Surabaya — Dua dosen Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro), Dr. Kian Amboro, M.Pd., dan Dr. Johan Setiawan, M.Pd., menjadi bagian dari tiga utusan Muhammadiyah Provinsi Lampung dalam Akademi Sejarah Muhammadiyah (ASM) Batch II yang diselenggarakan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Kegiatan nasional tersebut berlangsung di Hotel Dafam Pacific Caesar, Surabaya, pada 7–11 Agustus 2026, dan diikuti 25 peserta terpilih dari berbagai wilayah Indonesia.

Kian Amboro hadir sebagai perwakilan MPI PWM Lampung, sedangkan Johan Setiawan merupakan dosen Program Studi Pendidikan Sejarah UM Metro. Keduanya bersama Imam Sapi’i, M.Pd., dari MPI PDM Kota Metro sekaligus sejarawan lokal Muhammadiyah menjadi tiga perwakilan Muhammadiyah Provinsi Lampung dalam ASM Batch II.

Para peserta berasal dari unsur MPI PWM, dosen sejarah, dan sejarawan lokal Muhammadiyah yang mewakili Zona Barat, Tengah, dan Timur Indonesia. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah memperkuat tradisi literasi dan penulisan sejarah persyarikatan yang sistematis serta berbasis metodologi ilmiah.

Sekretaris MPI PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Anam Sutopo, M.Hum., saat membuka kegiatan menegaskan pentingnya sejarah sebagai pijakan bagi arah gerakan organisasi. Menurutnya, sejarah dapat menjadi refleksi untuk memahami perjalanan masa lalu sekaligus menentukan langkah organisasi ke depan.

“Penulisan sejarah lokal Muhammadiyah ini berfungsi sebagai edukasi, peneguhan identitas warga persyarikatan, sekaligus memberikan pijakan ilmiah bagi kemajuan Muhammadiyah,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Pelaksana ASM sekaligus Wakil Ketua MPI PP Muhammadiyah, Widiastuti, M.Hum., menjelaskan bahwa ASM dirancang untuk melahirkan kader yang mampu mengembangkan penulisan sejarah Muhammadiyah di berbagai daerah.

Ia menyebut keterbatasan jumlah sejarawan akademis Muhammadiyah menjadi salah satu alasan penting penyelenggaraan ASM. Melalui program tersebut, peserta dibekali metodologi agar mampu menjadi penggerak penulisan sejarah lokal Muhammadiyah di daerah masing-masing.

Bagi Kian Amboro, keikutsertaan dalam ASM Batch II menjadi momentum untuk memperdalam pemahaman mengenai pentingnya dokumentasi sejarah Muhammadiyah. Menurutnya, penulisan sejarah tidak sekadar merekam peristiwa masa lalu, tetapi juga berperan dalam memperkuat identitas, menyelamatkan aset sejarah, serta menghadirkan gambaran yang lebih utuh mengenai perjalanan persyarikatan.

“Faktanya, sekarang kita jadi tahu bahwa Muhammadiyah itu sangat besar, tetapi yang baru kita catat masih sedikit,” ujar Kian.

Ia juga menekankan pentingnya inventarisasi warisan sejarah Muhammadiyah melalui prinsip 3P, yakni Paper berupa dokumen dan catatan tertulis, People berupa tokoh dan pelaku sejarah, serta Place berupa situs atau tempat bersejarah.

Menurut Kian, ketiga unsur tersebut saling berkaitan dalam membangun dokumentasi sejarah Muhammadiyah yang komprehensif. Karena itu, pengalaman yang diperoleh selama ASM diharapkan dapat diterapkan dalam pengembangan sejarah Muhammadiyah di Lampung.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan, lanjutnya, adalah mendorong sosialisasi penulisan sejarah di tingkat cabang dan ranting, sekaligus melakukan pemetaan warisan sejarah Muhammadiyah di berbagai daerah, organisasi otonom, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta tokoh-tokoh lokal.

Rangkaian ASM Batch II berlangsung selama lima hari dengan sejumlah agenda, meliputi pembekalan metodologi sejarah, diskusi dan praktik penyusunan program, kunjungan lapangan ke situs sejarah Muhammadiyah di Surabaya, serta konsolidasi akademis.

Keikutsertaan Kian Amboro dan Johan Setiawan dalam ASM Batch II menjadi bagian dari kontribusi UM Metro dalam penguatan kajian, riset, dokumentasi, dan literasi sejarah Muhammadiyah. Pengalaman yang diperoleh diharapkan dapat dikembangkan untuk memperluas penulisan sejarah Muhammadiyah di Lampung sekaligus memperkuat peran sivitas akademika UM Metro dalam pengembangan tradisi intelektual dan literasi sejarah persyarikatan.