Metro - Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro) terus memperkuat komitmennya dalam membangun budaya akademik yang berintegritas melalui Kuliah Umum bertema "Integritas Akademik dalam Menghasilkan Karya Ilmiah dan Akreditasi Jurnal Ilmiah" yang menghadirkan Sekretaris Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi (Ditjen Saintek) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Dr. Samsuri, S.Pd., M.T., IPU. Kegiatan berlangsung di Aula A.R. Fachruddin Kampus I UM Metro, Kamis (23/7/2026).
Membuka kegiatan, Rektor UM Metro Dr. Nyoto Suseno, M.Si. menyampaikan apresiasi atas kehadiran Dr. Samsuri di kampus UM Metro. Ia menilai momentum tersebut menjadi kesempatan penting bagi perguruan tinggi di Lampung untuk memahami berbagai kebijakan terbaru Kemdiktisaintek sekaligus memperkuat sinergi dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi.
Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan penelitian dan publikasi ilmiah, tetapi juga harus mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat melalui hilirisasi hasil riset.
"Hasil penelitian jangan berhenti menjadi tumpukan laporan atau artikel ilmiah. Perguruan tinggi harus mampu mengimplementasikan hasil riset sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat dan dunia industri," ujarnya.
Sebagai contoh, Rektor menceritakan pengalaman UM Metro dalam mengembangkan berbagai produk hasil penelitian, termasuk pupuk organik berbasis mikroorganisme. Menurutnya, tantangan terbesar bukan lagi menghasilkan inovasi, melainkan membawa produk riset memasuki dunia industri karena masih menghadapi berbagai hambatan regulasi, termasuk proses perizinan.
Karena itu, UM Metro saat ini mulai mengembangkan berbagai pusat keunggulan (center of excellence) berbasis potensi lokal, termasuk riset tanaman herbal yang diharapkan dapat bersinergi dengan Program Studi Kedokteran maupun Kedokteran Hewan yang baru dibuka.
"Kami ingin universitas benar-benar berdampak. Hilirisasi riset harus menjadi budaya sehingga karya ilmiah tidak berhenti di atas kertas, tetapi hadir sebagai solusi bagi masyarakat," tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, Rektor juga mengajak seluruh dosen untuk terus meningkatkan produktivitas penelitian dan publikasi ilmiah dengan tetap menjunjung tinggi nilai integritas akademik sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan.
Integritas Akademik Menjadi Fondasi Publikasi Ilmiah
Dalam paparannya, Dr. Samsuri menegaskan bahwa integritas akademik merupakan komitmen moral seluruh sivitas akademika dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi berdasarkan nilai-nilai luhur, bukan sekadar memenuhi tuntutan administratif.
Ia menjelaskan terdapat enam nilai utama yang menjadi fondasi integritas akademik, yakni kejujuran, kepercayaan, keadilan, kehormatan, tanggung jawab, dan keteguhan hati. Nilai-nilai tersebut harus menjadi budaya dalam setiap proses penelitian, penulisan karya ilmiah, hingga publikasi jurnal.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab membangun budaya integritas melalui penyusunan kebijakan, penetapan regulasi internal, sosialisasi, hingga internalisasi nilai integritas dalam seluruh kegiatan tridarma secara berkelanjutan.
Dr. Samsuri juga mengingatkan berbagai bentuk pelanggaran integritas akademik yang masih kerap terjadi, mulai dari fabrikasi data, falsifikasi, plagiarisme, kepengarangan yang tidak sah, konflik kepentingan, hingga pengajuan naskah yang sama ke lebih dari satu jurnal (multiple submission). Seluruh bentuk pelanggaran tersebut memiliki konsekuensi berupa sanksi administratif bagi mahasiswa, dosen, bahkan pimpinan perguruan tinggi sesuai ketentuan yang berlaku.
Kebijakan Baru Akreditasi Jurnal Nasional
Selain membahas integritas akademik, Dr. Samsuri memaparkan arah kebijakan terbaru akreditasi jurnal ilmiah nasional.
Ia menjelaskan pemerintah tengah menyederhanakan sistem pemeringkatan jurnal menjadi empat level, yaitu SINTA 1 hingga SINTA 4, dengan peningkatan ambang batas penilaian minimal menjadi 60 poin. Masa penilaian jurnal juga diperpanjang menjadi tiga tahun terakhir, sementara bobot penilaian difokuskan pada aspek manajemen jurnal dan kualitas substansi artikel ilmiah.
Perubahan lainnya adalah jurnal yang telah terindeks Scopus tidak lagi otomatis memperoleh peringkat akreditasi nasional tertinggi. Seluruh jurnal tetap harus memenuhi standar penilaian nasional yang ditetapkan pemerintah.
Pengelola jurnal juga diwajibkan menerapkan tata kelola yang semakin transparan, seperti menampilkan biaya publikasi secara terbuka, memisahkan daftar editor dan reviewer, serta memastikan mayoritas artikel merupakan hasil penelitian asli.
Membangun Ekosistem Publikasi Ilmiah yang Sehat
Lebih lanjut, Dr. Samsuri menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga integritas ekosistem publikasi ilmiah Indonesia melalui tata kelola yang profesional, independen, transparan, dan akuntabel.
Ia mengingatkan agar seluruh pihak menghindari praktik-praktik yang merusak kredibilitas publikasi ilmiah, seperti jaminan artikel diterima (accepted guarantee), janji kenaikan peringkat jurnal, manipulasi sitasi, reviewer fiktif, paper mill, hingga komersialisasi tata kelola jurnal. Praktik-praktik tersebut dinilai berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap kualitas publikasi ilmiah nasional.
"Pemerintah mendukung kolaborasi, tetapi tidak mentoleransi praktik yang merusak independensi dan integritas publikasi ilmiah. Integritas merupakan fondasi utama reputasi jurnal Indonesia," tegasnya.

Kuliah umum tersebut diikuti pimpinan perguruan tinggi, dosen, pengelola jurnal ilmiah, serta sivitas akademika dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Lampung. Kegiatan menjadi ruang diskusi mengenai arah baru kebijakan publikasi ilmiah nasional sekaligus penguatan integritas akademik sebagai fondasi peningkatan kualitas pendidikan tinggi.
Melalui kuliah umum tersebut, UM Metro berharap sivitas akademika semakin memahami pentingnya menjaga integritas dalam setiap proses penelitian dan publikasi, sekaligus mampu menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas, berdampak, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan ilmu pengetahuan maupun pembangunan bangsa. (Nas/Humas)