Bahagia dengan Al-Qur’an: Orang Beriman Selalu Mendapat Petunjuk Allah

Bahagia dengan Al-Qur’an: Orang Beriman Selalu Mendapat Petunjuk Allah

Laman Opini UM Metro – Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:” Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang beruntung (Al-Baqarah ayat 5).

Kebahagiaan tertinggi orang beriman adalah selalu mendapatkan petunjuk Allah SWT. Para ulama menyebutkan petunjuk ini sebagai bimbingan, arahan, dan cahaya yang akan menggerakkan orang beriman kepada kebaikan dan kebenaran.

Hudan atau petunjuk ini adalah mutlak yang Allah SWT berikan kepada hamba-Nya yang dikehendaki. Sehingga langkahnya, cara berfikirnya dan kehendaknya selalu berada di jalur kebenaran.

Cahaya ini dalam istilah ilmu pengetahuan Islam adalah firasat. Sehingga Rasulullah pernah menyatakan “Hati-hatilah kalian dari firasatnya orang Mukmin, karena mereka memandang kalian dengan Nur Cahaya Allah.”

Firasat itu adalah suatu kelebihan yang Allah tanamkan langsung dalam hati para kekasih-Nya, sehingga dapat mengetahui sebagian permasalahan yang dihadapi manusia, dan biasanya tebakan atau pengetahuannya itu selalu benar. Artinya, seorang waliyullah mendapatkan kelebihan itu karena sebuah karamah anugerah dari Allah atas keimanannya.

Firasat adalah ilmu yang paling murni yang hadir dalam diri orang yang beriman, karena itu adalah murni bimbingan Allah SWT. Akan tetapi syarat-syarat Hudan sudah dilakukan, sehingga dia layak menjadi ilmuan yang dikaruniai firasah.

Dalam kajian filsafat ilmu atau kajian Ipteks paradigma, firasat adalah paradigma yang tidak mendapatkan perhatian, bahkan cenderung dinafikkan, padahal inilah yang membedakan antara ilmu dalam Islam dan ilmu secara umum.

Para ulama mereka memiliki ketajaman berfikir karena senantiasa bertahanus atau berkhalwat dengan Allah SWT, memikirkan masalah umat dan masalah apapun, dengan tulus mereka memohon bimbingan Allah SWT, sehingga Allah SWT bimbing dengan cahaya-Nya.

Akan tetapi para ilmuwan kadang menganggap paradigma ini adalah tidak ilmiah, karena memang tidak menggunakan jalur ilmiah dan objek yang empirik.

Dalam keilmuan Islam hal ini juga dikenal dengan pendekatan Irfani, yaitu pendekatan dengan makrifatullah. Menjadikan Allah sebagai jalan menyelesaikan segala permasalahan yang ada dalam kehidupan.

Andai saja, para ilmuwan menjadikan paradigma ini sebagai kekuatan, maka mereka akan melakukan kajian keilmuan dengan penuh ketulusan, sesuai perintah Allah, jauh dari nafsu syahwat kepentingan dan tidak akan melakukan kebohongan akademik.

Maka dalam sejarah Islam kadang para ulama menajdikan mimpi mereka sebagai sebuah insight dalam membangun fatwa, karena mereka yakin akan kebenaran itu.

Mengapa keyakinan itu hadir? Karena telah terkumpul dalam diri mereka iman, ilmu dan amal. Sehingga menggumpal menjadi ketakwaan.

Ketika mereka ilmuwan telah bertakwa maka mereka akan langsung dididik Allah SWT sebagaimana Allah berfirman:

“Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarkanmu.“ (Qs. al-Baqarah ayat: 282).

Saat ini ilmuwan Islam harus menambah satu paradigma tertinggi ini jika ingin membangun peradaban utama kembali.

Penulis: Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I.