Assoc. Prof. Yaya Rukayadi Bimbing Dosen UM Metro Tulis Jurnal Internasional Bereputasi
- 13 Mei 2018
- Posted by: Humas UM Metro
- Category: Uncategorized @id
.jpg)
UM Metro – Dosen kebanggaan Universitas Putra Malaysia (UPM), Assoc.Prof. Dr. Yaya Rukayadi lakukan pembimbingan untuk dosen Universitas Muhammadiyah Metro dalam menulis jurnal internasional bereputasi dalam workshop yang digelar di gedung Pascasarjana, Kampus III UM Metro, Jum’at (11/5/18).
Sebagaimana diketahui, dosen Malaysia yang berasal dari Tanah Sumedang, Indonesia ini telah memiliki 102 tulisan yang terbit di Jurnal Internasional. 77 tulisan diantaranya tidak hanya terindeks scopus namun diakui di seluruh dunia atau yang masuk Journal Citation Report (JCR).
Dr. Achyani, M.Si. selaku Ketua Program Studi Magister Pendidikan Biologi yang memfasilitasi kehadiran Assoc.Prof. Dr. Yaya Rukayadi di UM Metro, menerangkan bahwa dalam setahun Assoc.Prof. Dr. Yaya Rukayadi mampu menerbitkan 14 hingga 15 tulisan di jurnal internasional yang terindeks scopus, bahkan menurutnya ada yang levelnya lebih tinggi dari scopus.
“Tahun lalu beliau (Assoc.Prof. Dr. Yaya Rukayadi) menerbitkan jurnalnya 14 dan tahun ini (2018) beliau telah menerbitkan 15 Jurnal,” ujar Dr. Achyani, M.Si. saat memoderatori pemateri yang pernah mengajar dan peneliti di Yonpei University, Korea Selatan tersebut.
.jpg)
Dosen yang mengajar di Department of food science (Jurusan Ilmu Pangan) di UPM ini sebut workshopnya yang berlangsung seharian tersebut merupakan workshop pembuka. Ia menjelaskan workshop yang biasa ia berikan memiliki rentang waktu 2-3 hari di mana usai workshop, peserta dapat merasakan manfaatnya langsung.
“Kalo ikut workshop harusnya sebelum pelatihan menyerahkan artikelnya dulu sama saya, apapun bentuknya, bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, sehingga nanti kita arahkan bagaimana penulisan yang baik, agar setelah workshop tulisannya bisa terpublish dan tentu ini membutuhkan waktu kurang lebih tiga hari. Makanya kalo hari ini dibilang worshop, ini cuma pengantar. Tapi jangan khawatir, nanti bisa kita atur lagi jadwalnya,” jelasnya.
Ia juga menilai bahwa standar yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia dalam mengajukan kenaikan pangkat melalui jurnal yang terindeks scopus relatif mudah. Meski demikian, menurutnya, disebabkan lemahnya budaya menulis di Indonesia, sehingga standar tersebut dirasa susah.
“Indonesia sebenarnya cukup mudah mengeluarkan standar untuk menembus scopusnya, berbeda dengan Malaysia. Kalo Malaysia menggunakan standar Amerika. Sehingga lebih sulit untuk ditembus dibanding yang digunakan oleh Pemerintah Indonesia. Saya sangat paham itu, karena saya seringkali diminta pertimbangan oleh Dikti untuk ikut menilai dosen-dosen yang mengajukan Profesor,” tukasnya.
Lebih lanjut, penemu xantorizol ini memaparkan, ada tahapan-tahapan dalam menulis yang dapat dijadikan pedoman.
“Bagaimana cara menjadi penulis yang sukses yang pertama adalah supportive, motivating, challenging, dan yang terakhir non-threatening. Kunci menulis itu harus banyak membaca. Saya pernah membaca puluhan jurnal yang terbaru, dari semua yang saya baca, dan saya hanya bisa menuliskan satu paragraph. Menulis itu saya akui memang susah, tapi yakinlah kita bisa,” imbuhnya. (AL-Bayurie¦Hum)
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.