Beri Kuliah Pakar di UNS, Achyani Ajak Tumbuhkan Literasi Sains dan lingkungan dari Alam Sekitar

Beri Kuliah Pakar di UNS, Achyani Ajak Tumbuhkan Literasi Sains dan lingkungan dari Alam Sekitar

UM Metro – Salah seorang dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Metro Dr. Achyani, M.Si. berkesempatan menjadi pemateri tunggal dalam Kuliah Pakar di Program Studi S2 Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret.

Kuliah pakar ini berlangsung secara virtual melalui platform zoom meeting pada Selasa (16/11/2021) pukul 09.00 sd 11.30 WIB yang ditujukan diikuti oleh mahasiswa, alumni, dan dosen prodi S2 dan S3 Pendidikan Sains UNS.

Achyani mengajak peserta untuk menumbuhkan literasi sains (science literacy) dan lingkungan (environmental literacy) berbasis permasalahan lingkungan di sekitar.

“Literasi Sains saja tidaklah efektif untuk menghasilkan lulusan sekolah yang sadar dan peduli terhadap permasalahan lingkungan sekitar. Diperlukan ketulusan, empati, simpati, altruis, dan kerelaan berkorban dari seseorang untuk dapat melakukan tindakan yang peduli lingkungan,” jelas Achyani kepada peserta.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM Metro ini juga menerangkan sekolah memiliki peranan penting dalam menyusun desain pembelajaran yang dapat mengintervensi siswa miliki 4 karakter peduli lingkungan.

“Desain pembelajaran di sekolah harus dapat mengintervensi siswa agar memiliki 4 karakter peduli lingkungan tersebut, atau setidaknya tidak merusak lingkungan,” tambah Achyani.

Menurutnya sudah sepatutnya pihak sekolah dapat memberikan kesadaran kepada siswa agar tidak merusak lingkungan yang ada.

“Nilai karakter tersebut harus ditanamkan, jika siswa tidak dapat merawat lingkungan dengan baik, minimal mereka tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak pohon sembarangan, dan dapat menggunakan kendaraan secara efisien dan lain sebagainya,” tambahnya.

Lebih lanjut dosen yang berhome-base di Prodi S2 Pendidikan Biologi UM Metro ini menegaskan pelanggaran demi pelanggaran terhadap ke lestarian lingkungan justru banyak dilakukan oleh orang yang berpendidikan.

“Sebagai bukti, apakah kita bisa membedakan perilaku orang yang berpendidikan formal dengan yang tidak? Coba kita perhatikan: Siapa yang paling banyak melanggar peraturan lalu lintas? Siapa yang paling banyak membuang sampah secara sembarangan (dari mobil di jalan)? Siapa yang berdemonstrasi dengan cara merobohkan pohon dan merusak pot tanaman di gedung DPR, padahal isu yang diusung demonstran tidak ada relevansinya sama sekali dengan keberadaan pohon tersebut? Atau siapa yang paling banyak melakukan illegal logging? Jawabannya, justru orang yang berpendidikan menengah dan tinggi,” jelas Achyani.

Ia menilai banyak perilaku orang berpendidikan di negeri ini bukan karena berasal dari intervensi pendidikan melainkan karena sifat dasar kebiasaan dari rumah.

“Jadi, dimana artikulasi budaya pendidikan pada diri orang berpendidikan jika memang ada? Perilaku yang kita saksikan dari orang-orang berpendidikan di negeri ini hanyalah ekspresi dari sifat dasar mereka masing-masing yang dibawa dari rumah, bukan karena intervensi pendidikan yang diperolehnya. Kita dapat mengajukan pertanyaan hipotetik juga: 1) mungkin fakta di atas disebabkan pembelajaran di sekolah yang terlalu menekankan aspek kognitif daripada aspek afektif dan psikomotorik; 2) mungkin kesadaran dan kepedulian selama ini hanya sebagai dampak pengiring dan belum by design dari sebuah kurikuler pembelajara IPA,” pungkasnya.