Dr. Haedar Nashir, M.Si. Kupas Empat Makna Ta’awun untuk Negeri

UM Metro – Ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Haedar Nashir, M.Si. kupas empat makna ta’waun untuk negeri di depan 3500 warga Muhammadiyah Provinsi Lampung, Rabu (12/12/2018).

“Ta’awun itu yang pertama dilihat dari aspek Teologi, maka artinya mengikuti perintah Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, kita dapat dikatakan berta’awun apabila kita berani menegakkan hal-hal yang baik dan kita tegas pada hal-hal yang buruk. Inilah gerakan Muhammadiyah yang sebenarnya,” jelas Dr. Haedar Nashir, M.Si. saat memberikan tausyiah di Resepsi Milad 106 Tahun Muhammadiyah yang digelar PWM Lampung di Graha Bhakti Pramuka Kwarda Lampung.

Yang kedua, sambungnya,dalam aspek Sejarah, Muhammadiyah selalu melekat dengan Sejarah, satu di antaranya adalah gerakan surat Al-Ma'un.

“Beraratus-ratus tahun dengan jutaan umat Islam banyak yang hafal dengan surat ini, bahkan banyak juga bacaannya yang sangat bagus-bagus, namun surat ini tidak mengubah apapun melainkan hanya dibaca saat beribadah,” tambahnya.

Namun surat ini dijadikan landasan oleh KH Ahmad Dahlan untuk mengentaskan permasalahan Ekonomi, permasalahan ilmu, permaslahan sosial dalam Muhammadiyah. Ia bahkan mengajarkan surat ini lebih dari tiga bulan kepada murid-muridnya secara terus menerus. Bukan untuk menghafalnya melainkan untuk mengajarkan kepada mereka makna tersirat di balik itu yakni mengamalkan surat Al-Ma’un tersebut.

“Lalu yang ketiga, Ta'awun untuk Negeri dalam aspek visi dan misi. Warga Muhammadiyah jika ingin berta'awun maka hadirlah untuk mambantu orang yang memerlukan,” ujarnya.

Muhammadiyah tidak hanya berta’awun di dalam negeri seperti yang terjadi di Lombok, Palu dan Donggala, namun kita juga berta’awun di dunia internasional seperti yang terjadi di Bangaldesh. Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah di sana untuk bertaawun bagi masyarakat Bangladesh. Bahkan sekarang Muhammadiyah adalah satu-satunya yang masih bergerak dan membantu di sana baik di antara Indonesia maupun internasional.

“Yang keempat ta’awun dalam aspek Bangsa. Muhammadiyah jika ingin berta’awun untuk negeri maka Muhammadiyah harus memberi contoh. Makanya sesama warga Muhammadiyah apabila berbeda pada pandangan politik tidak boleh bertengkar, apalagi jika sampai tidak ingin membangun amal usaha yang digeluti bersama. Muhammadiyah harus menjadi contoh meski berbeda pandangan politik kita tetap satu dan terus membangun Muhammadiyah,” tukasnya. (Bi/Hum)



Tinggalkan Balasan