Bahagia dengan Al-Qur’an: Kerusakan dalam Bingkai Slogan Perbaikan

Profetik UM Metro – Allah SWT berfirman: “Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi:’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan’,” (Al-Baqarah ayat 11).

Abu Ja’far meriwayatkan dari Ar-Rabi’ ibnu Anas, dari Abul Aliyah sehubungan dengan firman-Nya, “Waiza qila lahum la tufsidu fil ard” artinya janganlah kalian berbuat maksiat di muka bumi. Kerusakan yang mereka timbulkan disebabkan perbuatan maksiat mereka terhadap Allah.

Karena orang yang durhaka kepada Allah di muka bumi atau memerintahkan kepada kedurhakaan (kemaksiatan) berarti telah menimbulkan kerusakan di muka bumi, mengingat kebaikan bumi dan langit adalah karena perbuatan taat. Hal yang sama dikatakan pula oleh Ar-Rabi’ ibnu Anas dan Qatadah demikian Ibnu Katsir menyebutkan.

Kerusakan paling besar bukanlah kerusakan lingkungan karena atom atau nuklir, akan tetapi kerusakan paling besar adalah kemaksiatannya yang dilakukan manusia dalam rangka melawan Allah SWT. Karena ketika manusia telah berani melawan Tuhannya maka mereka sudah tidak memiliki hati kepada manusia dan alam semesta, sehingga alam semesta pun akan dirusak dan manusia akan dianiaya.

Bagi orang-orang yang hatinya sakit, mereka tidak pernah merasa berbuat kerusakan, bahkan mereka adalah orang yang lantang dan vokal melakukan perbaikan di dalam kehidupan.

Dalam teori konsistensi kognitif bahwa manusia akan mengalami perubahan ketika terjadi ketidak konsistenan antara informasi dan prilaku, sehingga orang-orang yang berpenyakit hatinya akan memanfaatkan media informasi untuk memblow up seakan mereka sangat konsisten, walau hakikat realitasnya inkonsistensi yang terjadi.

Kemaslahatan atau perbaikan yang mereka lakukan tak sebanding dengan kerusakan yang mereka sebabkan, akan tetapi karena ketidaktahuan umat, mereka dipercaya sebagai pelaku perbaikan.

Teori konsistensi memprediksi bahwa untuk mengatasi ketidakkonsistenan ini, maka orang akan melakukan berbagai macam hal seperti mengubah sikap atau perilaku sebagai bagian dari aspek kognitif agar kembali mencapai konsistensi atau keseimbangan.

Sehingga dalam praktiknya mereka menutup mata dan hati umat dengan uang dan materi yang mereka miliki, sehingga mereka seakan telah melakukan perbaikan dan perjuangan. Sedangkan hakikatnya mereka mengeruk keuntungan lebih bahkan melakukan kerusakan demi kerusakan.

Kerusakan moral umat dan bangsa yang tidak terasa telah menjadikan umat ini jauh dari nilai-nilai Akhlakul Karimah, sehingga saat ini mereka hanya berjalan menggunakan insting dan fikiran mereka tanpa bimbingan agama.

Kerusakan politik juga banyak disebabkan karena pukauan sang pemberi janji yang tidak menepati janjinya, akhirnya mereka lupa pernah mengatakan bahwa mereka ingin melakukan perbaikan, tapi faktanya menjadikan politik sebagai alat kepentingan syahwat.

Kerusakan dunia ekonomi pun sama, betapa banyak teori yang menjadi ideologi para retoris ekonomi bahwa inilah teori yang akan membawa kemajuan ekonomi, tetapi ternyata standar ganda diberlakukan, pencetus teori ekonomipun tak mau menggunakan teorinya, akhirnya keuntungan demi keuntungan mereka yang mendapatkan, sementara umat mengalami kemunduran ekonomi yang sistemik.

Kerusakan pendidikan pun disebabkan banyaknya sistem pendidikan yang semua mengatakan akan membawa kemajuan, tetapi faktanya umat semakin bingung, tujuan pendidikan mencerdaskan kehidupan bangsa, dibekali IPTEKS dan IMTAQ sudah terlalu berat dicapai.

Insan profetis adalah insan pembawa risalah kemaslahatan, bukan kerusakan. Kemaslahatan tertinggi adalah ketaatan kepada Allah SWT. Mereka menjadikan semua profesi mereka sebagai ketaatan kepada Allah SWT, sehingga mereka menjadikan Allah sebagai Zat yang mengawasi segala aktivitasnya.

Insan profetis adalah pembawa perbaikan dan membawa kelestarian alam, karena mereka adalah Khalifah di muka bumi, yang diamanahi untuk mengembangkan alam semesta, menjadikan lingkungan sosial yang baik, ekonomi berkeadilan, dan politik yang penuh Khidmah.

Konsistensi perkataan dan perbuatan adalah kepastian menuju peradaban yang diharapkan oleh kehidupan.

Penulis : Dr. M. Samson Fajar, M.Sos.I.