Bahagia dengan Qur’an: Yuqinun Sistem Keyakinan Kunci Kesuksesan

Bahagia dengan Qur’an: Yuqinun Sistem Keyakinan Kunci Kesuksesan

Laman Opini UM Metro – Dalam surat Al-Baqarah, Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan ciri-ciri orang beriman adalah yakin, yakni Yakin kepada hari akhir.

Yakin adalah kepercayaan tanpa tapi, keyakinan tanpa ragu dan dengan keyakinan dia akan berani melakukan apapun yang dia yakini.

Dalam pembahasan ilmu motivasi sering disebut ‘believe system’. Sistem keyakinan yang menggerakkan manusia dan mengubah kehidupan manusia.

Saat ini dalam dunia ilmu pengetahuan, permasalahan yang tak kunjung selesai adalah masalah posisi keyakinan.

Sehingga iman tidak pernah menjadi dasar perkembangan ilmu pengetahuan. Karena iman atau keyakinan dianggap masalah pribadi (privacy).

Kalaupun ada penelitian terhadap sebuah keyakinan, pendekatan yang dipakai adalah positifisme dengan melihat fakta empirik keimanan, akhirnya kesimpulan yang hadir adalah apa yang nampak.

Model pendekatan memahami iman ini menjadi masalah besar, akhirnya saat ini agama menjadi cibiran, karena fakta realitasnya tidak memberikan pengaruh besar pada manusia.

Misalnya, pernyataan Sholat dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar, ternyata ketika diteliti secara empirik banyak orang sholat masih berbuat kemungkaran, akhirnya disimpulkan sholat tidak memberikan pengaruh.

Misal lagi dalam kontek hukum, ada hukum qisas, ketika dilakukan riset semua manusia menolak, karena bertentangan dengan norma-norma yang ada, akhirnya disimpulkan bahwa hukum ini tidak layak.

Misal lain dalam hukum keluarga masalah poligami, ketika diriset banyak masalah disebabkan poligami, akhirnya disimpulkan syariat ini tidak layak dan tidak sesuai saat ini.

Seyogyanya, sebagai orang yang beriman dan yakin, kita meyakini dahulu semua ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian meneliti apa hikmahnya, kemudian menjadikan ilmu pengetahuan, dan mengamalkannya.

Demikianlah orang beriman berfikir, iman-yakin, kemudian mengilmui iman tersebut. Bukan menganalisis iman dengan akal yang terbatas, apalagi meriset dengan mengumpulkan data dari wawancara orang yang tak beriman.

Al-Qur’an menjadikan iman sebagai tolok ukur sukses tidaknya kita di akhirat. Maka Rasulullah menyampaikan, manusia akan masuk surga walau hanya ada sebesar biji sawi iman.

Iman akan gugur jika kita ragu satu ayat saja dalam Al-Qur’an. Keraguan itu bisa dating secara langsung, atau dengan pengaruh berbagai data riset yang kita baca. Mari beriman dan mengilmui iman.

Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)