Assoc. Prof. Dr. Dwi Santoso: Kunci Lolos PhD adalah Menjadi Ahli pada Bidang yang Spesifik

METRO – Menentukan bidang keahlian yang spesifik menjadi salah satu kunci utama keberhasilan menempuh studi doktor (PhD). Pesan tersebut disampaikan Assoc. Prof. Dr. Dwi Santoso, Ph.D., Senior Lecturer Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM), saat menjadi narasumber pada International Academic Coaching Program yang digelar Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro) bekerja sama dengan UMAM di Auditorium Gedung dr. Soetomo UM Metro, Sabtu (4/7/2026).

Dalam paparannya, Dr. Dwi menekankan bahwa tantangan terbesar calon mahasiswa doktoral bukan sekadar menyusun proposal penelitian, melainkan menemukan keunikan riset yang mampu menjadikan peneliti sebagai seorang ahli (expert) pada bidang tertentu.

Menurutnya, banyak proposal PhD ditolak bukan karena kualitas penulisnya rendah, melainkan karena belum mampu menunjukkan research gap yang jelas dalam literatur ilmiah.

“Pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah, What expert are you going to be? Anda ingin dikenal sebagai ahli di bidang apa? Ketika Anda memiliki keahlian yang spesifik, proses menyelesaikan studi doktor akan jauh lebih terarah dan bermakna,” ujarnya.

Ia mendorong peserta untuk tidak memilih topik penelitian hanya karena sedang populer atau telah banyak diteliti. Sebaliknya, calon peneliti perlu berani mengeksplorasi bidang yang masih minim dikembangkan sehingga mampu memberikan kontribusi baru bagi ilmu pengetahuan.

Sebagai contoh, Dr. Dwi membagikan pengalamannya saat menempuh studi doktoral. Meski berlatar belakang Pendidikan Bahasa Inggris, ia memilih fokus pada linguistik forensik, bidang yang saat itu masih relatif sedikit dikembangkan. Pilihan tersebut kemudian membawanya menjadi saksi ahli dalam berbagai perkara hukum di Indonesia hingga Malaysia.

“Saya ingin memberikan sesuatu yang baru. Jangan hanya mengejar gelar PhD, tetapi pikirkan kontribusi apa yang ingin Anda berikan kepada masyarakat dan dunia akademik,” jelasnya.

Selain membahas strategi menentukan topik penelitian, Dr. Dwi juga mengingatkan pentingnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara bertanggung jawab. Menurutnya, AI merupakan alat yang sangat membantu dalam pencarian literatur, penyusunan referensi, hingga proses penulisan akademik, namun tidak boleh menggantikan kemampuan berpikir kritis peneliti.

Ia menjelaskan bahwa berbagai platform seperti ChatGPT, Grammarly, SciSpace, maupun perangkat pendukung akademik lainnya dapat mempercepat pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari. Namun demikian, pemahaman konsep tetap harus dibangun melalui proses membaca dan analisis secara mandiri.

“AI boleh digunakan, tetapi jangan sampai membuat kita kehilangan kemampuan berpikir. Gunakan AI sebagai pendamping, bukan sebagai pengganti proses belajar,” tegasnya.

Lebih lanjut, Dr. Dwi memperkenalkan kerangka penyusunan proposal doktor yang kuat, mulai dari mengidentifikasi research gap, menyusun tujuan penelitian yang jelas, merancang metodologi yang tepat, hingga menghindari kesalahan-kesalahan umum yang sering menyebabkan proposal ditolak.

Ia juga memperkenalkan konsep hybrid research workflow, yakni memadukan kemampuan analisis peneliti dengan pemanfaatan teknologi AI secara etis sehingga proses penelitian menjadi lebih efektif tanpa mengurangi kualitas akademik.

Melalui sesi yang berlangsung interaktif, para peserta memperoleh wawasan praktis mengenai strategi mempersiapkan studi doktoral, membangun identitas keilmuan, serta meningkatkan peluang menghasilkan publikasi ilmiah bereputasi internasional. Pembekalan tersebut sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) tentang Pendidikan Berkualitas, yang mendorong peningkatan mutu pendidikan tinggi melalui penguatan kompetensi akademik, riset, dan inovasi.

Kegiatan International Academic Coaching Program juga menjadi wujud komitmen UM Metro dalam memperluas jejaring akademik global melalui kolaborasi dengan UMAM. Kemitraan ini mendukung implementasi SDGs (Partnerships for the Goals) dengan memperkuat kerja sama internasional dalam pengembangan sumber daya manusia, penelitian, dan publikasi ilmiah, sehingga mampu meningkatkan daya saing dosen dan mahasiswa di tingkat global.

Reporter: Nas/Humas
Editor: Nas/Humas
Fotografer: Fauzi/Magang