METRO – Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro) melalui Pusat Edukasi dan Layanan Inklusif Terpadu (Pelita) menggelar Pelatihan Disability Awareness untuk Mewujudkan Kampus Inklusi di Auditorium Gedung dr. Soetomo, Kampus 3 UM Metro, Selasa–Rabu (8–9/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut menjadi bagian dari upaya UM Metro membangun kesadaran sivitas akademika mengenai pentingnya lingkungan pendidikan yang ramah, setara, aman, dan inklusif bagi penyandang disabilitas.

Ketua Pelita UM Metro sekaligus Ketua Pelaksana kegiatan, Sangidatus Sholiha, M.Pd., mengatakan bahwa Disability Awareness bukan sekadar kegiatan untuk mengenal ragam disabilitas, tetapi menjadi ruang untuk membangun kesadaran, mengubah cara pandang, serta meningkatkan kemampuan dalam memberikan layanan kepada mahasiswa penyandang disabilitas.

“Disability Awareness bukan sekadar kegiatan untuk mengenal apa itu disabilitas, tetapi juga menjadi ruang bagi kita semua untuk membangun kesadaran, mengubah cara pandang, dan belajar bagaimana menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih ramah, setara, dan inklusif,” ujarnya.

Sangidatus menjelaskan, Pelita merupakan pusat edukasi dan layanan inklusif terpadu UM Metro yang disahkan pada 1 September 2025. Kehadiran Pelita menjadi bagian dari komitmen UM Metro dalam mewujudkan kampus profetik yang inklusif dalam layanan bagi penyandang disabilitas.

Menurutnya, berbagai layanan telah mulai dikembangkan, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Pelita juga terlibat dalam asesmen penerimaan mahasiswa baru penyandang disabilitas serta menyelenggarakan kelas prakuliah bagi mahasiswa disabilitas.

“Saat ini di UM Metro tercatat ada 14 mahasiswa disabilitas, di antaranya disabilitas fisik, mental, dan intelektual,” jelasnya.

Pada tahun 2026, UM Metro juga semakin memperluas akses pendidikan bagi penyandang disabilitas dengan diterimanya mahasiswa dengan disabilitas sensorik, yakni tunarungu wicara atau teman Tuli, pada Program Studi D3 Sistem Informasi.

Kehadiran mahasiswa Tuli tersebut, lanjut Sangidatus, menjadi pembelajaran penting bagi seluruh sivitas akademika bahwa inklusi tidak berhenti pada penerimaan mahasiswa ke perguruan tinggi. Lebih dari itu, kampus perlu memastikan mahasiswa disabilitas dapat belajar, berkomunikasi, berpartisipasi, dan berkembang dengan dukungan yang sesuai.

Pelatihan selama dua hari tersebut dirancang dengan pendekatan teori dan praktik. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai ragam disabilitas, etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas, bahasa isyarat, hingga praktik sederhana dalam memberikan bantuan yang tepat.

Pada hari kedua, dosen Program Studi D3 Sistem Informasi turut bergabung untuk mempelajari bahasa isyarat dan pendampingan dalam manajemen kelas inklusi.

Sangidatus menegaskan bahwa membangun kampus inklusif merupakan tanggung jawab bersama.

“Ketika kita bertemu mahasiswa dengan disabilitas, kita tidak lagi bertanya, apa yang tidak bisa dia lakukan? Tetapi kita mulai bertanya, apa yang bisa kita lakukan agar dia dapat belajar dan berkembang dengan baik di kampus profetik ini?” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Rektor II UM Metro, Dr. Nedi Hendri, S.E., M.Si., Ak., CA., CPA., Asean CPA., AWP., yang membuka kegiatan, mengapresiasi pelaksanaan pelatihan tersebut. Ia menilai keberadaan Pelita merupakan langkah penting dalam memastikan UM Metro menjadi perguruan tinggi yang memberikan kesempatan setara kepada seluruh mahasiswa.

Menurutnya, penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, mendapatkan pelayanan, berpartisipasi, serta mengembangkan potensi yang dimiliki.

Ia juga menekankan bahwa pembangunan kampus inklusif tidak hanya berkaitan dengan penyediaan fasilitas fisik, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia dalam memberikan pelayanan kepada mahasiswa disabilitas.

“Memang kampus inklusif itu harus ada. Semua warga negara memiliki hak untuk menikmati dan merasakan pendidikan tanpa ada perbedaan,” ujarnya.

Dr. Nedi mencontohkan sejumlah fasilitas fisik yang terus dikembangkan UM Metro, termasuk fasilitas aksesibilitas pada gedung-gedung kampus. Namun, menurutnya, perhatian juga perlu diberikan kepada mahasiswa dengan berbagai ragam disabilitas, termasuk mahasiswa Tuli yang kini menempuh pendidikan di UM Metro.

“Ini sebuah tuntutan, dan sebenarnya bukan tuntutan karena ini adalah hak mereka,” katanya.

Ia mengajak seluruh peserta, khususnya tenaga kependidikan, dosen, mahasiswa, dan petugas yang berinteraksi langsung dengan mahasiswa disabilitas untuk memberikan pelayanan dengan empati serta tidak melakukan diskriminasi.

Selain aspek pelayanan, Dr. Nedi juga mendorong Pelita untuk memperkuat kerja sama dengan berbagai lembaga agar mahasiswa disabilitas memperoleh dukungan yang lebih luas, termasuk peluang beasiswa.

Ia berharap Pelita terus mendapatkan dukungan kelembagaan sehingga program dan layanan inklusi di UM Metro dapat berkembang secara berkelanjutan.

“Bukan beban baru, tetapi ini peluang untuk menambah wawasan dan ilmu. Minimal bagaimana kita bisa belajar berkomunikasi dengan teman-teman tunarungu,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dr. Nedi mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadikan pelatihan tersebut sebagai awal dari penguatan budaya inklusif di lingkungan UM Metro.

Pelatihan Disability Awareness ini diikuti tenaga kependidikan dari tingkat universitas, fakultas, lembaga, unit, tenaga keamanan, mahasiswa volunteer, serta peserta dari luar UM Metro.

Melalui kegiatan tersebut, UM Metro berharap semakin banyak sivitas akademika yang memiliki pengetahuan, kepedulian, empati, dan keterampilan dalam memberikan layanan kepada mahasiswa penyandang disabilitas.