Menyambung Amanah Global Muhammadiyah: Langkah Wakil Rektor UM Metro di Muhammadiyah Australia College

Di balik perjalanan tugas ke Australia, terselip sebuah misi sunyi namun bermakna. Muhammad Ihsan Dacholfany, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Metro, tidak sekadar memenuhi undangan akademik. Ia membawa amanah kaderisasi, diplomasi pendidikan, dan internasionalisasi Muhammadiyah yang telah lama dirintis Persyarikatan.

Dalam lawatannya ke Australia, Ihsan Dacholfany menjalankan mandat Majelis Pembinaan Kader Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai narasumber pada kegiatan Baitul Arqam, sekaligus mengemban misi kampus Universitas Muhammadiyah Metro dalam penguatan jejaring internasional melalui penjajakan kerja sama MoU dan MoA.

Di sela agenda resmi tersebut, Ihsan Dacholfany menyempatkan diri bersilaturahmi dengan Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Australia, yang diketuai Yudhistira Ardhi, serta Pengurus Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) Australia di bawah kepemimpinan Rina Febrina Sarie. Ia juga bertemu dengan Pengurus Ranting Muhammadiyah Queensland, Deni Wahyudi Kurniawan, sebagai bagian dari penguatan ukhuwah diaspora Muhammadiyah.

Silaturahmi itu menemukan maknanya ketika Ihsan Dacholfany berkunjung ke sebuah amal usaha strategis Muhammadiyah yang berdiri jauh dari Tanah Air: Muhammadiyah Australia College (MAC), sekolah Muhammadiyah pertama di luar Indonesia, yang berlokasi di Melton, Melbourne, Victoria, Australia. Di sana, ia bertemu langsung dengan Hamim Jufri, anggota Badan Pembina Harian (BPH) sekaligus Ketua Board of Directors MAC.

 

Sekolah Muhammadiyah di Negeri Kanguru

Didirikan pada 2021 dan mulai beroperasi pada tahun akademik 2022, Muhammadiyah Australia College berdiri di atas lahan seluas 1,5 hektare di wilayah barat Victoria, tepatnya di 1–3 Killarney Drive, Melton. Sekolah ini menyelenggarakan pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP), dengan rencana pengembangan jenjang pendidikan yang lebih tinggi di masa mendatang.

MAC mengadopsi Kurikulum Victoria yang diperkaya dengan nilai-nilai Islam dan Muhammadiyah, seperti pembinaan akhlak, tahfidz Al-Qur’an, serta penguatan Bahasa Arab. Integrasi ini menjadikan MAC bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga jembatan diplomasi budaya, sekaligus aset strategis bagi diaspora Indonesia di Australia.

Muhammadiyah bahkan telah menyiapkan visi jangka panjang. Selain lahan di Melton, Persyarikatan telah membeli lahan seluas 10 hektare di Narre Warren untuk pengembangan pusat keunggulan Muhammadiyah di mancanegara.

 

 

Amanah Muktamar dan Jalan Panjang Internasionalisasi

Berdirinya Muhammadiyah Australia College merupakan mandat Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar (2015), sebagai bagian dari agenda besar internasionalisasi Muhammadiyah. Setelah Markaz Dakwah dan TK ABA di Kairo Mesir, penguatan PCIM-PCIA, Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM), hingga berbagai misi kemanusiaan global, MAC hadir sebagai amal usaha pendidikan strategis di luar negeri.

Menurut Hamim Jufri, Ketua PP Muhammadiyah Dahlan Rais, yang juga Ketua Tim Pendirian MAC, telah merintis pendirian sekolah ini sejak 2017. Dorongan kuat datang dari warga negara Indonesia yang berdiaspora di Australia dan menginginkan pendidikan berkualitas bagi anak-anak mereka, tanpa kehilangan identitas budaya dan nilai keislaman.

“Kelebihan Muhammadiyah Australia College adalah anak-anak belajar dua budaya sekaligus—budaya Indonesia dan budaya Barat. Nilai-nilai luhur tetap terjaga, sambil mereka tumbuh dalam kultur pendidikan Australia,” ungkap Hamim.

Proses pendirian MAC tidak mudah. Selain keterbatasan finansial, PCIM Australia sempat menghadapi penolakan warga setempat dan proses perizinan yang sangat ketat. Hingga akhirnya, MAC memperoleh izin resmi dari VRQA – Department of Education Victoria, menandai pengakuan pemerintah Australia atas keseriusan Muhammadiyah dalam dunia pendidikan.

 

Dari 36 Murid hingga Ratusan Siswa

Setelah resmi beroperasi pada 21 Desember 2021, MAC memulai langkahnya dengan 36 siswa angkatan pertama, sekitar 20 persen di antaranya keturunan Indonesia. Kini, pada tahun ajaran 2025–2026, jumlah siswa telah melampaui 200 orang, didukung oleh 35 guru dan staf profesional. Seluruh guru wajib memiliki sertifikasi Victorian Institute of Teaching (VIT), sesuai standar pendidikan negara bagian Victoria.

Status MAC sebagai sekolah independen dan ko-edukasi menjadikannya terbuka bagi berbagai latar belakang budaya dan bangsa. Meski kepala sekolah berasal dari Singapura, tata kelola tetap berada di bawah Muhammadiyah, dengan Badan Pembina Harian yang diketuai tokoh nasional PP Muhammadiyah, yakni Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Muhammad Sayuti, M.Ed., Ph.D., dan Dr. Taufiqurrahman.

 

Harapan dan Jembatan Masa Depan

Dalam diskusinya dengan Hamim Jufri, Muhammad Ihsan Dacholfany, yang juga Ketua Forum Pimpinan AIK (FORPIM) PTMA PP Muhammadiyah, menyampaikan harapannya agar mahasiswa PTMA yang berkualitas dapat memperoleh kesempatan magang atau praktik mengajar di Muhammadiyah Australia College.

“Ini akan menjadi pengalaman berharga, tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga memahami sistem pendidikan dan budaya Australia,” ujarnya.

Bagi Muhammadiyah, kehadiran MAC bukan sekadar mendirikan sekolah di luar negeri. Ia adalah simbol Islam berkemajuan, wujud dinul tanwir, dan ikhtiar panjang menghadirkan Islam rahmatan lil ‘alamin di tengah masyarakat global yang multikultural.

Dari Melton, Melbourne, Muhammadiyah menyalakan lentera pencerahan, membuktikan bahwa pendidikan, nilai, dan peradaban dapat melintasi batas negara, tanpa kehilangan jati diri.

 

M. Ihsan Dacholfany – MELBOURNE, AUSTRALIA.