Pemantauan Aplikasi Pupuk Organik Kulit Kopi dan Tumpangsari Tanaman Kopi dan Jahe Merah

UM Metro – Tim Ipteks bagi Desa Mitra (IbDM) Kopi Organik UM Metro kembali langsungkan program pengabdian di desa Srimenanti, kecamatan Air Hitam, Lampung Barat pada Selasa (29/8/17) kemarin. Aplikasi Program pengabdian ini merupakan kali keempat setelah pelatihan pengelolaan limbah kopi di bulan Juli lalu.

Tim IbDM Kopi Organik UM Metro yang beranggotakan Dr. Achyani, M.Si., Dr. Agus Sutanto, M.Si., Eva Faliyanti, M.Pd., Rasuane Noor, M.Sc., dan Fenny Thresia, M.Pd. yang dibantu beberapa mahasiswa Program Pascasarjana UM Metro kali ini bergerak dalam agenda pemantauan aplikasi pupuk organik kulit kopi dan tumpangsari tanaman kopi dan jahe merah yang bekerjasama dengan kelompok tani Kopi desa Srimenanti.

Menurut informasi yang dikutip dari salah satu angota tim IbDM UM Metro, Fenny Thresia, M.Pd. bahwa program pengabdian yang ke-empat ini juga dibarengi dengan serah terima plank nama yang matannya berbunyi kelompok tani kopi organik karya maju datar mayan pekon srimenanti kecamatan air hitam kebupaten lampung barat mitra universitas muhammadiyah metro, Selasa (29/8/17).

Dr. Achyani, M.Si. sebagai ketua  tim menerangkan bahwa program pengabdian ini bermula adanya keluhan para petani kopi di Desa Srimenanti yang menggunakan pupuk Kompos dari kulit kopi yang ditaburkan tanpa perlakuan disekitar tanaman kopi. Namun sayangnya, kulit kopi tersebut ternyata membutuhkan proses dekomposisi dan mineralisasi yang lama untuk bisa diserap tanaman kopi, sehingga petani banyak yang menganggap pupuk kompos tidak berfungsi maksimal dan terlalu lama efeknya yang mengakibatkan para petani kopi lebih menyukai menggunakan pupuk kimia yang dianggap lebih praktis.

“Efek pupuk kimia yang digunakan ternyata malah menurunkan kesuburan tanah yang kian hari kian bertambah, akibatnya petani harus terus meningkatkan jumlah pupuk kimia yang diberikan yang berefek pada tingginya jumlah modal yang harus dikeluarkan untuk usaha tanam kopi. Demikian halnya dengan kondisi tanah sekitar pohon kopi yang dirasa semakin keras dan tidak subur,” tutur Lektor Kepala ini.

Para petani yang sudah lama mengeluhkan permasalahan tersebut akhirnya menemui solusi yang didatangkan oleh tim IbDM UM Metro. Tim IbDM UM Metro yang terdiri lima orang ini menawarkan pembuatan pupuk organik yang menggunakan bahan LCN sebagai Starternya.

“Berdasarkan pengamatan di lokasi IbDM selama kegiatan berlangsung, para petani kopi sangat antusias mengikuti pembuatan pupuk organik yang semuanya berbahan lokal dan tersedia melimpah, seperti kulit kopi, daun dan ranting pohon kopi dan pohon gamal,  rumput liar sekitar kebun kopi serta kotoran kambing dari kandang yang banyak dimiliki oleh para petani kopi. Hasil pupuk organik kulit kopi tersebut dari beberapa parameter fisik seperti pH, kelembaban, tekstur, dan bentuknya sesuai yang diharapkan, sehingga dilanjutkan dengan pengaplikasian pupuk tersebut pada tanaman kopi,” alumni Universitas Padjadjaran ini.

“Agar lebih efektif dan sesuai tujuan kegiatan IbDM, maka pada setiap  kotak pemupukan pada tahap pertama ditanami jahe merah dan tahap berikutnya cabe rawit.  Pemilihan tanaman tersebut berdasarkan pertimbangan ekologi dan ekonomi setelah berdiskusi dengan anggota kelompok tani kopi Srimenanti. Penanaman Jahe merah sebagai tanaman tumpang sari diharapkan dapat menjadi penghasilan tambahan bagi para petani sembari menunggu waktu panen kopi. Pemilihan jahe merah karena dipasaran memiliki harga jual yang cukup tinggi,” tambahnya.

Kegiatan yang berlangsung di desa mitra ini kemudian di tutup dengan foto bersama salah satu anggota kelompok tani kopi organik desa Srimenanti-Lambar, Sugiono yang merupakan mitra IbDM UM Metro. Direncanakan kegiatan berikutnya tim IbDM UM Metro ini adalah upaya untuk melangsungkan program tumpangsari tanaman kopi dengan jahe merah yang akan kembali bekerjasama dengan kelompok petani Karya Maju Desa Srimenanti. (Al-Bayurie¦Hum)



Tinggalkan Balasan