Bisakah Menghentikan Otak Kita untuk Dont Judge a Book by Its Cover
- 1 Agustus 2018
- Posted by: Humas UM Metro
- Category: Uncategorized @id
Laman Opini UM Metro – "Categories mediate our interactions with the world" (Smith, 1989*).
Kita selalu diingatkan untuk tidak menilai seseorang berdasarkan penampilan luarnya, "Dont judge a book by its cover". Tapi senyatanya, sistem kerja otak manusia cenderung melanggar nasihat bijak tersebut.
Ketika kita bertemu dengan sesuatu yang baru, baik orang baru, hewan baru, benda baru, atau semisalnya. Otak kita secara cerdas akan berusaha mengelompokkan stimulus yang baru tersebut berdasarkan beberapa kategori yang pernah ia pelajari seperti baik – buruk, indah – jelek, saleh – jahat, aman – bahaya, dan semisalnya. Pengelompokan harus dilakukan oleh otak kita, agar kita dapat merespon stimulus tersebut dengan tepat.
Kategorisasi hadir dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan sangat penting. Coba bayangkan bagaimana jadinya ketika otak berhenti melakukan kategorisasi. Ketika kita bertemu ular berbisa, dan otak berhenti melakukan kategorisasi buas – jinak, bisa jadi kita akan memberikan respon yang salah. Atau misalnya ketika kita bertemu orang baru, jika otak berhenti melakukan kategorisasi, maka kita pun mungkin akan salah memberikan respon terhadap orang baru tersebut.
Tentunya kedua kemungkinan contoh di atas akan sangat jarang terjadi. Karena otak akan secara otomatis mengelompokkan stimulus yang kita temui ke dalam beberapa kategori. Otomatis, yang terkadang kita tidak sadari. Kemampuan otak melakukan kategorisasi melekat dalam fungsi kognitif manusia. Tidak hanya sekedar membantu kita merespon dengan tepat. Kategorisasi juga membantu kerja ingatan dalam menyimpan dan merecall informasi.
Kategorisasi mensuplai prinsip pengorganisasian dalam ingatan. Sehingga informasi tersimpan secara rapi dalam ingatan, berdasarkan kategori yang dilakukan. Hal ini akan membantu kita mengingat lebih banyak informasi dan lebih mudah merecall apa yang sudah kita ingat. Analogi sederhana ketika kita menyimpan kaos kaki, baju, dan celana di dalam sebuah lemari. Ketika kaos kaki, baju, dan celana tersebut kita simpan secara rapi dan berkelompok, maka akan lebih mudah kita temukan ketika kita membutuhkan benda tersebut. Begitu pula ketika kita akan memasukkan sebuah kaos kaki baru, maka kita akan lebih cepat untuk menentukan akan ditaruh di sebelah mana. Khusus dalam kinerja ingatan, ketika kita sudah berhasil melakukan kategorisasi, maka informasi tidak perlu disimpan bulat utuh, tetapi cukup atribut melekat yang cocok dengan kategori yang sudah kita miliki, sehingga kita bisa menyimpan banyak hal.
Karena kategorisasi melekat pada fungsi kognitif otak. Maka kita akan selalu menilai orang yang belum terlalu kita kenal berdasarkan penampilan luarnya. Otomatis dan terkadang tidak kita sadari. Ketika kita melihat ada orang mengenakan kaos dan bercelana pendek hadir ke resepsi resmi pernikahan, maka secara otomatis, bisa dipastikan otak kita akan mengkategorikan orang tersebut sebagai orang gila. Bisakah kita menilai kepribadian sesorang yang baru kita temui dengan tepat, dalam waktu sebentar, 1 jam misalnya? Sangat sulit. Bahkan para psikolog pun membutuhkan alat bantu berupa tes psikologi, agar tebakan terhadap kepribadian seseorang bisa tepat dilakukan, walau dalam waktu yang singkat.
Sehingga wajar jika seseorang salah dalam melakukan kategori, terutama pada impresi pertama. Yang tidak wajar, ketika seseorang salah dalam milih kategori penilaian. Misalnya pada kasus audisi dangdut yang viral belakangan ini. Untuk seleksi menyanyi, kategori seharusnya dipilih berdasarkan merdu – sumbangnya suara, bukan baik – buruknya penampilan. Tentunya netizen menyalahkan sang juri bukan karena dia salah menilai, tapi karena sang juri salah memilih kategori penilaian. Apalagi sang juri sudah berpengalaman dalam dunia menyanyi. Kesalahan dalam memilih kategori penilaian, tentu sulit untuk ditolerir oleh netizen.
Lalu bagaimana sistem kategori terbentuk di otak? Bagaimana kita bisa mengelompokkan ular ke dalam kategori buas, bukan ke dalam kategori jinak? Orang bercelana pendek di resepsi pernikahan sebagai orang gila? Tentunya berdasarkan informasi yang masuk dalam otak kita. Informasi yang kita dapatkan dari awal kelahiran hinga saat ini. Sehingga berdasarkan informasi tersebut kita membangun kategori. Mengelompokkan dan mengkotak-kotakan tiap informasi baru yang kita dapat. Kategori yang kita bangun bersifat dinamis. Bisa berubah-ubah berdasarkan informasi baru yang kita dapat. Kita bisa saja menilai sebuah atribut A baik, kemudian seiring waktu menilai atribut A jelek. Yang tidak berubah, kita akan selalu menilai buku berdasarkan covernya, terutama pada impresi pertama.
Oleh sebab itu, otak kita memang harus selalu dinasehati untuk tidak menilai seseorang berdasar tampilan luarnya, "Dont judge a book by its cover". Mengingatkan otak kita untuk mengaktifkan fungsi inhibisi yang dimilikinya. Secara singkat dalam konteks tulisan ini, fungsi inhibisi diartikan sebagai sikap hati-hati untuk tidak sesegera mungkin memberikan penilaian terhadap seseorang.
*Smith LB. 1989. A model of perceptual classification in children and adults. Psychological review. 96:125-144.
Penulis : Satrio Budi Wibowo, M.Psi. (Dosen Prodi Bimbingan dan Konseling FKIP UM Metro)
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.