Oleh: Prof. Dr. Muhammad Ihsan Dacholfany, M.Ed.
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Metro
Dalam kegiatan Baitul Arqam, Prof. Dr. Muhammad Ihsan Dacholfany, M.Ed. menyampaikan refleksi mengenai pentingnya menata gerakan dakwah melalui manajemen organisasi yang baik, kepemimpinan yang amanah, serta akhlak yang menjadi ruh dalam kehidupan ber-Muhammadiyah. Menurutnya, gerakan dakwah tidak cukup hanya mengandalkan niat baik. Niat yang baik membutuhkan cara kerja yang baik, sementara cara kerja yang baik membutuhkan organisasi yang tertata.
Gerakan dakwah tidak cukup hanya mengandalkan niat baik. Niat yang baik membutuhkan cara kerja yang baik, sementara cara kerja yang baik membutuhkan organisasi yang tertata. Di sinilah manajemen organisasi menjadi penting dalam perjalanan dakwah Muhammadiyah.
Ada sebuah ungkapan yang sering dikutip dalam konteks gerakan: “Kebenaran yang tidak terorganisir dengan rapi dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir.” Pesan ini sesungguhnya mengingatkan bahwa kekuatan sebuah gagasan tidak hanya ditentukan oleh kebenaran yang dibawanya, tetapi juga oleh kemampuan mengelola gerakan untuk mewujudkan gagasan tersebut.
Al-Qur’an dalam QS. As-Saff ayat 4 menggambarkan pentingnya keteraturan dalam perjuangan. Barisan yang tersusun kokoh bukan sekadar menunjukkan jumlah orang yang banyak, melainkan menggambarkan adanya disiplin, pembagian peran, komitmen, dan tujuan yang sama.
Dalam konteks Muhammadiyah, prinsip tersebut menemukan relevansinya. Sebagai organisasi modern, Muhammadiyah telah membangun sistem melalui AD/ART, Khittah, mekanisme permusyawaratan, kaderisasi, administrasi, hingga dokumentasi organisasi. Semua itu bukan sekadar perangkat birokrasi, melainkan instrumen untuk menjaga kesinambungan gerakan.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: organisasi jangan sampai lebih sibuk mengurus prosedur daripada menghidupkan tujuan.
Manajemen diperlukan agar gerakan menjadi efektif, tetapi manajemen tidak boleh kehilangan ruh dakwah.
Dakwah Membutuhkan Organisasi
QS. Ali 'Imran ayat 104 memberikan landasan yang kuat tentang pentingnya kelompok yang menyeru kepada kebajikan, mengajak kepada yang ma'ruf, dan mencegah kemungkaran.
Ayat tersebut dapat dibaca bukan hanya sebagai perintah berdakwah, tetapi juga sebagai dorongan untuk membangun kekuatan kolektif. Dakwah membutuhkan orang, sistem, pembagian tugas, kepemimpinan, dan kesinambungan.
Karena itu, empat fungsi manajemen—perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengawasan—seharusnya tidak dipandang sebagai teori manajemen semata. Keempatnya dapat menjadi bagian dari etika gerakan.
Perencanaan memastikan organisasi tidak berjalan tanpa arah. Pengorganisasian memastikan setiap kader bekerja sesuai kompetensinya. Kepemimpinan memastikan potensi kader dapat digerakkan. Sementara pengawasan memastikan setiap program dapat dipertanggungjawabkan.
Persoalannya, dalam praktik organisasi, kita terkadang terlalu kuat pada struktur tetapi lemah pada substansi. Rapat banyak, program banyak, dokumen lengkap, tetapi dampaknya belum tentu terasa di tengah masyarakat.
Di sinilah manajemen Muhammadiyah perlu terus dikembangkan: bukan sekadar tertib secara administratif, tetapi juga efektif secara sosial.
Kepemimpinan Bukan Sekadar Jabatan
Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kepemimpinan.
Dalam tradisi Muhammadiyah, kepemimpinan idealnya bukan tentang siapa yang paling kuat mendapatkan jabatan. Kepemimpinan merupakan hasil dari proses kaderisasi, pengabdian, keteladanan, dan kepercayaan.
Jabatan pada akhirnya hanyalah posisi. Yang jauh lebih penting adalah amanah yang melekat di dalamnya.
Karena itu, seorang pemimpin Muhammadiyah perlu memiliki sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Ia harus jujur dalam perkataan, dapat dipercaya dalam menjalankan amanah, mampu menyampaikan kebenaran, serta memiliki kecerdasan dan visi dalam membaca persoalan.
Pemimpin juga tidak semestinya menjadikan jabatan sebagai tujuan pribadi. Menerima amanah harus disertai kesiapan untuk bekerja, sementara melepaskan amanah harus dilakukan dengan lapang dada ketika waktunya tiba.
Jika jabatan berubah menjadi arena ambisi, maka organisasi akan kehilangan energi dakwahnya. Sebaliknya, jika jabatan dipahami sebagai amanah, maka kompetisi dapat berubah menjadi kolaborasi.
Akhlak Menjadi Rem Organisasi
Di sinilah akhlak ber-Muhammadiyah menjadi penting.
Sistem organisasi dapat dibuat sedemikian rupa. Regulasi dapat disusun secara lengkap. Mekanisme pengambilan keputusan dapat dirancang secara demokratis. Tetapi semuanya akan kehilangan makna apabila orang-orang yang menjalankannya tidak memiliki akhlak.
Akhlak menjadi rem sekaligus kompas.
Seorang kader boleh berbeda pandangan, tetapi tidak boleh kehilangan adab. Seorang pimpinan boleh mengambil keputusan tegas, tetapi tidak boleh kehilangan keadilan. Perbedaan pilihan tidak seharusnya berubah menjadi permusuhan.
Musyawarah bukan sekadar mekanisme mengambil keputusan. Ia adalah cara menjaga persaudaraan ketika perbedaan tidak dapat dihindari.
Karena itu, sifat lapang dada, luas pandangan, menjaga ukhuwah, menghindari fitnah, menjauhi kesombongan, serta menghormati perbedaan merupakan bagian penting dari budaya organisasi Muhammadiyah.
Nilai-nilai tersebut menjadi penting untuk terus dikuatkan dalam proses kaderisasi dan pembinaan warga Muhammadiyah. Baitul Arqam, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman keislaman dan kemuhammadiyahan, tetapi juga menjadi momentum untuk meneguhkan karakter, komitmen, dan akhlak dalam menjalankan amanah organisasi.
Jangan Terjebak Birokrasi
Muhammadiyah membutuhkan organisasi yang tertib, tetapi jangan sampai ketertiban berubah menjadi birokrasi yang menghambat gerakan.
Organisasi harus mampu membedakan mana aturan yang menjaga marwah dan mana prosedur yang justru memperlambat pelayanan. Adaptasi menjadi kebutuhan, terutama ketika tantangan dakwah terus berubah.
Generasi muda membutuhkan ruang untuk berkreasi. Persoalan masyarakat membutuhkan respons yang cepat. Teknologi mengubah cara manusia berkomunikasi. Karena itu, organisasi juga harus mampu bergerak dinamis tanpa kehilangan prinsip.
Di sinilah konsep tajdid menjadi relevan. Memurnikan nilai sekaligus memperbarui cara.
Muhammadiyah tidak harus meninggalkan identitasnya untuk menjadi modern. Sebaliknya, modernitas harus menjadi sarana untuk memperkuat dakwah.
Sepuluh Sifat sebagai Arah Gerakan
Pada akhirnya, manajemen organisasi Muhammadiyah harus kembali kepada karakter gerakannya.
Sepuluh sifat Kepribadian Muhammadiyah memberikan arah yang jelas: beramal untuk perdamaian dan kesejahteraan, memperkuat ukhuwah, berpandangan luas, bergerak dalam kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan, menghormati hukum dan dasar negara, menjalankan amar ma'ruf nahi munkar, aktif membangun masyarakat, membangun kerja sama, membantu pemerintah dan elemen bangsa, serta menjunjung keadilan dan kebijaksanaan.
Sepuluh sifat tersebut menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak dibangun untuk dirinya sendiri.
Persyarikatan hadir untuk memberi manfaat.
Maka ukuran keberhasilan organisasi bukan hanya berapa banyak rapat yang dilakukan, berapa banyak surat yang diterbitkan, atau berapa banyak program yang masuk dalam laporan. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana gerakan mampu menghadirkan perubahan dan kemaslahatan bagi masyarakat.
Dalam konteks kaderisasi, pesan tersebut menjadi penting untuk direnungkan bersama. Kader Muhammadiyah tidak hanya dituntut memahami sistem organisasi, tetapi juga memiliki kesadaran bahwa setiap amanah harus diarahkan untuk kemaslahatan, pelayanan, dan keberlanjutan dakwah.
Pada akhirnya, manajemen adalah alat, dakwah adalah tujuan, dan akhlak adalah ruh yang menjaga keduanya tetap berada di jalan yang benar.
Jika administrasi tertib, manajemen kuat, kepemimpinan berintegritas, kaderisasi berjalan, dan akhlak dijaga, maka Muhammadiyah tidak hanya akan menjadi organisasi yang besar secara struktur, tetapi juga kuat secara moral dan berdampak secara sosial.
Sebab, gerakan dakwah yang besar bukan hanya membutuhkan banyak orang yang bergerak. Ia membutuhkan orang-orang yang tahu ke mana harus bergerak, bagaimana bergerak, dan untuk siapa gerakan itu dilakukan.