METRO – Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Metro, Prof. Dr. Mukhtar Hadi, M.Si., menekankan pentingnya membangun sistem dan tata kelola yang baik sebagai fondasi bagi keberlangsungan sebuah institusi. Pesan tersebut disampaikan dalam Kultum Ba’da Zuhur di Masjid Ulul Albab UM Metro, Rabu (09/09/2026).
Dalam kultumnya, Prof. Mukhtar mengawali pembahasan dengan mengutip firman Allah Swt. dalam QS. As-Saff ayat 4:
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
Menurutnya, gambaran mengenai barisan yang teratur dan bangunan yang kokoh dalam ayat tersebut dapat menjadi inspirasi dalam membangun sebuah organisasi maupun institusi.
Ia menjelaskan bahwa sebuah barisan tidak mungkin hanya terdiri dari satu orang. Di dalamnya terdapat banyak individu yang bergerak bersama, memiliki arah yang sama, serta saling menguatkan.
“Kalau kita bicara barisan, berarti kita bicara banyak orang. Tidak ada orang berbaris sendirian. Allah menyukai orang-orang yang membangun barisan yang kokoh, seperti bangunan yang saling menguatkan,” jelasnya.
Sistem Lebih Penting daripada Ketergantungan pada Figur
Prof. Mukhtar kemudian mengaitkan nilai tersebut dengan pengelolaan institusi. Menurutnya, organisasi yang kuat tidak semestinya bergantung hanya pada individu atau figur tertentu, tetapi harus ditopang oleh sistem yang mampu menjaga kesinambungan organisasi.
Sistem tersebut mencakup kepemimpinan, tata kelola, regulasi, mekanisme pengendalian, pembagian tanggung jawab, hingga prosedur kerja yang jelas.
Dalam konteks Muhammadiyah, membangun sistem menjadi salah satu prinsip penting agar keberlangsungan organisasi tidak bergantung pada siapa yang sedang memimpin.
“Orang ada masanya, jabatan juga ada masanya. Kepemimpinan bisa berganti. Tetapi kalau kita memiliki sistem yang baik, siapapun yang masuk akan menyesuaikan dengan sistem tersebut,” ungkapnya.
Sebaliknya, sebuah lembaga akan menghadapi risiko ketika seluruh proses organisasi terlalu bergantung pada seseorang. Ketika figur tersebut tidak lagi berada dalam organisasi, sistem yang tidak tertata dapat menyebabkan berbagai persoalan baru.
Karena itu, menurutnya, salah satu warisan penting seorang pemimpin bukan hanya program yang berhasil dijalankan selama masa kepemimpinannya, melainkan juga sistem yang semakin baik untuk diteruskan oleh generasi berikutnya.
Belajar dari Tata Kelola Madinah
Dalam kultumnya, Prof. Mukhtar turut mengangkat perjalanan Rasulullah saw. ketika hijrah dari Makkah menuju Yatsrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah.
Pada masa itu, masyarakat Yatsrib terdiri atas berbagai kelompok dan suku dengan kepentingan yang berbeda. Dua kelompok besar, Aus dan Khazraj, bahkan memiliki sejarah konflik yang cukup panjang.
Kehadiran Rasulullah saw. kemudian membawa perubahan melalui upaya membangun kehidupan masyarakat yang lebih tertata. Salah satu langkah penting adalah menghadirkan kesepakatan dan aturan bersama yang dikenal dalam sejarah sebagai Piagam Madinah.
Melalui aturan tersebut, berbagai kelompok masyarakat memiliki hak, kewajiban, dan tanggung jawab dalam menjaga kehidupan bersama, termasuk dalam mempertahankan Madinah ketika menghadapi ancaman.
Menurut Prof. Mukhtar, hal tersebut memberikan pelajaran bahwa sebuah masyarakat maupun institusi yang terdiri atas banyak unsur membutuhkan aturan dan sistem agar seluruh komponennya dapat berjalan ke arah yang sama.
Madinah kemudian berkembang menjadi sebuah masyarakat yang lebih terorganisasi di bawah kepemimpinan Rasulullah saw. dan dikenal sebagai Madinah al-Munawwarah, kota yang bercahaya.
Tata Kelola Harus Terus Disempurnakan
Prof. Mukhtar menegaskan bahwa proses membangun sistem tidak pernah benar-benar berhenti. Setiap organisasi perlu terus mengevaluasi tata kelola yang telah berjalan dan memperbaiki bagian yang masih memiliki kelemahan.
Hal tersebut juga berlaku bagi lembaga pendidikan, termasuk perguruan tinggi.
Apabila masih terdapat bidang yang belum memiliki aturan yang jelas, maka regulasi perlu disusun. Jika sebuah mekanisme belum berjalan optimal, maka sistem tersebut perlu diperbaiki sehingga mampu mendukung perkembangan institusi.
Ia memberikan contoh pentingnya tata kelola dalam berbagai bidang, mulai dari sistem keuangan, kepegawaian, pengembangan karier, kesejahteraan, hingga manajemen organisasi.
Sistem keuangan yang baik, misalnya, dapat membantu lembaga menjaga akuntabilitas sekaligus mencegah terjadinya penyimpangan. Demikian pula sistem kepegawaian yang tertata dapat memberikan kejelasan mengenai tanggung jawab, pengembangan karier, dan kesejahteraan sumber daya manusia.
Menurutnya, sebuah bangunan disebut kokoh ketika setiap bagiannya berfungsi dan saling menopang. Ada fondasi yang kuat, tiang yang kokoh, dinding yang menopang, serta atap yang melindungi keseluruhan bangunan.
Prinsip yang sama berlaku bagi institusi. Setiap bagian harus bekerja dalam satu sistem yang terhubung sehingga tujuan organisasi dapat dicapai secara bersama-sama.
Membangun Kebersamaan dan Tanggung Jawab
Lebih jauh, Prof. Mukhtar menyampaikan bahwa pesan QS. As-Saff ayat 4 tidak hanya berbicara mengenai sistem, tetapi juga tentang kebersamaan, persatuan, disiplin, dan tanggung jawab bersama.
Sistem yang baik membutuhkan manusia yang mau menjalankannya dengan konsisten. Pada saat yang sama, keberadaan sistem yang kuat juga akan membentuk budaya kerja yang lebih tertib.
“Kalau sistem kita baik, orang yang masuk akan menyesuaikan dengan sistem yang baik itu. Tetapi kalau sistemnya tidak baik, persoalan yang muncul bisa berdampak pada keseluruhan institusi,” tuturnya.
Ia turut menyinggung sistem kepemimpinan di Muhammadiyah yang dibangun melalui mekanisme organisasi berjenjang. Proses pemilihan pimpinan melalui tahapan pencalonan, penyaringan, Tanwir, hingga Muktamar menjadi salah satu contoh bagaimana organisasi menjaga pergantian kepemimpinan melalui mekanisme yang telah disepakati bersama.
Dengan mekanisme tersebut, pergantian kepemimpinan tidak hanya bergantung pada kehendak individu, tetapi berjalan berdasarkan aturan organisasi.
Prof. Mukhtar pun mengajak sivitas akademika UM Metro untuk terus membangun budaya organisasi yang berorientasi pada sistem, kebersamaan, dan tata kelola yang baik.
Pesan tentang “bunyanun marsus” atau bangunan yang tersusun kokoh menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah institusi tidak hanya terletak pada individu-individu hebat di dalamnya, tetapi juga pada kemampuan seluruh unsur untuk berada dalam satu barisan, menjalankan tanggung jawab masing-masing, serta saling menguatkan dalam sebuah sistem yang baik.
Dengan sistem yang semakin tertata, pergantian kepemimpinan tidak akan menghambat keberlangsungan organisasi. Sebaliknya, setiap generasi dapat melanjutkan, memperbaiki, dan mengembangkan fondasi yang telah dibangun untuk membawa institusi semakin maju.