Sering kali dalam kehidupan sehari-hari, seorang anak memandang ibu hanya sebatas fungsinya: sosok yang melahirkan, merawat, memasak, mengingatkan, dan menyediakan segala kebutuhan rumah tangga. Tanpa disadari, peran-peran tersebut membuat sosok ibu seolah-olah dipandang sebagai objek, bukan sebagai manusia utuh yang juga memiliki perasaan, lelah, kesakitan, hingga impian yang terpendam.
Pesan mendalam inilah yang menjadi sorotan utama dalam kajian #SharingTime ACM.Bolt bertajuk "Ibu Bukan Sekadar Objek: Mengenal, Memahami, dan Membangun Komunikasi yang Lebih Dekat". Acara ini diselenggarakan oeh Pengurus AKU CINTA MASJID (ACM) pada Sabtu, 10 Oktober 2026, berlokasi di Lantai 2 Masjid Agung Taqwa, Metro Pusat.
Diisi oleh pemateri Prof. Dr. M. Ihsan Dacholfany, M.Ed.,salah seorang Wakil Ketua MUI Kota Metro, kajian ini dipandu oleh host Jodi dan Ammah Sinta, serta dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an oleh Isa Alawi serta sambutan ketua ACM saudara Agil Taufik Qurrahman.
Ibu Juga Manusia yang Sedang Menjalani Hidup
Dalam pemaparannya, Ihsan Dacholfany mengajak Generasi Muda untuk beresfleksi. Di tengah perubahan kehidupan generasi muda yang semakin dinamis, jarak emosional dan sumbatan komunikasi sering kali muncul.
"Ibu bukan hanya tentang apa yang ia lakukan untuk kita, tetapi juga tentang siapa ia sebenarnya," ungkap pesan utama dalam materi kajian tersebut.
Menurut Wakil Rektor UM Metro Ihsan, Ibu menceritakan bagaimana seorang ibu yang telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, sebagaimana dalam al-Qur’an QS. Luqman [31]: 14 dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh pengorbanan. Namun, ketika anak tumbuh dewasa, interaksi sering kali menyempit sebatas formalitas. Anak terlalu sibuk dengan dunianya sendiri hingga lupa bahwa ibu pun sedang bertumbuh, menua, dan memiliki beban emosional yang sering disimpan rapat-rapat.

Pentingnya Berbakti Lewat Komunikasi yang Santun
Islam menempatkan kedudukan ibu pada posisi yang sangat mulia. Sebagaimana hadis riwayat Bukhari dan Muslim, ketika Rasulullah SAW ditanya siapa orang yang paling berhak diperlakukan dengan baik, beliau menyebut "Ibumu" sebanyak tiga kali sebelum "Ayahmu". Selain itu, QS. Al-Isra' [17]: 23 mengingatkan perintah untuk berbuat baik kepada orang tua.
Berbakti tidak melulu tentang memberikan materi atau memenuhi kebutuhan finansial. Berbakti yang sering terlupakan justru terletak pada kehadiran dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
- Materi kajian ini membagikan beberapa contoh nyata dan praktis bagi anak muda untuk memperbaiki komunikasi sehari-hari: Merespons nasihat tanpa membentak: Mengucapkan terima kasih dan menghargai pandangannya.
- Berbicara santun saat berbeda pendapat: Menjelaskan alasan secara tenang tanpa nada tinggi.
- Mengurangi gangguan gawai (gadget): Menyimpan ponsel dan menatap mata ibu saat mengobrol.
- Bertanya sebelum terlambat: Mengambil inisiatif untuk menyapa dan menanyakan kabar perasaan ibu.
Pertanyaan Sederhana, Impact Luar Biasa
Generasi muda diajak untuk tidak sekadar bertanya, "Apa yang sudah Ibu lakukan untukku?", tetapi mulai memberanikan diri bertanya, "Siapa sebenarnya Ibu yang selama ini aku kenal?".
Coba luangkan waktu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana ini kepada ibu Anda:
• "Bagaimana perasaan Ibu hari ini?"
• "Apa impian Ibu yang belum sempat tercapai?"
• "Bagaimana cerita kehidupan Ibu sebelum menjadi ibu kami?"
• “Apa yang membuat Ibu paling bahagia akhir-akhir ini?”
Mari Mulai Sekarang
Kajian diakhiri dengan diskusi yang menarik bahkan ada salah satu peserta menagis mengingat ibunya dan ada yang langsung diminta panitia untuk menelpon langsung ibunya dan langsung mendapatkan hadiah sebagai bukti kasih sayang kepada ibunya. ajakan hangat yang haru dan ditutup oleh doa untuk seluruh peserta:
“Dan katakanlah: ‘Ya Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah menyayangiku ketika aku masih kecil.’” (QS. Al-Isra' [17]: 24).
Jangan biarkan kesalahpahaman tumbuh hanya karena kita berhenti berkomunikasi. Ibu selalu menyebut nama anak-anaknya di dalam doa, maka jangan biarkan ia merasa sendirian dan terasing dalam hidupnya. Mulailah percakapan, dengarkan dengan hati, dan bangunlah kedekatan selagi kesempatan itu masih ada.