Bahagia dengan Al-Qur’an: Penyebab Kematian Hati

Bahagia dengan Al-Qur’an: Penyebab Kematian Hati

UM Metro – Allah SWT telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat (Al Baqarah ayat 7).

Khatamallahu, menurut As-Saddi maknanya ialah “Allah mengunci mati.”

Menurut Qatadah, ayat ini bermakna “Setan telah menguasai mereka, mengingat mereka taat kepada keinginan Setan, maka Allah mengunci mati kalbu dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka terdapat penutup. Mereka tidak dapat melihat jalan hidayah, tidak dapat mendengarnya, tidak dapat memahaminya, dan tidak dapat memikirkannya”.

Penulis memahami bahwa ketika Allah menutup hati dengan penutup yang sangat tebal, hakikatnya semua ini karena perbuatan dosa mereka yang terus menerus, sehingga dosa dosa inilah menutupi hati mereka, sehingga tak ada celah yang dapat dimasuki cahaya hidayah.

Ketika cahaya hidayah tertutup maka akhirnya telinga, penglihatan mereka sudah enggan menginderai kebenaran dan kebaikan.

Sebagaimana Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang mukmin itu apabila berbuat suatu dosa, maka hal itu merupakan noktah hitam pada hatinya. Tetapi jika dia bertobat dan kapok serta menyesali, maka tersepuhlah hatinya (menjadi bersih kembali). Tetapi apabila dosanya bertambah, maka bertambah pulalah noktah hitam itu hingga (lama-kelamaan) menutupi hatinya, yang demikian itulah yang dimaksudkan dengan istilah ar-ran di dalam firman-Nya, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi mereka.” (Al-Muthaffifin: 14) (HR. Tirmidzi)

Hati adalah kunci baik tidaknya seseorang, hati adalah motor penggerak segala yang ada dalam diri manusia, semua anggota badannya, inderanya dan fikirannya.

Demikianlah kuatnya hati, sehingga tugas Nabi dalam risalahnya adalah melakukan tazkiah atau pensucian hati manusia dari segala kotoran dosa sehingga mereka menajdi manusia yang mampu berfikir, merasa dan bertindak dengan baik dan benar.

Nilai profetis tazkiah inilah yang hendaknya muncul dan dimunculkan dalam diri pelaku peradaban, mereka adalah manusia yang selalu melepaskan diri dari jerat dosa besar kepada Allah SWT, dan dosa horizontal kepada manusia dan alam semesta.

Dalam membangun peradaban keberhasihan hati menjadi kunci, keikhlasan, ketawaduan, keistiqamahan dan kesemangatan. Hati yang bersih jauh dari memperdebatkan masalah masalah kecil yang hanya akan menggores hati insan profetis.

Kebersihan hati (qalbun Salim) akan menjadikan insan profetis lebih produktif memberi dan menyebarkan manfaat dalam kehidupan, mereka disibukan dengan membaca,menulis dan beramal nyata demi terwujudnya peradaban yang mulia dalam naungan Ridho Allah SWT, karena speace otak dan hatinya hanya fokus pada kebenaran dan kebaikan, fokus pada perinta Allah SWT dan rasul Nya.

Apapun profesi yang saat ini menempel, kebersihan hati menjadi kunci kebahagiaan dunia dan akhirat, mengapa?

Yang pertama karena surga hanya akan dimasuki oleh mereka yang bersih hatinya.

Kedua dengan kebersihan hati semua manusia akan melepaskan kepentingan sahwatnya berlebihan, sehingga dia akan selalu berjalan pada jalan kebenaran. Bukan menjadikan profesinya untuk mendapatkan keuntungan pribadi yang merugikan kehidupan manusia dan lingkungan.

Demikianlah tugas profetik yang hendaknya dijalankan oleh mereka yang merasa memiliki ilmu apapun jenisnya, bagaimana membersihkan hati dalam rangka membangun kehidupan yang lebih beradab sesuai aturan Allah SWT serta aturan aturan yang disepakati baik undang undang atau aturan dibawahnya.

Dengan kebersihan hati manusia akan mendapatkan kebahagiaan totalitas, kebahagiaan duniawi dan ukhrowi.

Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)