METRO - Komitmen Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro) dalam mendorong penguatan budaya akademik dan publikasi ilmiah internasional kembali menunjukkan hasil. Dua dosen UM Metro, Muhammad Ihsan Dacholfany dan Agus Wibowo, berhasil mempublikasikan hasil penelitian kolaboratif pada Jurnal Ilmiah Peuradeun, jurnal internasional yang tercatat dalam basis data Scopus dan memiliki peringkat Q1 pada sejumlah kategori. 

Artikel berjudul “Bridging Local Wisdom and Digital Transformation: The Role of Ki Hajar Dewantara-Based Leadership in Enhancing Teacher Competency” tersebut diterbitkan pada Jurnal Ilmiah Peuradeun, Vol. 14 No. 3 Tahun 2026, halaman 1537–1560. Artikel ini ditulis oleh Muhammad Ihsan Dacholfany, Cipto Handoko, Agus Wibowo, Norma Fitria, Muhammad Rijal Fadli, Hasbullah, dan Mohd Kasturi Nor Abd Aziz dari Universiti Malaysia Perlis (UniMAP), Malaysia. 

Penelitian tersebut mengangkat persoalan yang semakin relevan dalam dunia pendidikan, yakni bagaimana transformasi digital dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Para peneliti secara khusus mengkaji keterkaitan kepemimpinan berbasis trilogi Ki Hajar Dewantara, keterampilan digital, dan kompetensi guru.

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain ex post facto correlational. Sebanyak 197 guru sekolah dasar di Provinsi Lampung menjadi responden penelitian yang dipilih melalui cluster sampling. Analisis data dilakukan menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modelling (PLS-SEM) dengan bantuan SmartPLS 3.0. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan berbasis trilogi Ki Hajar Dewantara memiliki pengaruh terhadap keterampilan digital dan kompetensi guru. Keterampilan digital juga berhubungan positif dengan kompetensi guru serta berperan sebagai mediator dalam hubungan antara kepemimpinan dan pengembangan profesional.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi teknologi dalam pendidikan tidak harus diposisikan berhadapan dengan nilai-nilai budaya. Sebaliknya, keduanya dapat ditempatkan dalam satu kerangka pengembangan pendidikan yang tetap memperhatikan aspek etika, karakter, identitas budaya, sekaligus tuntutan kompetensi digital.

Menghubungkan Nilai Ki Hajar dengan Transformasi Digital

Dalam penelitian tersebut, filosofi kepemimpinan Ki Hajar Dewantara kembali ditempatkan dalam konteks pendidikan masa kini melalui tiga prinsip utama, yakni Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani.

Ketiga prinsip tersebut dipahami sebagai fondasi kepemimpinan yang dapat memberikan arah bagi pengembangan kompetensi guru di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat.

Di satu sisi, guru dituntut memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pembelajaran yang adaptif dan interaktif. Di sisi lain, penggunaan teknologi tetap membutuhkan landasan nilai agar proses pendidikan tidak kehilangan dimensi kemanusiaan dan karakter.

Gagasan tersebut menjadi salah satu kontribusi penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti. Artikel ini tidak sekadar membahas digitalisasi sebagai kemampuan teknis, tetapi menghubungkannya dengan kepemimpinan, nilai budaya, dan pengembangan kompetensi guru. 

Ihsan: Publikasi Bukan Sekadar Pencapaian Personal

Muhammad Ihsan Dacholfany mengatakan bahwa publikasi tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk membawa gagasan pendidikan yang berakar pada nilai-nilai lokal ke dalam ruang akademik internasional.

“Bagi kami, publikasi ini bukan sekadar pencapaian personal sebagai peneliti. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai pendidikan yang lahir dari pemikiran Ki Hajar Dewantara dapat terus dibaca, dikaji, dan dikembangkan dalam konteks perubahan pendidikan di era digital,” ujar Ihsan.

Menurutnya, perkembangan teknologi pendidikan harus tetap berjalan bersama dengan penguatan nilai dan karakter. Kemampuan digital guru, kata dia, tidak cukup hanya diukur dari kemampuan menggunakan berbagai perangkat atau aplikasi teknologi, tetapi juga dari kemampuan menggunakannya untuk menghadirkan proses pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik.

“Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkuat kualitas pendidikan, bukan menggantikan nilai-nilai yang menjadi fondasi pendidikan itu sendiri. Karena itu, kita perlu menjembatani kearifan lokal dengan perkembangan teknologi agar transformasi pendidikan tetap memiliki arah dan nilai kemanusiaan,” lanjutnya.

Ihsan juga menyampaikan bahwa kolaborasi menjadi bagian penting dalam proses penelitian hingga publikasi. Keterlibatan peneliti dari berbagai perguruan tinggi dan negara menunjukkan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan membutuhkan ruang kerja sama yang terbuka.

Artikel tersebut mempertemukan peneliti dari sejumlah institusi di Indonesia dengan peneliti dari Universiti Malaysia Perlis (UniMAP), Malaysia, dalam membahas isu kepemimpinan pendidikan, kompetensi guru, dan transformasi digital. 

Memperkuat Budaya Publikasi Akademik UM Metro

Publikasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi akademik dosen UM Metro melalui penelitian dan publikasi pada jurnal internasional.

Bagi perguruan tinggi, publikasi ilmiah tidak hanya menjadi indikator produktivitas akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk membawa hasil penelitian agar dapat dibaca dan didiskusikan dalam komunitas akademik yang lebih luas.

Kehadiran dua dosen UM Metro dalam artikel tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa isu pendidikan yang berangkat dari konteks lokal dapat dikembangkan menjadi kajian yang memiliki relevansi lebih luas.

Terlebih, penelitian ini berangkat dari pengalaman dan persoalan pendidikan di Indonesia, khususnya Provinsi Lampung, kemudian menghubungkannya dengan isu global mengenai transformasi digital dan kompetensi guru. 

Bagi UM Metro, capaian tersebut diharapkan dapat terus mendorong dosen dan peneliti untuk memperkuat kolaborasi, meningkatkan kualitas penelitian, serta memperluas jejaring akademik di tingkat nasional maupun internasional.

Pada akhirnya, kearifan lokal dan teknologi tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama ketika ditempatkan dalam kerangka pendidikan yang tetap berorientasi pada manusia, karakter, kompetensi, dan kebermanfaatan.

Identitas Publikasi:

  • Judul:Bridging Local Wisdom and Digital Transformation: The Role of Ki Hajar Dewantara-Based Leadership in Enhancing Teacher Competency 
  • Jurnal:Jurnal Ilmiah Peuradeun – The Indonesian Journal of the Social Sciences
  • Penerbit: SCAD Independent 
  • Volume: Vol. 14, No. 3, September 2026, hlm. 1537–1560 
  • DOI:https://doi.org/10.26811/peuradeun.v14i3.1632
  • SJR 2025: 0,421 
  • Scopus Quartile: Q1 
  • Corresponding Author: Muhammad Ihsan Dacholfany