BANDAR LAMPUNG – Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro) kembali menunjukkan kiprahnya dalam pengembangan pendidikan tinggi swasta di Provinsi Lampung. Delapan perwakilan UM Metro dipercaya mengisi sejumlah posisi strategis dalam kepengurusan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Provinsi Lampung periode 2026–2031.

Pengukuhan kepengurusan tersebut berlangsung dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APTISI I Tahun 2026 di Lampung, Minggu (23/8/2026). Prosesi diawali dengan pembacaan Surat Keputusan Pengurus APTISI Lampung, dilanjutkan dengan kata-kata pelantikan dan pengucapan sumpah.

Delapan perwakilan UM Metro yang dipercaya dalam kepengurusan tersebut yakni Dr. Nyoto Suseno, M.Si. sebagai Dewan Penasihat; Prof. Dr. M. Ihsan Dacholfany, M.Ed. sebagai Sekretaris; serta Dr. Ir. Eva Rolia, S.T., M.T., M.KM. dan Ir. Lukito Dwi Yuono, S.T., M.T. pada Divisi Penjaminan Mutu, Uji Kompetensi dan Sertifikasi.

Selanjutnya, Dr. Edi Ribut Harwanto, S.H., M.H. dipercaya pada Divisi Asistensi dan Advokasi. Dr. E. Febriyanto, S.E., M.M. mengisi Divisi Dosen dan Tendik. Dr. Nego Linuhung, M.Pd. dipercaya sebagai Ketua Bidang Jurnal Ilmiah dan Publikasi. Sementara Yasmika Baihaqi, S.Pd., M.Pd. mengisi Divisi Hubungan Luar Negeri.

Kepercayaan tersebut memperlihatkan kontribusi UM Metro dalam berbagai bidang strategis pendidikan tinggi, mulai dari penjaminan mutu dan sertifikasi hingga pengembangan dosen, publikasi ilmiah, advokasi, dan jejaring internasional.

Ketua APTISI Pusat, Prof. Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi dan inovasi untuk memperkuat perguruan tinggi swasta. Ia berharap kepengurusan baru APTISI Lampung mampu menjadi penggerak pendidikan tinggi swasta yang mandiri, berdaya saing, dan memberikan dampak bagi masyarakat.

Sementara itu, Ketua APTISI Lampung, Dr. Ir. H. Firmansyah Alfian, M.B.A., M.Sc., menyampaikan komitmennya untuk memperkuat kualitas pendidikan tinggi swasta melalui riset, inovasi, dan kerja sama strategis. Ia juga menegaskan pentingnya membangun jejaring antarperguruan tinggi.

“Kolaborasi adalah kunci. Kita harus bersatu untuk menghadirkan solusi bagi tantangan pendidikan di era digital.” Sejumlah Isu Strategis Pendidikan Tinggi Jadi Perhatian. Rangkaian Rakernas APTISI I Tahun 2026 juga membahas berbagai isu strategis yang berkaitan dengan kebijakan dan tata kelola pendidikan tinggi di Indonesia.

Dalam aspek penerimaan mahasiswa, jalur mandiri di PTN menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian dan evaluasi. Waktu seleksi masuk PTN juga menjadi sorotan, dengan adanya gagasan agar proses seleksi dibatasi hingga bulan Juli. Hal tersebut dinilai penting untuk memberikan kepastian waktu bagi calon mahasiswa dalam menentukan pilihan perguruan tinggi.

Tata kelola PTN-BLU dan PTN-BH turut menjadi bagian dari pembahasan, termasuk kebijakan akses pendidikan tinggi yang berkaitan dengan pembiayaan pendidikan. Pendidikan tinggi yang lebih terjangkau dan selaras dengan komitmen pemerintah menjadi salah satu aspek yang turut diperhatikan.

Pada bidang bantuan pendidikan, kebijakan KIP Kuliah dengan batas maksimal desil 4 juga menjadi perhatian. Evaluasi diperlukan agar proses penetapan penerima bantuan dapat mempertimbangkan kondisi calon mahasiswa secara lebih komprehensif.

Isu lain berkaitan dengan Jabatan Akademik Dosen (JAD). Penggunaan indikator Scopus sebagai salah satu ukuran dinilai perlu dikaji kembali dengan mempertimbangkan karakteristik pengembangan keilmuan di Indonesia. Selain itu, terdapat pula perhatian terhadap pengembangan skema guru besar yang lebih beragam sesuai bidang kontribusinya, seperti pendidikan dan pengajaran, pemberdayaan, kewirausahaan, serta bidang keilmuan.

Sistem akreditasi melalui Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) turut menjadi perhatian. Penyederhanaan substansi akreditasi dengan tetap menjaga kualitas serta optimalisasi otomatisasi pada aspek yang relevan menjadi bagian dari pembahasan untuk mendorong tata kelola pendidikan tinggi yang lebih efektif.

Berbagai isu tersebut menjadi bagian dari dinamika pembahasan dalam Rakernas APTISI I Tahun 2026 dan mencerminkan tantangan yang dihadapi perguruan tinggi dalam merespons perkembangan kebijakan pendidikan tinggi. Pembahasan diarahkan pada penguatan kualitas, efisiensi, pemerataan akses, serta peningkatan daya saing perguruan tinggi swasta.

Rakernas APTISI I Tahun 2026 sendiri mengangkat tema “Dari Sai Bumi Ruwa Jurai untuk Indonesia Emas 2045”. Agenda Rakernas mencakup pembahasan kebijakan pendidikan tinggi, laporan APTISI wilayah, sinkronisasi program kerja, serta pembahasan isu-isu strategis nasional.

Keterlibatan delapan perwakilan UM Metro dalam kepengurusan APTISI Lampung menjadi bagian dari komitmen UM Metro untuk terus berkontribusi dalam penguatan pendidikan tinggi swasta. Melalui kolaborasi dan jejaring yang semakin luas, UM Metro diharapkan dapat terus mengambil peran dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang bermutu dan berdampak bagi masyarakat.