Bahagia dengan Al-Qur’an: Bahagia (Muflihun) Tujuan Manusia

Bahagia dengan Al-Qur’an: Bahagia (Muflihun) Tujuan Manusia

Laman Opini UM Metro – Janji Allah bagi orang yang beriman dan bertakwa adalah kebahagiaan (muflihun). Kata muflihun dalam surat Al-Baqarah ayat 5 adalah follow up dari petunjuk, bimbingan (Hudan) dari Allah SWT.

Orang yang mendapat bimbingan Allah dalam hidupnya dia akan mendapatkan kebahagian di dunia maupun di akhirat. Sekali lagi kebahagiaan bukan terkait materi, akan tetapi lebih pada jiwa yang tenang dan ceria.

Kata muflihun adalah derifasi kata Fallah, yang jika kita kaji semua menunjukkan pada arti kebahagiaan spiritual.

Misal kata Fallah dalam azan, bahwa sholat adalah kebahagiaan orang yang beriman yang melebihi kebahagiaan yang lainya.

Dalam surat Al-Mukminun kebahagiaan juga diawali dengan sholat khusyuk, sedekah, menghindari hal yang sia-sia, menjaga kehormatan dan sholat yang terjaga. Maka dengan itu kebahagiaan akan terbeli dengan Surga Firdaus.

Manusia ketika berharap kebahagiaan material akan mengalami banyak kekecewaan, karena memang standar bahagia yang diberikan adalah kebahagiaan jiwa.

Pergeseran orientasi bahagia bagi manusia yang saat ini fokus pada materi menjadikan mereka manusia yang serakah, dan bahkan menghalalkan segala cara.

Sehingga perlu melakukan pergeseran paradigma berfikir dari materi ke spiritual, sehingga manusia akan mengalami ketenangan hidup.

Dengan kekuatan spiritual manusia maampu mengendalikan kehidupan materi, dan tidak terpengaruh materi. Pola inilah yang Islam ajarkan, bagaimana kebahagiaan jiwa dan akhirat sebagai standar bahagia hidup manusia.

Orang yang berorientasi materi tidak akan mendapatkan kebahagiaan akhirat, sebagaimana Allah berfirman”Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagia (yang menyenangkan) di akhirat. (Al-Baqarah ayat 200)

Dalam Kitab Nasoihul Ibad dijelaskan, Nabi SAW bersabda : ”Sumber segala perbuatan dosa adalah cinta dunia, (dan yang dimaksud dari dunia adalah sesuatu yang lebih dari sekedar kebutuhan ).

Siapa yang begitu gila dengan dunianya, maka itu akan memudaratkan akhiratnya. Siapa yang begitu cinta akhiratnya, maka itu akan mengurangi kecintaannya pada dunia. Dahulukanlah negeri yang akan kekal abadi (akhirat) dari negeri yang akan fana (dunia).” (HR. Ahmad, 4:412. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan lighairihi.)

Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I. (Dosen FAI UM Metro)