Metro – Hujan bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga merupakan rahmat Allah Swt. yang menyimpan banyak pelajaran bagi kehidupan. Pesan tersebut disampaikan oleh Dr. Mokhammad Samson Fajar, M.Sos.I. dalam kultum Zuhur di Masjid Ulul Albab Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro), yang diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan, dan sivitas akademika. Rabu (29/7/2026).
Dalam kultum tersebut, Dr. Samson menjelaskan bahwa Al-Qur'an menyebut hujan sebagai bentuk rahmat Allah. Air menjadi sumber kehidupan bagi seluruh makhluk sehingga manusia patut senantiasa mensyukurinya. Ia mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara yang masih dianugerahi sumber air yang melimpah di tengah berbagai negara yang mengalami kekeringan dan gelombang panas ekstrem.
"Karena hujan adalah rahmat Allah, maka kita harus banyak bersyukur atas nikmat yang diberikan kepada negeri ini," ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengajak sivitas akademika untuk memaknai hujan secara filosofis sebagai inspirasi dalam menjalankan peran di lingkungan pendidikan. Menurutnya, terdapat tiga karakter utama hujan yang patut diteladani, yaitu menyejukkan, menyuburkan, dan menumbuhkan.
Karakter pertama adalah menyejukkan. Sebagai insan akademik, setiap individu diharapkan mampu menghadirkan ketenangan melalui tutur kata, sikap, dan perilaku yang baik. Seorang dosen hendaknya menjadi sosok yang menyejukkan mahasiswa, pimpinan mampu menenangkan orang-orang yang dipimpinnya, dan tenaga kependidikan memberikan pelayanan yang membuat orang lain merasa nyaman.
"Belajarlah dari hujan. Kehadiran kita hendaknya menghadirkan kesejukan, bukan justru membuat orang lain merasa tidak nyaman," pesannya.
Karakter kedua adalah menyuburkan. Hujan mampu menghidupkan tanah yang tandus hingga kembali hijau. Nilai tersebut, menurutnya, harus diterapkan dalam dunia pendidikan dengan cara menyuburkan potensi yang dimiliki peserta didik, rekan kerja, maupun anggota keluarga.
Ia mengingatkan bahwa salah satu bentuk "membunuh" potensi anak bukan hanya secara fisik, tetapi juga ketika orang tua atau pendidik menghambat kesempatan mereka untuk berkembang, termasuk mengabaikan pentingnya pendidikan dan pengembangan diri.
"Jangan sampai kita justru mematikan potensi orang-orang yang Allah titipkan kepada kita. Tugas kita adalah menyuburkan kemampuan yang mereka miliki agar berkembang secara optimal," jelasnya.
Karakter ketiga adalah menumbuhkan. Sebagaimana hujan menumbuhkan tanaman dan menghasilkan berbagai buah-buahan, sivitas akademika juga dituntut mampu melahirkan generasi yang kreatif, inovatif, dan memiliki daya saing. Menurutnya, seorang pendidik tidak boleh hanya ingin berkembang sendiri, tetapi harus mampu mendorong orang lain untuk tumbuh bersama.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan seorang pendidik tidak hanya diukur dari prestasi pribadinya, melainkan dari sejauh mana ia mampu melahirkan generasi yang lebih baik.
Namun demikian, Dr. Samson menekankan bahwa pertumbuhan yang paling penting bukan hanya dalam aspek akademik maupun keterampilan, tetapi juga pada dimensi spiritual. Sebagai institusi pendidikan Muhammadiyah, UM Metro memiliki tanggung jawab menumbuhkan keimanan, akhlak mulia, serta nilai-nilai ukhrawi di samping prestasi akademik.
"Tugas kita bukan hanya menumbuhkan potensi akademik dan nonakademik, tetapi juga menumbuhkan keimanan, akhlak, serta nilai-nilai yang akan menjadi bekal kehidupan dunia dan akhirat," tuturnya.
Ia berharap seluruh sivitas akademika UM Metro mampu menghadirkan lingkungan kampus yang menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya ilmu pengetahuan sekaligus karakter. Kampus hendaknya menjadi ruang yang menyejukkan, menyuburkan, dan menumbuhkan setiap individu yang berada di dalamnya.
Mengakhiri kultum Zuhur tersebut, Dr. Samson mengingatkan bahwa air dapat menjadi rahmat sekaligus musibah. Karena itu, setiap insan hendaknya memilih menjadi "hujan rahmat" yang memberi manfaat bagi sesama, bukan "hujan yang merusak" sebagaimana juga disebutkan dalam Al-Qur'an.
Melalui nilai-nilai tersebut, UM Metro diharapkan terus menjadi lingkungan pendidikan yang tidak hanya melahirkan lulusan unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter Islami, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
(Penulis : Han)