Dari Desa Menembus Panggung Akademik: Kisah Perjuangan Akhmad Syaferi, Wisudawan Terbaik Pascasarjana UM Metro dengan IPK Tertinggi
- 2 Desember 2025
- Posted by: Humas UM Metro
- Categories: Berita Terbaru, Prestasi Mahasiswa
Metro – Di tengah barisan wisudawan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Metro, nama Akhmad Syaferi bergema sebagai salah satu yang paling menyita perhatian. Bukan hanya karena gelarnya sebagai Wisudawan Terbaik Tingkat Universitas dengan IPK sempurna 4.00, tetapi karena kisah perjalanan hidupnya mencerminkan arti ketekunan, kesabaran, dan harapan yang tak pernah padam.
Perjalanan akademik Syaferi tidak berawal dari keluarga berada, bukan pula dari keluarga yang akrab dengan kampus atau gelar akademik. Ia tumbuh di Desa Sumbersari, Sekampung, Lampung Timur, sebuah wilayah pedesaan yang sederhana dan jauh dari pusat kota. Sebagai anak pertama dari dua bersaudara, ia memikul harapan keluarga sejak dini. Ayahnya bekerja sebagai pekerja bangunan, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. Pendidikan tinggi pada masa itu adalah sesuatu yang jauh dari jangkauan keluarga kecil mereka.
Namun, orang tuanya selalu menyimpan satu prinsip kuat yang diwariskan kepada anak-anaknya: meski mereka tak bersekolah tinggi, keterbatasan itu tidak boleh menular kepada generasi berikutnya. Prinsip itu terus membekas di hati Syaferi dan menjadi dasar setiap keputusannya dalam menapaki dunia pendidikan.
Memutuskan Studi S2: Antara Mimpi, Biaya, dan Beban Moral
Keinginan untuk melanjutkan studi S2 bukan keputusan yang instan. Di satu sisi, Syaferi memiliki impian untuk memperdalam ilmu Pendidikan Biologi. Di sisi lain, ia menghadapi fakta bahwa biaya pendidikan pascasarjana tidaklah kecil. Sebagai anak pertama, ia juga memperhitungkan beban moral dan tanggung jawab besar untuk menjadi contoh bagi adiknya.
“Hambatan terbesar tentu menyangkut pembiayaan dan beban psikologis sebagai anak pertama. Saya harus berhasil, karena ada adik yang melihat saya sebagai panutan,” ujarnya.
Hal itu membuatnya sadar bahwa melanjutkan kuliah S2 hanya mungkin dilakukan jika ia berhasil mendapatkan beasiswa. Karena itu, ia menaruh harapan pada Beasiswa Unggulan Kemendikbudristek.
Detik-Detik Terakhir Menuju Kesempatan Besar
Perjalanan meraih Beasiswa Unggulan ternyata menyimpan cerita unik. Syaferi mengaku mendaftar di detik-detik terakhir sebelum pendaftaran ditutup. Namun, keterburu-buruan tidak membuatnya lalai. Ia menyusun berkas dengan teliti, menyiapkan esai yang menggambarkan visi pendidikan yang ia yakini, serta menjelaskan kontribusi sosial yang ingin ia berikan setelah menyelesaikan studi.
“Saya tekankan bahwa pendidikan bukan hanya soal gelar, tapi tentang dampak apa yang bisa kita berikan untuk lingkungan,” tuturnya.
Berbagai sertifikat kegiatan yang ia kumpulkan sejak masa S1 menjadi nilai tambah. Berkat kerja keras itu, ia akhirnya dinyatakan lolos dan resmi menjadi penerima Beasiswa Unggulan—sebuah pencapaian besar bagi anak seorang pekerja bangunan.
Sibuk Menjadi Guru Honorer, Tetap Fokus Menjadi Mahasiswa Pascasarjana
Selama menempuh studi, Syaferi tidak hanya berstatus sebagai mahasiswa. Ia juga bekerja sebagai guru honorer, sebuah profesi yang ia jalani dengan penuh tanggung jawab dan kecintaan pada dunia pendidikan.
Rutinitas hariannya padat. Pagi hingga siang mengajar, sore hingga malam mengerjakan tugas, membaca jurnal, dan mempersiapkan penelitian tesis.
“Saya harus mengatur waktu dengan disiplin. Ada jadwal belajar, jadwal bekerja, jadwal mengerjakan tugas. Semuanya harus terorganisir,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan dosen pembimbing agar penelitian tetap berada di jalur yang benar. Di tengah kesibukannya, kesehatan tetap menjadi prioritas. Tanpa tubuh yang kuat, perjuangan itu mustahil dilakukan.
IPK 4.00: Buah dari Kesungguhan, Bukan Keajaiban
Ketika diumumkan sebagai pemilik IPK 4.00, banyak yang terkesan dengan prestasinya. Namun Syaferi memandang pencapaian itu dengan rendah hati.
“Tidak ada rahasia. Saya hanya memberikan yang terbaik, karena saya sadar bahwa ada banyak orang yang bermimpi berada di posisi saya. Itu yang membuat saya tetap disiplin dan bersungguh-sungguh,” katanya.
Menurutnya, IPK 4.00 bukanlah hasil instan. Ia lahir dari proses panjang yang penuh konsistensi, rasa tanggung jawab, serta keyakinan bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasil.
Dari Keluarga Sederhana untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia
Kini, setelah resmi menyelesaikan studi S2 Pendidikan Biologi, Syaferi ingin terus mengabdi sebagai pendidik. Ia bercita-cita menjadi guru yang bukan hanya mengajar, tetapi juga memberi inspirasi seperti bagaimana ia dulu mendapatkan inspirasi dari orang tuanya.
Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa anak desa pun bisa menembus batas, bahwa anak dari keluarga sederhana pun bisa berdiri sebagai wisudawan terbaik, bahwa mimpi besar tak pernah memilih lahir dari keluarga seperti apa.
Perjuangannya adalah cermin dari ribuan mahasiswa lain yang sedang berusaha bangkit dari keterbatasan. Dan hari ini, nama Akhmad Syaferi tidak hanya dikenang sebagai lulusan terbaik, tetapi sebagai inspirasi bagi banyak orang bahwa pendidikan adalah jalan panjang yang selalu layak diperjuangkan.
(Nas/Humas)