali denyut kehidupan setelah manusia lelap pulas dalam tidurnya. Dari tidur lelap yang laksana mati kecil manusia kemudian bangun dan siap mengarungi kehidupan. Karena itu waktu fajar mengingatkan manusia akan awal mula penciptaan dirinya, awal mula kelahirannya dari rahim ibunda, yaitu dari tidak ada kemudian menjadi ada. Dari tidak adanya kehidupan menjadi adanya kehidupan.

Namun harus diingat, dalam surat Al-Fajr ayat 2, setelah Allah bersumpah demi waktu fajar, Allah berfirman Walayaalin ‘asyr, yang artinya “Demi malam yang sepuluh”. Para mufasir menjelaskan malam yang sepuluh itu merujuk kepada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, tetapi ada juga yang memaknai malam kesepuluh dari bulan Dzulhijjah. Disamping pemaknaan dari para mufasir tersebut, ayat kedua dari surat al-Fajr itu dapat juga dimaknai bahwa ketika kita berada atau masuk di waktu fajar, kita diingatkan untuk melihat waktu malam. Waktu malam itu adalah waktu kegelapan, waktu kematian bagi manusia, yaitu ketika manusia dimatikan sementara dalam tidur pulasnya. Artinya manusia seolah-olah diingatkan bahwa setiap kelahiran manusia baru atau hadirnya kehidupan baru, maka akan berakhir dengan ketiadaan atau kematian.

Wad-Dhuha, artinya Demi waktu Dhuha, yaitu waktu ketika matahari setinggi sepenggalahan setelah terbit. Para ahli fikih mengilustrasikan waktu dhuha adalah waktu ketika matahari berada dalam posisi setinggi tombak. Inilah waktu bagi umat Islam untuk melaksanakan shalat sunah dhuha. Waktu dhuha adalah waktu yang lazim digunakan manusia sebagai awal memulai aktivitas kehidupan atau waktu untuk mulai bekerja, bertebaran ke muka bumi untuk menggapai rezeki. Inilah waktu dimulainya bekerja dan berproduksi.

Perintah shalat sunah dhuha terkandung makna bahwa sebelum beraktivitas melakukan pekerjaan, manusia diingatkan bahwa bekerja itu harus senantiasa diniatkan untuk mencari keridhaan Allah SWT. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tidak boleh lembek dan malas, kerja keras dengan produktivitas yang tinggi. Namun jangan lupa pekerjaan itu haruslah pekerjaan yang baik dan halal dan diniatkan semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT. Setelah bekerja dan berusaha dengan keras, bertawakkalah kepada Allah, serahkan semua hasilnya kepada Allah SWT. Dengan demikian, wad-dhuha mengingatkan manusia bahwa bekerja bukan hanya sekedar mencari uang atau cuan, tetapi dalam bekerja terdapat nilai-nilai transenden dan nilai spiritualitas.

Lagi-lagi setelah Allah bersumpah demi waktu dhuha, dalam ayat kedua surat ad-Dhuha, Allah berfirman Wal laili idza saja, yang artinya “Demi malam apabila telah sunyi dan gelap”. Manusia diingatkan kembali, bahwa setelah datangnya waktu dhuha dimana setiap manusia mulai beraktivitas, Allah mengingatkan tentang adanya waktu malam yang diselimuti kesunyian dan kegelapan. Maknanya, bahwa ketika manusia bekerja mencari nafkah. Membanting tulang berjibaku dalam kehidupan duniawi. Manusia diingatkan bahwa setelah itu akan datang kesunyian dan kegelapan. Kesunyian dan kegelapan itulah saat datangnya kematian. Pesannya, bekerjalan dengan sungguh-sungguh, namun ingat jadikan bekerja dan kehidupan duniawi itu sebagai bekal menghadapi kematian.

Wal-‘Asri, artinya Demi waktu asar. Waktu asar adalah waktu dimana matahari berada dalam posisi condong ke arah barat dan bayangan suatu benda lebih panjang dari ukuran aslinya. Inilah waktu yang menandai masuknya kewajiban shalat ‘asar. Waktu ‘asar adalah waktu yang juga sebagai penanda mulainya waktu istirahat bagi manusia setelah seharian bekerja mencari nafkah, beraktivitas dalam kehidupan duniawi, yang dimulai sejak waktu dhuha. Waktu ‘asar sering juga digunakan sebagai simbol  manusia yang mulai menua yaitu ketika usia manusia sudah memasuki usia tua menjelang penghujung kehidupannya yaitu datangnya kematian. Waktu kematian sering disimbolkan dengan waktu maghrib, yaitu ketika matahari terbenam.

Karena itu, kita sering dinasehati ketika bicara umur. “Ingat usiamu, ibarat waktu sudah masuk waktu asar. Artinya sebentar lagi akan bertemu maghrib atau kematian. Segera bertobatlah dan memperbanyak ibadah”. Begitu kira-kira nasehatnya. Jadi ketika Allah bersumpah “Demi waktu ‘asar” bermakna mengingatkan manusia  bahwa jatah usianya sudah mulai berakhir, sudah waktunya menyongsong kematian, sudah waktunya beristirahat dari hiruk pikuk kehidupan duniawi, serta bersiap diri dengan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT.

Dalam ayat kedua dan ketiga surat al-‘Asr, Allah mengingatkan: Innal insaana lafii husr, Illal ladzina aamaanu wa ‘amilushalihat, yang artinya “Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih”. Dengan ayat kedua dan ketiga ini Allah mengingatkan kepada manusia bahwa ketika masuk waktu ‘asar, inilah saatnya manusia melakukan instrospeksi diri terhadap apa yang sudah dilakukannya setelah seharian beraktivitas. Pada saat ‘asar itulah segala hal yang dilakukan sejak fajar, dhuha hingga ketemu waktu ‘asar, manusia bisa menilai semua amalan dan perbuatannya. Sehingga Allah sampai menyatakan bahwa semua manusia itu diliputi kerugian, kecuali mereka yang dalam aktivitas hidupnya diliputi oleh iman dan amalan-amalan yang baik.

Wal-Laili idza Yaghsya, yang artinya Demi malam apabila menutupi (cahaya siang). Waktu malam adalah waktu dimana matahari tenggelam, setelah seharian bersinar. Dengan datangnya waktu malam, maka dunia yang tadinya terang berendang, berangsur redup dan akhirnya gelap gulita. Hitam pekat tanpa cahaya, seperti bumi yang diselimuti kain hitam tebal. Ini ibarat berakhirnya kehidupan dunia yang penuh cahaya bagi manusia. Malam dan kegelapan adalah simbol kematian atau berakhirnya kehidupan.

Dengan demikian, ketika Allah bersumpah demi waktu malam, hal itu mengingatkan kepada manusia bahwa pada akhirnya kehidupan manusia di dunia akan mengalami keberakhiran yaitu dengan datangnya kematian. Pesan Allah bahwa ketika waktu fajar untuk ingat  waktu malam atau juga ketika waktu dhuha untuk ingat malam, pada akhirnya sampai dan terwujud. Sekaligus mengingatkan manusia  bahwa siklus kehidupan yang diawali dengan kelahiran, lalu tumbuh besar menjadi dewasa dan pada puncaknya adalah kematian. Sumpah Allah demi waktu-waktu tersebut menunjukkan bahwa siklus manusia itu dari tidak ada menjadi ada, dan pada akhirnya menjadi tidak ada kembali. Manusia yang beruntung ketika dalam posisi “ada” adalah mereka yang beriman dan beramal shaleh. (mh.08.01.21)

Penulis: Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Anggota BPH UM Metro)