UM Metro Perkuat Pembelajaran Inklusif melalui Pelatihan Teknologi Asistif dan Pemahaman Karakteristik Disabilitas
- 11 Juni 2026
- Posted by: Humas UM Metro
- Categories: Berita Terbaru, Seputar UM Metro
Metro – Universitas Muhammadiyah Metro (UM Metro) melalui Unit Pusat Edukasi dan Layanan Inklusi (PELITA) menyelenggarakan kegiatan “Penguatan Pembelajaran melalui Pemanfaatan Teknologi Asistif dan Pemahaman Karakteristik Pembelajaran bagi Mahasiswa Penyandang Disabilitas” pada Rabu (10/6/2026) di Aula Fakultas Kedokteran UM Metro. Kegiatan ini diikuti oleh dosen, ketua program studi, tenaga kependidikan, serta volunteer pendamping mahasiswa disabilitas di lingkungan UM Metro.
Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber yang memiliki kompetensi di bidang pendidikan inklusif, yaitu Ro’fah, S.Ag., M.A., Ph.D. dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga yang hadir secara daring serta Tri Utami, M.Pd. dari Universitas Muhammadiyah Lampung.
Ketua Unit PELITA UM Metro, Sangidatus Sholiha, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pendidikan inklusif merupakan bentuk nyata komitmen perguruan tinggi dalam memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh mahasiswa tanpa terkecuali. Menurutnya, setiap mahasiswa memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda sehingga diperlukan kesiapan institusi dalam menyediakan layanan pendidikan yang ramah, aksesibel, dan mendukung keberhasilan belajar seluruh mahasiswa.
“Pendidikan inklusif merupakan tanggung jawab seluruh sivitas akademika. Oleh karena itu, diperlukan sinergi dan kolaborasi dari pimpinan universitas, fakultas, program studi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga para volunteer untuk menciptakan lingkungan belajar yang benar-benar inklusif,” ujarnya.
Sangidatus menjelaskan bahwa hingga saat ini UM Metro terus mengembangkan berbagai layanan pendukung bagi mahasiswa penyandang disabilitas, antara lain layanan konseling, layanan psikologi klinis, fisioterapi, asesmen bagi calon mahasiswa baru penyandang disabilitas, serta pelatihan bahasa isyarat dasar bagi volunteer pendamping.
Saat ini terdapat 14 mahasiswa penyandang disabilitas yang sedang menempuh pendidikan di UM Metro dengan berbagai ragam disabilitas, baik fisik, mental, maupun intelektual. Selain itu, pada tahun akademik 2026 UM Metro juga menerima seorang mahasiswa penyandang disabilitas tunarungu yang akan menempuh pendidikan pada Program Studi D-III Sistem Informasi.
Sementara itu, Wakil Rektor III UM Metro, Dr. Ir. Eva Rolia, S.T., M.T., M.KM., dalam sambutannya menegaskan komitmen Universitas Muhammadiyah Metro untuk terus mengembangkan kampus yang inklusif dan ramah bagi seluruh mahasiswa.
“UM Metro berkomitmen menjadi kampus yang inklusif, di mana setiap mahasiswa, termasuk penyandang disabilitas, memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan meraih prestasi terbaiknya,” tegas Eva Rolia.
Dalam kesempatan tersebut, Eva Rolia juga membagikan pengalamannya saat menempuh studi doktoral dan bekerja bersama mahasiswa penyandang autisme yang memiliki kemampuan luar biasa dalam pengembangan perangkat lunak dan pemodelan matematika. Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bahwa setiap individu memiliki potensi yang dapat berkembang secara optimal apabila memperoleh dukungan dan lingkungan belajar yang tepat.
Menurutnya, mewujudkan kampus inklusif tidak hanya berkaitan dengan proses pembelajaran, tetapi juga mencakup penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung aksesibilitas bagi seluruh civitas akademika. Oleh karena itu, penguatan kapasitas dosen melalui pelatihan seperti ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan inklusif di perguruan tinggi.
Melalui pelatihan ini, para peserta memperoleh pemahaman mengenai karakteristik berbagai ragam disabilitas, strategi pembelajaran yang adaptif, serta pemanfaatan teknologi asistif yang dapat membantu mahasiswa penyandang disabilitas mengikuti proses pembelajaran secara optimal.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Universitas Muhammadiyah Metro dalam memperkuat budaya kampus yang inklusif, ramah disabilitas, dan berkeadilan. Ke depan, melalui Unit PELITA, UM Metro juga akan mengembangkan berbagai program pendukung, termasuk kelas pra-kuliah bagi mahasiswa penyandang disabilitas guna membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan akademik, memahami budaya kampus, meningkatkan kesiapan belajar, serta membangun komunikasi yang lebih efektif sebelum memasuki perkuliahan.
Melalui kegiatan ini, UM Metro berharap semakin banyak dosen dan tenaga kependidikan yang memiliki pemahaman dan keterampilan dalam menerapkan pembelajaran inklusif, sehingga setiap mahasiswa memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, berpartisipasi, berprestasi, dan menyelesaikan studi dengan baik. Dengan demikian, UM Metro terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang menjunjung tinggi nilai-nilai inklusivitas, kesetaraan, dan keberagaman dalam dunia pendidikan.