Cara Membentengi Diri dari Paham Radikalisme

Laman Opini UM Metro – Pertama, saya ingin sampaikan kegelisahan yang saya rasakan akhir-akhir ini bahkan tidak sering beberapa lembaga Pemerintahan gencar sekali membahas tentang isu radikalisme, ancaman makar dan keamanaan negara. Maka saya akan mencoba berbagi tentang definisi radikalisme dan bagaimana membentengi diri ini akan paham radikal.

Terlebih dahulu, saya akan mengajak pembaca menyatukan persepsi makna Radikal yang sebenarnya.

Saya yakin jika teman-teman mendengar istilah radikalisme ini, yang terlintas di pikiran kita adalah kekerasan, bom, dan hal-hal negatif lainnya. Ini terjadi karena kebanyakan media menggunakan kata radikal ketika memberitakan berita-berita kekerasan sehingga secara otomatis kita memaknai kata radikal sebagai sesuatu yang negatif.

Menurut para ahli yang saya sepakati istilah radikal adalah afeksi atau perasaan yang positif terhadap segala sesuatu yang bersifat ekstrim sampai ke akar-akarnya. Sikap yang radikal akan mendorong perilaku individu untuk membela secara mati-matian mengenai suatu kepercayaan, keyakinan, agama atau ideologi yang dianutnya. (Sarlito Wirawan : 2012)

Secara mendasar radikal ini adalah pemahaman keagamaan yang mengakar, sehingga akan membuat pengantutnya, akan memperjuangkan, mempersembahkan, harta, jiwa dan ilmunya untuk agama ini.

Nah ironinya, itulah kondisi yang saat ini, paham radikal keagamaan yang hilang di tubuh umat islam khususnya kalangan pemuda, banyak sekali tawaran kehidupan dunia yang melalaikan, gaya hidup, terkikisnya aqidah umat muslim yang menyerang ghazul fikri, tampak sekali jelas merusak moral, budaya, agama. Jika tak sungguh-sungguh memeranginya dengan paham ilmu agama yang baik, maka tunggulah kehancurannya.

Betullah ada sebuah perkataan yang menyatakan bahwa semakin bertambah generasi manusia di dunia ini, maka akan semakin bertambah bobrok, lebih khususnya paham keagamaannya, sehingga merusak moral itulah yang dilakukan dan ini banyak terjadi pada masyarakat kecil, sehingga pada pangkalnya kelompok- kelompok yang tidak menyukai akan memanfaatkan kesempatan ini, demi merusak, menghancurkan guna mencapai tujuan tertentu. Semoga Allah laknat kelompok-kelompok ini, Allah akan tunjukan dengan caraNya.

Khususnya saya ingin mengajak angkatan muda, generasi yang akan memahat gunung, mencabut semeru, menjadi pemimpin pada masa yang akan datang dengan iman, dengan ilmu dan hartamu.

Yang harus ditanyakan dalam diri masing-masing, apakah kita hidup di dunia ini akan menjadi kebanggaan umat atau bahkan menjadi beban untuk umat ini!

Pertanyaan soal cara membentengi diri dari paham yang dianggap radikal, mulailah dengan belajar ilmu agama, menguasai kecerdasan spritual. Sungguh dalam hadist Shahih Riwayat Bukhari "Tanda Allah berikan kebaikan pada diri manusia, Allah lebihkan dengan diberikan pemahaman ilmu Agamanya".

Mulailah, dengan membaca buku, sejarah kemuliaan kehidupan Rasulullah SAW, beserta para sahabat dan tokoh umat islam lainnya. Bagaimana Akhlaqnya, bagaimana perjuangannya menyebarkan Islam Rahmatan Lil ‘alamin, itulah contoh terbaik pada umat ini.  Jangan kita meniru, menyukai, sosok yang belum tentu menolong kita di akhirat, film korea, pemain sebak bola yang belum jelas kadar keimanannya, buat apa kita mencintai mereka yang tidak beriman, gak ada gunanya.

Kedua, hadirilah majelis-majelis Ilmu, berkumpul dengan orang-orang yang shalih dan shalihah yang mengajak pada kesabaran, saling berkasih sayang. Sangat banyak di sekitar kita, asalkan ada niat, ingin bersungguh-sungguh mendapatkan, insya Allah.

“Kita akan mendapatkan apa yang kita cari,” sebagaimana pepatah arab.

Terakhir, amalkan dengan akhlaq yang mulia!

Dengan aksi nyata atas ilmu yang sudah didapat, sampaikanlah ilmu yang kita dapatkan, ajak saudara-saudara kita pada kebaikan,cegah kemungkaran.

Jangan diam melihat orang-orang yang kita lihat dengan mata, yang kita dengar dengan telinga dengan menyengaja membiarkannya. Anda mau dia ini tuntut engkau di akhirat? Karena membiarkannya berbuat dzalim dahulu di dunia. Karena Allah adalah sebaik-baiknya Pengadilan, Keadilan di yaumil kiyamah. Tidak satupun yang dapat luput atas perbuatannya selama hidup di dunia, bahkan daun jatuh pun atas izin Allah.

Catatan terakhir, perhatikan!

Apakah engkau ini menjadi kebanggaan Untuk umat ini, atau bahkan beban untuk umat ini. Sungguh dengan kondisi saat ini yang dibutuhkan oleh umat ini, berjuanglah, dengan Ilmumu, dengan hartamu. Bukan dengan nyawa yang kita berikan sia-sia.

Semoga kita semua diberikan taufiq dalam membentengi Iman, ilmu dan dengan semangat yang membaja. Hanyalah kepada Allah-lah kita takut.

Penulis : Harbi Gemeli Putra (Mahasiswa Hukum UM Metro)



Tinggalkan Balasan